Palembang, Sumselupdate.com – Selain cerita dari lapangan hijau di Stadion Marora Serui, lawatan menghadapi tim Perseru memiliki kisah tersendiri bagi Sriwijaya FC.
Setelah meninggalkan Hotel Maureen Serui, Senin (21/11/2016) pukul 4.00 pagi WIT demi mengejar penerbangan dari Biak menuju Jakarta yang dijadwalkan pada pukul 10.45 WIT.
Karena menggunakan speed boat, maka rombongan Laskar Wong Kito harus menuju pelabuhan Saubeba yang jaraknya memakan waktu hampir 2 jam.
Setelah tiba pukul 6.00 WIT, Firman Utina dkk harus menunggu lebih lama lagi karena speed boat yang awalnya akan membawa rombongan ke Biak belum tiba.
Setelah menunggu selama 1,5 jam, speed boat pertama tiba dan membawa 11 pemain dan 2 offisial. Pemain yang ikut serta di kapal ini adalah Firman Utina, M Ridwan, Supardi, TA Mushafry, Yogi Triana, Hapit Ibrahim, Rizky Dwi Ramadhana, Wildansyah, Airlangga Sucipto, Yu Hyun Koo dan Mariando.
Awalnya, perjalanan berlangsung lancar dan tidak terlalu berbahaya. Namun karena cuaca buruk yang ditandai dengan turunnya hujan cukup deras, perjalanan berubah seperti mimpi buruk bagi punggawa Laskar Jakabaring ini.
Firman Utina yang berasal dari Manado dan TA Mushafry dari Ternate menjadi leader di kapal pertama ini. Karena dilahirkan di daerah kepulauan, keduanya membimbing rekan-rekannya yang lain untuk menaklukkan besarnya ombak yang harus dilalui sepanjang perjalanan.
Tetapi beberapa pemain tetap tumbang dan mengalami depresi sepanjang perjalanan, seperti Mariando, Yogi Triana dan Hapit Ibrahim.
Bahkan setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 20 menit, kapal yang mereka tumpangi ini sempat mengalami gangguan, yakni mesin mati.
Praktis selama beberapa waktu sembari diperbaiki oleh kapten kapal, speed boat tersebut berjalan pelan dan terombang ambing di tengah laut lepas dengan ombak yang menghujam kencang.
Setelah berhasil diperbaiki, kapal akhirnya dapat berjalan normal dan tepat pukul 10.00 WIT rombongan tiba di bandara Biak dan mengurus tiket kepulangan ke Palembang.
Kisah lebih ekstrem ternyata dialami rombongan speed boat kedua. Kapal ini membawa 3 pelatih, 4 offisial dan 8 pemain.
Karena hanya menggunakan speed boat biasa, berbeda dengan kapal pertama yang memakai kapal milik Basarnas Biak, praktis goncangan ombak di kapal ini jauh lebih terasa kencang.
Beberapa pemain muda seperti Manda Cingi dan Zalnando tidak dapat menahan luapan gugupnya sepanjang perjalanan, begitu juga Andes Adinata pemain muda yang baru lulus dari pendidikan dasar prajurit TNI.
Di tengah perjalanan, bagian umum perlengkapan Sriwijaya FC mendapat tugas ekstra karena air mulai masuk ke dalam kapal.
Jhon Saprol dan Patra akhirnya sibuk menyelamatkan barang-barang bawaan tim. Karena air mulai masuk, akibatnya sistem mesin kapal pun terganggu. Dan akhirnya kapal tumbang sehingga kapten kapal memutuskan untuk berlabuh sebentar ke pulau tak berpenghuni yang berada di sekitar lokasi kapal.
Perbaikan mesin yang memakan waktu selama 30 menit tidak berhasil menolong rombongan kedua ini tiba tepat waktu di Bandara Biak dan manajemen akhirnya memutuskan menginapkan mereka semalam karena penerbangan ke Jakarta sudah tidak ada lagi. (tra)











