Jakarta, Sumselupdate.com – ‘Muda Merakyat’ itulah gagasan yang dipilih oleh para penggiat demokrasi nusantara terhadap tokoh milenial wilayah barat tentang kriteria tokoh milenial yang dinilai atau dipandang bisa bersaing dalam pemilihan kepada daerah (Pilkada) 2024 akan datang.
Muda dalam perspektif ini adalah tidak hanya umur dibawah 40 tahun tetapi juga muda gagasan atau kebaruan tentang resolusi permasalahan masyarakat,
Hal ini disampaikan oleh oleh Pengamat Politik Sumsel Fatkurohman, S Sos, Selasa (21/3/2023) yang menjadi peserta Kajian Politik dan Literasi Tokoh Potensial Milenial Nusantara di Jakarta.
Berdasarkan data lebih dari 60 persen pemilih pada pilkada 2024 didominasi pemilih muda (17-39 tahun). Maka dari itu tokoh muda merakyat menjadi seksi dalam kontestasi pilkada mendatang.
“Merakyat dalam perspektif Dramaturgi bukan hanya pencitraan di depan panggung atau front stage tetapi juga merakyat dibelakang panggung atau back stage. Hal ini dimaknai sebagai sikap dan gagasannya itu natural dari hasil sikap dan pikiran tokoh tersebut membumi atau mudah dimaknai secara sederhana oleh rakyat pada umumnya bukan hanya pencitraan di depan panggung,” ungkap Bung FK sapaannya.
Menurutnya Tokoh milenial ikut berkontestasi Pilkada mendatang juga tidak mudah karena selalu ditanya gagasan dan pengalaman.
“Mereka harus memiliki kriteria yang cukup baik dalam hal modal sosial dan jaringan politik. Modal sosial dalam hal ini yakni memiliki jejak rekam sosial yang jelas dan masyarakat umum dengan mudah mengingat sang tokoh tersebut. Sedangkan Jaringan politik adalah sumber daya politik yang dimiliki untuk bisa memenuhi kriteria sebagai kontestan pilkada seperti pengurus inti partai politik,” ungkap Pria yang juga Direktur Wilayah Sumsel Lembaga Survei Public Trust Institute ini.
Dalam Kajian Politik dan Literasi Tokoh Potensial Milenial, dibahas sample tokoh potensial Milenial dari Daerah wilayah barat yang di ikuti oleh 12 peserta. Dari Sumsel membahas dua tokoh milenial Gerindra.
Tokoh tersebut yakni Prima Salam, dia berasal dari Kota Palembang yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPRD Sumsel 2019 – 2024 dan Noor Ishmatuddin sebagai Wakil Ketua DPRD Banyuasin (2019-2024).
Dalam kajian, Prima Salam dipandang sebagai salah satu tokoh milenial di Palembang yang berpeluang untuk ikut berkontestasi dan berkompetisi pada pilkada 2024 baik sebagai calon Walikota ataupun Calon Wakil Walikota Palembang. Sedangkan Noor Ishmatuddin dinilai berpeluang maju di Pilkada Banyuasin.
“Potensi itu dapat dilihat dalam rekam jejaknya sebagai pengurus inti salah satu parpol besar. Prima Salam menjadi Bendahara Gerindra Sumsel sedangkan Noor Ishmatuddin sebagai Sekretaris DPC Gerindra Banyuasin,” terang Alumni FISIP Unsri ini.
Mereka juga memiliki jejak rekam politik yang positif diusia muda. Prima sebagai Anggota DPRD Sumsel di usia sekitar 32 tahun hasil pemilu 2019, sedangkan Ismath menjadi Wakil Ketua DPRD Banyuasin di usia 21 tahun hasil pemilu 2019.
“Dengan keunggulan sebagai pengurus inti tentu bisa dikatakan bahwa tokoh tersebut memiliki jaringan politik yang cukup baik apalagi sudah terbukti terpilih menjadi Anggota DPRD dengan raihan suara yang tinggi,” ujarnya.
Bung FK juga menjelaskan dia juga populer di basis yang juga menandakan ada jejak rekam sosial yang baik dimata pemilih baik sebagai politisi ataupun tokoh masyarakat.
Dalam kajian literasi media, Prima terpantau aktif dalam kegiatan jejaring masyarakat religius di Palembang sehingga Karakter basisnya terbentuk dan terlihat jelas dalam beberapa kali jajak pendapat. Begitu juga dengan Noor Ishmatuddin menjadi politisi Milenial yang populer dan aktif menyapa masyarakat seperti tanpa skat-skat sosial.
“Dengan demikian mereka memiliki tarikan elektoral yang positif serta segmen basis yang jelas. Misalkan Prima punya magnet di pemilih religius Palembang, sedangkan Ishmath di kalangan Milenial Banyuasin,” ungkapnya.
Dalam acara FGD ini, Politisi milenial tersebut juga mendapatkan catatan kritis dari peserta dari beberapa daerah seperti Jakarta dan Banten terkait jika nantinya memutuskan maju pilkada.
“Catatan itu berupa masukkan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas tokoh tersebut dan juga ada masukan dan rekomendasi kriteria pasangan ideal berdasarkan kisah sukses Milenial dari berbagai daerah serta angka-angka statistik survei,” terang Alumni Sosiologi Unsri ini.
Dijelaskan juga yang terpenting waktu tersisa lebih kurang 19 bulan harus bisa dimanfaatkan tokoh tersebut untuk meningkatkan elektabilitas seiring dengan momentum menghadapi pemilu legislatif 2024.
“Momentum ini harus menjadi starting mereka jika akan maju pilkada serentak 2024,” terang Fatkurohman, yang juga Sekjen IKA FISIP Unsri. (**)











