PALI, Sumselupdate.com – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sedupi, Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, belum lama ini, memperkenalkan suatu Inovasi baru yang murah dan ramah lingkungan.
Inovasi tersebut nantinya bisa digunakan sebagai pengganti cukapara untuk membekukan getah pohon karet.
Dalam prosesnya, alat yang terbuat dari drum bekas kemudian ditambah cerobong asap memakai pipa besi dengan bahan dasar kulit padi yang dibakar di dalam drum tersebut.
Dari situ, bisa menghasilkan uap, kemudian ditampung dalam suatu wadah yang gunanya sebagai pengganti cuka para.
Temuan ini tentu disambut antusias warga terutama petani karet, sebab seluruh masyarakat bisa membuat sendiri alat tersebut dengan biaya murah dan bahan dasarnya pun tidak terlalu sulit didapat.
Bukan hanya uap yang dihasilkan dari alat tersebut, melainkan sisa pembakaran juga bisa dijadikan pupuk organik yang juga cukup diperlukan oleh petani.
Alat tersebut diciptakan berawal dari sulitnya mendapatkan pupuk dikalangan petani di desa Sedupi, karena melihat kulit padi yang hanya dibiarkan berserakan di belakang pabrik penggilingan padi.
Cik Namin, Ketua Gapoktan desa tersebut mengajak beberapa anggotanya untuk membuat pupuk organik dengan cara dibakar dalam sebuah drum.
Namun tidak disangka, selain menghasilkan pupuk organik, pembakaran kulit padi tersebut menghasilkan uap cukup banyak, oleh warga sekitar disebut asap cair yang menetes dari cerobong yang dibuat dari pipa besi.
Awalnya, asap basah tersebut dibiarkan menetes terbuang begitu saja.
Namun setelah diteliti oleh pendamping desa, ternyata kandungan asamnya sangat tinggi, dan begitu diuji untuk mengentalkan getah, ternyata fungsinya tidak kalah dengan cukapara yang selama ini dipakai petani karet untuk membekukan getah latex hasil sadapannya.
“Pembuatan pupuk organik dari kulit padi sudah lama kami lalukan ketika akan memasuki musim tanam padi, soalnya disini susah mendapatkan pupuk, kalaupun ada harganya selangit. Namun setelah kami mengetahui dari PPL dan pendamping desa bahwa uap atau asap cair kadar asamnya tinggi, sekarang kami tidak lagi menggunakan cuka para,” ungkap Cik Namin kepada media ini, Jumat (27/1/2017).
Ditambahkan Amran, kepala desa Sedupi bahwa masyarakat khususnya petani karet di desanya sudah banyak yang mencontoh alat tersebut.
“Petani di desa ini selain bertani karet, tak sedikit juga yang bercocok tanam padi. Jadi bahan dasar disini mudah didapat, dan petani karet sudah ada yang mencontoh alat ini untuk mengambil asap cair untuk keperluan membekukan getahnya,” jelas Amran.
Sementara itu, Toni Candra pendamping desa di 17 desa yang ada di Kecamatan Tanah Abang menginginkan penemuan itu dikembangkan di seluruh kecamatan bahkan di setiap desa yang ada di Bumi Serepat Serasan.
“Alat ini pastinya akan membantu petani karet, karena biaya untuk membeli cuka para bisa dialihkan untuk keperluan lain. Untuk daerah yang tidak ada kulit padi, ampas kayu atau ampas gergaji bisa sebagai penggantinya. Seluruh masyarakat bisa membuatnya, dan kami siap untuk memberikan pelatihan cara membuat alat dan cara menampung asap cair,” ucapnya.
Toni juga berharap dukungan pemerintah Kabupaten PALI untuk mengembangkan temuan alat tersebut.
“Tidak banyak biaya yang dikeluarkan untuk membuat alat ini, hanya saja kami butuh dukungan Pemkab PALI untuk memfasilitasi pelatihan kepada masyarakat. Sebab asap cair ini bebas bahan kimia berbahaya dan ramah lingkungan,selain itu, abu bekas pembakaran bisa dijadikan pupuk organik yang bagus untuk berbagai jenis tanaman,” harapnya. (adj)











