HNW: KH Ahmad Sanusi Layak Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

Hidayat Nur Wahid

Jakarta, Sumselupdate.com – Wakil Ketua MPR RI HM Hidayat Nur Wahid (HNW) berharap pemerintah RI segera menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh anggota BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) Indonesia asal Sukabumi dan pendiri ormas Persatuan Ummat Islam (PUI) KH Ahmad Sanusi.

“Sekalipun cukup lama belum terealisasi, tetapi belum terlambat bagi pemerintah untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ajengan Ahmad Sanusi. Beliau memiliki jasa luar biasa dalam perjuangan fisik dan non fisik, menghadirkan Republik Indonesia merdeka bersama para pahlawan dan founding fathers lain. Juga keteladanan beliau menghadapi masalah bangsa,”ujar HNW dalam acara webinar yang digelar DPW PUI DKI Jakarta, Selasa (9/10) dalam rangka menyambut Hari Pahlawan.

Read More

Dikatakan, keteladanan yang dihadirkan KH. Ahmad Sanusi sebagai seorang tokoh agama. Sebagaimana KH Abdul Halim Majalengka sama-sama pendiri PUI, dan sudah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, beliau juga menimba ilmu-ilmu keislaman dari berbagai Pesantren di Jawa Barat. Kemudian melanjutkan belajar dari para Ulama besar di kota Makkah. Bekal ilmu agama yang mumpuni tersebut beliau bawa pulang ke Indonesia, bukan untuk menjauh dari realitas menjadi intoleran, radikal dan eksklusif.

Tetapi justru meningkatkan kepedulian, kebersamaan, dan perjuangan beliau bersama pejuang lain memajukan umat, rakyat, bangsa, terlebih agar Indonesia terlepas dari kekangan penjajahan. Komitmen kebangsaan dan keumatan itu semakin jelas dan terbukti dengan terpilihnya beliau sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), di mana beliau aktif memberikan kontribusi berharga.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 200 pengurus dan warga PUI seluruh Indonesia itu, HNW juga menjelaskan peran kontributif KH. Ahmad Sanusi bagi lahirnya Republik Indonesia, terutama kapasitas beliau sebagai anggota BPUPK.

“Di tengah keberagaman latar belakang suku dan asal daerah para founding fathers Indonesia di BPUPK, maka hadirnya beliau bersama para tokoh ormas dan orpol Islam menjadi kontribusi bernilai bagi BPUPK. Karena di forum inilah, pada periode pertama sidang BPUPK tanggal 29 Mei-1 Juni 1945, KH Ahmad Sanusi mengusulkan agar Indonesia merdeka berbentuk negara Republik. Gagasan ini selaras dengan gagasan para tokoh Islam dan tokoh lain di BPUPK, hingga diputuskanlah bentuk negara Republik yang kita saksikan maslahatnya hingga hari ini, dan hal itu tidak bisa dilepaskan dari jasa dan peran KH. Ahmad Sanusi bersama anggota BPUPK lain,” tegas HNW.

Pada periode sidang kedua yang berjalan cukup alot, kata HNW, saat itu anggota BPUPK berdebat soal naskah Piagam Jakarta yang disepakati Panitia Sembilan. Dalam naskah tersebut, memuat ungkapan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” dan sejarah pun mencatat peran KH Ahmad Sanusi sebagai tokoh kunci episode itu.

“Di tengah perbedaan antara kubu nasionalis-kebangsaan dan kubu nasionalis-keagamaan (Islam), KH Ahmad Sanusi sebagai anggota BPUPK perwakilan umat Islam secara bijaksana mengusulkan skorsing persidangan demi mendinginkan suasana. Dan membuka dialog yang lebih leluasa di luar persidangan. Usulan yang diterima peserta sidang tersebut terbukti berhasil, dan tercapailah kesepakatan BPUPK keesokan hari untuk menerima naskah Piagam Jakarta sebagaimana disepakati Panitia Sembilan yang dipimpin Bung Karno. Tidak berlebihan jika dikatakan, kenegarawanan dan kebijaksanaan KH Ahmad Sanusi telah menyelamatkan persatuan dan masa depan Republik Indonesia,” kata HNW.

Dikatakan, keteladanan KH Ahmad Sanusi sebagai tokoh yang mengedepankan persatuan dan kemaslahatan Bangsa dan Negara tidak hanya terbukti dari peranan beliau sebagai anggota BPUPK. Tetapi juga tertulis pada catatan sejarah pasca kemerdekaan, setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

“Periode pelik tersebut tidak hanya ditandai dengan perjuangan rakyat Indonesia melawan upaya kembalinya penjajah Belanda, tetapi juga munculnya pemberontakan terhadap Republik Indonesia seperti yang dilakukan Kartosuwiryo yang menrikan DI/TII di Jawa Barat. Namun KH Ahmad Sanusi tidak ragu-ragu menolak DI/TII Kartosuwiryo tersebut, dan lebih memilih berkomitmen mendukung Republik Indonesia yang saat itu masih dalam keadaan susah payah mempertahankan keutuhan negara, suatu bukti kecintaan beliau kepada Republik Indonesia dengan persatuan dan kesatuan umat dan bangsa,” jelas HNW.

Karena itu, HNW kembali menegaskan perlunya pemerintah memprioritaskan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KH Ahmad Sanusi, anggota BPUPK yang terbukti berjasa: aktif perjuangkan dan persiapkan Indonesia menjadi negara merdeka. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.