Banyuasin, Sumselupdate.com – Ada fenomena menarik yang terjadi saat ini. Hanya bermodalkan kartu pers, banyak orang sudah merasa menjadi wartawan. Celakanya, kartu pers bisa dibuat siapa saja. Termasuk oleh wartawan jadi-jadian atau abal-abal.
Saking gampangnya membuat kartu pers, hanya berbekal foto diri, orang bisa datang ke tempat fotokopi atau tempat percetakan untuk dibuatkan kartu identitas untuk digunakan tugas peliputan.
Fenomena miris di dunia pers ini dikemukakan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (Berita Dewan Pers ETIKA edisi Mei 2018) seperti dikutip oleh Ketua Seksi Bidang Pendidikan PWI Sumsel, Maspril Aries yang menjadi salah satu narasumber dalam seminar Pengembangan Kemitraan Media Massa yang digelar di Auditorium Pemkab Banyuasin, Selasa (2/4/2019).
Seminar yang mengambil tema ‘Peran Media Massa dan Literasi Digital Dalam Mengawal Program Banyuasin Bangkit, Adil, dan Sejahtera’ dibuka secara resmi oleh Bupati Banyuasin diwakili oleh Asisten 1 Setda Pemkab Banyuasin Dr H Senen Har.
Hadir dalam acara pembukaan tersebut, Ketua PWI Sumsel H Firdaus Komar, Wakil Ketua Bidang Organisasi Anwar Rasuan, dan Wakil Ketua Bidang Cyber dan IT PWI Sumsel Edwar Heryadi.
Turut hadir pimpinan redaksi, pimpinan perusahaan, wartawan baik dari media cetak, media online, dan elektronik serta perwakilan Polres Banyuasin, kejari hingga kalapas Banyuasin.
Menurut Maspril Aries, tidak gampang untuk menjadi wartawan, sebab sesuai UU No 40 tahun 1999 pasal 1, wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Di samping itu, untuk menekuni profesi mulia tersebut, seorang wartawan harus memiliki pengetahuan (knowledge) yang mencakup pengetahuan tentang jurnalisme, pengetahuan umum, dan pengetahuan sesuai bidang kewartawan yang bersangkutan.
“Seorang wartawan juga harus memiliki keterampilan (skills) antara lain mencakup keterampilan menulis, wawancara, riset, investigasi, keterampilan menggunakan peralatan,” kata Maspril lagi.
Maka dari itu, menurut Maspril, seorang wartawan dituntut memiliki sertifikasi seperti halnya profesi lain.
Berkaitan dengan sertifikasi wartawan, Ketua PWI Sumsel H Firdaus Komar saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan seminar itu mengatakan, pentingnya Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Menurut Firdaus, UKW menjadi salah satu program prioritas yang akan dijalankan PWI Sumsel. Ini penting, karena PWI Sumsel sangat konsen dalam memerangi berita yang tidak sesuai fakta atau hoaks.
“Melalui UKW diharapkan wartawan menjadi professional, beritergritas, knowledge dalam menginformasikan suatu berita ke publik,” kata Firdaus.
Firdaus Komar juga mengaku, PWI Sumsel merasa tersanjung dengan Kominfo Banyuasin yang telah melibatkan media dalam kerja sama menginformasikan pembangunan di Kabupaten Banyuasin.
Sementara itu, Bupati Banyuasin diwakili oleh Asisten 1 Setda Pemkab Banyuasin Dr H Senen Har menekankan pentingnya peran media dalam menginfomasikan pembangunan ke masyarakat.
Meski demikian, Senen Har mengingatkan, media untuk menyampaikan informasi ke publik dengan berimbang.
Dikatakannya, informasi berimbang ini bukan berarti pemerintah dalam hal ini Pemkab Banyuasin anti-kritik.
Namun menurut Senen Har, justru sebaliknya. Kritik atas kekurangan itu dijadikan untuk memperbaiki diri agar lebih baik lagi guna mencapai program Banyuasin Bangkit.
Dalam seminar tersebut turut menjadi pembicara Haris Kurniawan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mengangkat tema literasi digital.
Kemudian nara sumber lainnya, Firdaus Komar yang mengangkat topik Kompetensi Wartawan Syarat Meningkatkan Integritas dan Profesionalitas.
Di sela-sela seminar tersebut, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman secara simbolis dengan lima perusahaan pers.
Adapun jumlah perusahaan pers yang bakal melakukan kerja sama dengan Pemkab Banyuasin, menurut Kepala Dinas Kominfo Banyuasin, Erwin Ibrahim, ada 96 media massa baik cetak, online maupun elektronik. (hyd)











