Iran Bantah Akan Balas Pembatasan Penerbangan dengan Aksi Militer

Writer: - Senin, 28 September 2026
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi berbicara dalam konferensi pers di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York City pada 25 September 2026. (Xinhua/Wu Xiaoling)

Teheran, Sumselupdate.com – Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (Supreme National Security Council/SNSC) membantah kabar bahwa Iran akan melakukan aksi balasan militer sebagai respons terhadap pembatasan penerbangan yang baru-baru ini diberlakukan terhadap negara tersebut.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu (26/9), SNSC menyebut kabar tersebut muncul akibat penafsiran dan kutipan yang dinilai “menyesatkan” terkait pernyataan Sekretaris SNSC Mohsen Rezaei mengenai persoalan transportasi udara.

Read More

Pernyataan tersebut disampaikan untuk meluruskan sejumlah pertanyaan dan ketidakjelasan yang berkembang terkait sikap Iran terhadap pembatasan penerbangan.

SNSC menegaskan bahwa Iran tidak berencana menempuh aksi balasan militer sebagai respons atas pembatasan tersebut.

Menurut SNSC, pemerintah Iran saat ini masih melakukan perundingan secara serius dengan negara-negara terkait untuk mencabut sejumlah pembatasan penerbangan yang dinilai Iran sebagai tindakan “ilegal”.

Meski demikian, SNSC menyatakan terdapat berbagai opsi nonmiliter yang dapat digunakan sebagai tindakan balasan terhadap pihak-pihak yang menerapkan atau mematuhi pembatasan tersebut.

Langkah tersebut, menurut SNSC, bahkan dapat diterapkan terhadap bandara-bandara tertentu apabila diperlukan. Namun, SNSC berharap situasi tidak berkembang hingga tahap tersebut.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent pada Senin (21/9) mengatakan bahwa operasi seluruh maskapai penerbangan Iran di berbagai negara akan ditutup mulai Rabu (23/9).

Bessent juga mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap perusahaan yang tetap menyediakan layanan penerbangan bagi maskapai-maskapai Iran.

Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent mengatakan maskapai Iran yang mendarat di suatu bandara tidak boleh mendapatkan sejumlah layanan, termasuk pengisian bahan bakar, layanan pendaratan maupun penjualan tiket.

Menurutnya, perusahaan yang tetap memberikan layanan tersebut dapat menghadapi konsekuensi berupa dikeluarkan dari sistem dolar AS.

Sementara itu, dalam wawancara dengan stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB TV, pada Rabu (23/9), Rezaei menyerukan kepada negara-negara lain, terutama negara-negara tetangga Iran, agar tidak ikut serta dalam apa yang disebutnya sebagai “petualangan” AS.

Rezaei mengatakan kebijakan tersebut pada akhirnya akan mengalami kegagalan.

SNSC kemudian menegaskan bahwa pernyataan Rezaei tidak dimaksudkan sebagai ancaman aksi militer terhadap negara atau bandara yang menerapkan pembatasan penerbangan terhadap Iran.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts