Hal Menarik dari Macron, Pemenang Pilpres Prancis

Senin, 8 Mei 2017

Prancis, Sumselupdate.com – Emmanuel Macron memenangkan pemilihan presiden Prancis, Minggu (7/5/2017), setelah di putaran kedua pemungutan suara menyingkirkan Marine Le Pen.

Dari proyeksi penghitungan suara, Macron, yang politisi tengah pro-Eropa itu, meraih sekitar 65% suara. Sementara calon dari kanan jauh, Le Pen, meraih sekitar 35% suara.

Read More

Dalam pidato kemenangan, Macron mengatakan halaman baru tengah dimulai dalam sejarah Prancis.

“Saya ingin ini menjadi halaman tentang harapan dan rasa saling percaya,” katanya dilansir BBC, Senin (8/5/2017).

Di usianya yang baru 39 tahun, Macron akan menjadi presiden Prancis termuda dalam sejarah. Hal menarik lainnya, ini kali pertama sejak Perang Dunia II, presiden terpilih bukan berasal dari dua partai utama, Sosialis dan Republik yang berhaluan kanan tengah.

Macron diketahui bukan wajah yang sama sekali baru di panggung politik Prancis.

Ia pernah menjadi menteri ekonomi Presiden Francois Hollande, politisi Partai Sosialis. Fakta ini, menurut pengamat politik Francois Raillon, bermakna bahwa Macron sejatinya juga bagian dari kelompok mapan (establishment).

Pada April 2016 ia mendirikan En Marche!, gerakan berhaluan tengah yang ia gunakan sebagai kendaraan politik di pemilihan presiden. Karenanya, bisa saja Macron maju di pilpres dengan tiket dari Partai Sosialis. Namun dengan popularitas partai yang menurun, ia pun perlu kendaraan lain yang segar, yang bisa dirasakan secara langsung oleh rakyat.

Beberapa bulan setelah mendirikan En Marche!, Macron menyatakan mundur dari Partai Sosialis.

Di Eropa, ini bukan gejala baru. Ada gerakan serupa yang telah dibentuk sebelumnya di Italia dan Spanyol.

Gerakan ini pada saat yang sama memungkinan Macron untuk memposisikan diri sebagai tokoh yang dekat dengan akar rumput, bahkan disebut mirip dengan apa yang dilakukan Barack Obama ketika terjun di pilpres Amerika Serikat 2008.

Model pendekatan ini antara lain memanfaatkan kerja relawan di lapangan.

Di sisi lain, keberhasilannya menang di pilpres, kata sejumlah pengamat, tak lepas dari keinginan sebagian besar rakyat untuk membersihkan ruang politik dari tokoh-tokoh lama, tua, dan tradisional.

“Macron bukan 100% orang baru, tapi di usia yang masih sangat muda, 39 tahun, ia dianggap sebagai tokoh yang menyegarkan dibandingkan semua politisi lain,” kata Raillon, seorang pengamat. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts