Kabut Asap 2026 Mengancam Asia Tenggara, Indonesia Masuk Zona Merah hingga September

Writer: - Kamis, 25 Juni 2026
Jembatan Ampera terlihat di tengah asap yang dipicu oleh kebakaran lahan gambut di Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, pada 12 Oktober 2023. (Xinhua/M. Hatta)

Singapura, Sumselupdate.com – Asia Tenggara menghadapi risiko tinggi terjadinya kabut asap lintas batas yang parah pada sisa tahun 2026. Periode Agustus hingga September diperkirakan menjadi puncak ancaman akibat kombinasi fenomena cuaca El Nino dan Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD).

Peringatan tersebut disampaikan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) dalam laporan Haze Outlook 2026 yang dirilis pada Rabu (24/6/2026).

Read More

Dalam laporan tersebut, SIIA menetapkan status risiko ‘Merah’ atau tingkat risiko tertinggi terhadap potensi kabut asap lintas batas. Ini merupakan kali kedua status tersebut dikeluarkan sejak penilaian tahunan itu pertama kali diluncurkan pada 2019.

Peringatan risiko tinggi itu mencakup empat negara di kawasan, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

SIIA menjelaskan bahwa potensi kembalinya fenomena El Nino yang bersamaan dengan fase positif Dipol Samudra Hindia dapat memicu kondisi cuaca yang lebih panas dan kering di berbagai wilayah Asia Tenggara.

Kondisi tersebut berisiko meningkatkan frekuensi serta intensitas kebakaran hutan dan lahan yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama munculnya kabut asap lintas batas di kawasan.

Selain faktor cuaca, laporan itu juga menyoroti tekanan ekonomi dan pasar global yang berpotensi memperbesar risiko terjadinya kebakaran lahan.

Meningkatnya permintaan terhadap komoditas pertanian dan bahan bakar nabati dinilai dapat mendorong pembukaan lahan baru apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.

SIIA mengingatkan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara terpadu oleh seluruh negara di kawasan guna meminimalkan dampak lingkungan, kesehatan, dan ekonomi akibat kabut asap.

Karena itu, lembaga tersebut mendorong penguatan kerja sama antarnegara anggota ASEAN, peningkatan pendanaan untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta implementasi yang lebih efektif terhadap berbagai kebijakan pengendalian kabut asap.

Menurut SIIA, langkah-langkah tersebut menjadi kunci untuk mengurangi risiko terjadinya krisis kabut asap lintas batas yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian kawasan Asia Tenggara.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts