Yaman, Sumselupdate.com – Masyarakat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) patut berbangga. Dua putra terbaiknya sukses meraih gelar sarjana di Universitas Al-Ahgaff, Yaman.
Kedua sarjana muda itu masing-masing Habib Ahmad Rifky Al-Kaff, BSc yang berasal dari daerah Simpang Dogan Perumnas Sako, Palembang, Sumsel.
Habib Ahmad Rifky Al-Kaff, BSc merupakan alumni Ponpes Darul Habib, Kota Sukabumi, asuhan Abuya As-Sayyid Ahmad Naufal Abdullah Al-Kaff, selama 9 tahun kurang lebih ia belajar di sana.
Kemudian, Ustadz Muhammad Hasan Masduki, BSc, yang berasal dari daerah Desa Tirta Mulya, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin.
Muhammad Hasan Masduki merupakan alumni Ponpes Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, dari tahun 2004 hingga 2019.
Kedua putra asli Sumsel ini merupakan dua dari 130 wisudawan yang berasal dari 5 negara, di mana 109 orang dari Indonesia, Malaysia 3 orang, Thailand 1 orang, Arab Saudi 1 orang, dan Yaman 16 orang.
Diketahui wisuda ke-25 Universitas Al-Ahgaff dari Fakultas Syariat dan Hukum digelar di Auditorium utama Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff di Kota Tarim, Hadharamaut, Yaman pada Kamis (29/5/2024) malam waktu setempat.
Prosesi wisuda dengan nama angkatan ‘Pengajak Kesadaran’ dan mengusung tema Amanah Kepada Kebenaran, Berani Kepada Kebatilan, dihadiri Rektor Universitas Al-Ahgaff, Prof Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun.
Turut dihadiri Dekan Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff, Dr Al-Habib Abdullah Awad bin Smith, anggota Majlis Umana’, Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Atthos, dan segenap tenaga pengajar, karyawan, dan tamu undangan serta para mahasiswa lainnya.
Pantauan Sumselupdate.com satu dari dua putra Sumsel itu, Habib Ahmad Rifky Al-Kaff, BSc, tergolong berusia masih muda dengan mendapatkan nilai yang memuaskan.
Rifky panggilan akrabnya berhasil menyelesaikan S-1-nya dari Jurusan Sunah wa Ulumuha, dan merupakan lulusan angkatan pertama dari jurusan tersebut.
Usai mengikuti proses wisuda, Rifky ketika ditanya apa alasan mengambil jurusan tersebut, mengaku merasa kurang dalam mengenal sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
“Saya mengambil jurusan tersebut karena saya merasa kurang dalam mengenal sejarah Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya. Dengan harapan semoga saya lebih banyak mendapatkan ilmu dan mengenal serta paham yang lebih dari jurusan tersebut,” ujarnya dengan sumrigah.
Rifky menceritakan pengalamannya selama menempuh pendidikan di Universitas Al-Ahgaff.
“Sangat banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di sini, sehingga saya tidak dapat menceritakan satu persatu, akan tetapi yang jelas pengalaman yang sangat saya rasakan adalah kemandirian dan keteguhan hati yang jauh dan berpisah dari keluarga serta kedisiplinan di dalam belajar, berinteraksi antar sesama pelajar, dan pendudukan setempat,” ujarnya.
Sedangkan Ustadz Muhammad Hasan Masduki, BSc yang sukses meraih predikat camlaude dari Jurusan Syariat dengan nilai 4,57.
Cak Hasan panggilan akrabnya, ketika ditanya apa pengalaman yang didapatkan selama menempuh program S-1, dia mengaku kuliah bukan hanya sekadar mencari ijazah.
“Saya menemukan kuliah di Universitas Al-Ahgaff, bukan hanya sekadar untuk mencari ijazah dengan hanya didapatkan dengan daftar, bayar, kemudian semua urusan selesai. Melainkan benar-benar mencari ilmu, tidak bisa hanya bermodalkan aktif hadir, karena sistem kelulusan untuk ujian yang sangat ketat, harus benar-benar menguasai materi dari semua mata kuliahnya, satu mata kuliah saja tidak lulus bisa mengulang semester tahun depan, ada 3 mata kuliah asas tidak lulus bisa dipulangkan, dan pengawasan ujian yang sangat ketat, tidak ada istilah contek-menyontek, atau berharap kunci jawaban dari orang lain, kalau sudah urusan ujian orang-orang sudah seperti dihisab, sibuk dengan diri sendiri,” tuturnya panjang lebar.
Kebahagiaan mereka berdua semakin bertambah ketika mereka berdua dipersilahkan MC untuk naik ke atas panggung menerima sertifikat kelulusan dan penghargaan yang diserahkan langsung oleh Prof Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun dan Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Atthos.
Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga mereka khususnya dan masyarakat Sumsel umumnya atas hasil yang diraih keduanya.
“Di zaman sekarang ini perlu kesadaran bahwa mendalami ilmu agama perlu di jenjang yang tinggi, bukan semata-mata untuk mencari cashback materi, akan tetapi memperluas pemahaman diri, dan perlunya belajar tentang agama dari pihak yang kredibel, bukan dari pihak yang ingin memecah belah Islam khususnya dan seluruh umat umumnya dengan segala propaganda yang ditanamkan melalui dan atas nama agama,” pesan Cak Hasan untuk masyarakat Sumsel.
Rifky melanjutkan pesannya, “Yuk, untuk seluruh masyarakat Sumsel umumnya, masyarakat Palembang khususnya jangan pernah bosan untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah agama atau pondok pesantren, karena pendidikan agama adalah pendidikan yang harus didahulukan, jangan pernah merasa bahwasanya anak-anak pesantren akan menyusahkan hidup mereka sendiri, akan tetapi justru akan membawa kehidupan mereka yang lebih bahagia,” ujarnya. (**)
Reporter Sumselupdate.com: Pasha Prawira asal Kertapati, Palembang, (mahasiswa Universitas Al-Ahgaff Tarim Tingkat 3)











