Ditpolair Polda Sumsel Amankan Ratusan Kilogram Telur Satwa Dilindungi

Palembang, Sumselupdate.com – Direktorat Polair Polda Sumsel berhasil menggagalkan 115,5 kilogram telur s ketam tapak kuda atau belangkas dari perairan Sei Semilang, Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin dari tangan tiga orang tersangka.

Ketiganya yakni Amat Dani (49) warga Desa Sungsang IV, Nawi (63) warga Lorong Gelora RT2, Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin yang ditangkap pada Rabu (13/12) lalu sekitar pukul 20.30.

Bacaan Lainnya

Satu tersangka lainnya yakni Muhammad Arif (31) warga Lorong Salak, RT12, Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II, Banyuasin, ditangkap satu hari setelah penangkapan Amat dan Nawi, Kamis (14/12) sekitar pukul 9.00.

Penangkapan ketiga tersangka berawal dari kecurigaan anggota polisi Kapal Sei Rambang V-3004 dan Pangkalan Sandar Sei Semilang yang tengah melaksanakan patroli. Aparat melihat aktifitas mencurigakan di sebuah gudang di perairan Sei Semilang.

Saat masuk, didapati tersangka Amat dan Nawi tengah mengepak 15,5 kilogram telur belangkas beserta 59 ekor blangkas yang hendak dijual. Kedua tersangka ditangkap dan diperiksa oleh polisi. Dari hasil pemeriksaan Amat dan Nawi, polisi mendapat pengakuan bahwa telur dan belangkas tersebut hendak dijual kepada tersangka Muhammad Arif.

Polisi segera menangkap Arif keesokan hari setelah penangkapan Amat dan Nawi. Dari tangan tersangka Arif disita barang bukti berupa 100 kilogram telur belangkas siap edar yang hendak dijual. Tersangka Amat mengaku, dirinya dan Nawi mendapatkan Blangkas dari hasil menjaring di perairan Sei Semilang.

“Kami menjaring setiap hari di perairan itu. Selain dapat ikan, kami juga dapat blangkas dan telurnya. Kami pisahkan dan jual ke Arif. 15 Kg telur itu hasil menjaring empat hari,” ujarnya saat gelar perkara, Rabu (20/12/2017).

Amat mengaku tidak tahu bila menjual blangkas merupakan terlarang. Dirinya beranggapan blangkas tidak dilindungi dan bisa ditangkap layaknya ikan sungai lainnya. Amat akan menjual belangkas ke Arif dengan harga Rp5.000 per ekornya. Sementara untuk telur dirinya menjual Rp50.000 per kilogram.

Sementara tersangka Arif mengaku sudah dua kali menjual telur belangkas dan belangkas hidup kepada seorang warga Medan, Sumatera Utara, berinisial YS (DPO). Rencananya telur belangkas tersebut akan dikirim ke Medan menggunakan jasa ekspedisi jalur darat.

“Saya beli dari nelayan seperti Amat dan Nawi sekilonya Rp50.000. saya jual lagi Rp80.000 jadi saya untung Rp30.000. sebelumnya saya sudah dua kali jual ke YS. Masing-masing kirim 60 kilogram,” akunya.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara didampingi Direktur Polair Kombes Pol Robinson Siregar mengatakan,pihaknya menggagalkan penjualan sawa dan telur satwa dilindungi belangkas. “Belangkas adalah satwa dilindungi. Sehingga perburuan terhadapnya dilarang dan termasuk tindak pidana,” ujarnya.

Pihaknya masih mengejar satu tersangka lain yang merupakan warga Medan, Sumut yang berperan sebagai penadah. Pihaknya pun akan menelusuri alur distribusi penjualan satwa yang dimanfaatkan sebagai obat kuat tersebut, mulai dari sumber permintaan hingga pemenuhan.

Apakah ada indikasi permintaan dari luar negeri, pihaknya masih menelusuri hal tersebut. Pihaknya menyita barang bukti berupa 59 ekor belangkas, 54 hidup dan lima diantaranya mati serta 15,5 kilogram telur belangkas dari tersangka Amat dan Nawi. Sementara dari tersangka Arif disita 100 kilogram telur belangkas.

“Untuk ketiga tersangka akan diancam dengan pasal 21 ayat 2 Undang-undang tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan diancam dengan hukuman lima tahun penjara,” ujarnya.

Sementara Kepala Urusan Perlindungan Pengamanan Kawasan Konservasi BKSDA Sumsel Muhammad Andreansyah mengatakan, perburuan ketam tapal kuda memang kerap terjadi karena seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari daging, darah, dan telurnya.

“Telur dan dagingnya dikonsumsi, sedangkan darah digunakan untuk obat. Untuk perburuan telur sendiri biasanya pada saat musim tertentu saja. Namun apabila dibiarkan, dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem ketam tapal kuda tersebut,” ujarnya.

Andre meyakini, permintaan untuk pembelian telur tersebut terindikasi¬† datang dari Negeri Jiran Malaysia, karena di Indonesia sendiri belum ada kebiasaan u tuk mengonsumsi telur belangkas. “Di sana harga telur ketam tapal kuda¬† tinggi, bisa mencapai Rp500.000 per kilogramnya,” katanya. (tra)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.