Demi Beli Kuota Internet, Dua Siswi SMA di Pagaralam Ini Rela Menjadi Buruh Harian Pemetik Kopi

Wulan, seorang siswi SMA Negeri di Kota Pagaralam, Sumsel menjadi buruh harian pemetik kopi demi membeli smartphone guna mengikuti sistem belajar daring, Rabu (12/8/2020).

Laporan: Novrico Saputra

Pagaralam, Sumselupdate.com – Pandemi virus Corona atau Covid-19 membuat sekolah tidak bisa melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan tatap muka.

Bacaan Lainnya

Demi memutus mata rantai penularan Covid-19, pemerintah memberlakukan aturan sistem KBM dengan daring dan luring. Namun sistem ini tidak selalu dapat diterapkan dengan baik oleh siswa.

Lantaran ada siswa yang kesulitan mendapatkan sinyal bahkan ada juga siswa yang tidak mampu membeli kuota internet.

Tidak hanya itu, ada juga siswa yang tidak mempunyai smartphone dan laptop untuk bisa mengikuti sistem belajar daring dan luring tersebut.

Seperti yang dialami dua siswi SMA Negeri di Kota Pagaralam bernama Pika Puspikasari dan Wulan.

Ketidakmampuan kedua orangtua mereka membeli kuota internet dan perangkat gawai dalam melaksanakan pembelajaran daring, memaksa kedua siswi ini menjadi buruh harian pemetik kopi di kebun milik warga di Desa Curup, Kelurahan Muara Siban Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam.

Kesulitan kedua siswi diungkapkan mereka kepada Sastri Pitrianti AmKep yang merupakan Paurkes Polres Pagaralam.

Wulan, seorang siswi SMA Negeri di Kota Pagaralam, Sumsel menjadi buruh harian pemetik kopi demi membeli smartphone guna mengikuti sistem belajar daring, Rabu (12/8/2020).

 

Sastri Pitrianti, AmKep bertemu kedua siswi ini saat survei untuk persiapan kunjungan bakti sosial anggota Bhayangkari Polres Pagaralam di Desa Curup, Kelurahan Muara Siban, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Rabu (12/8/2020).

“Saya saat libur sekolah terpaksa harus menjadi buruh harian pemetik kopi dengan upah Rp50 ribu per hari milik tetangga. Hasilnya untuk membeli kuota HP,” ujar Rika, seorang siswi tersebut.

Menurut Rika, dia mulai bekerja sejak pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB.  “Kami bekerja selama lima jam dan akan mendapat upah sebesar Rp50 ribu saja,” ungkapnya.

Jika Rika menjadi pekerja buruh harian pemetik kopi untuk membeli kuota, lain dengan Wulan. Dirinya sengaja menjadi buruh harian pemetik kopi dengan tujuan untuk membeli smartphone.

“Upah yang saya terima saya kumpulkan untuk dapat membeli HP. Karena selama ini saya harus pinjam Hp teman agar bisa belajar online,” kata Wulan.

Menurut Wulan, orangtuanya sangat keberatan dengan sistem belajar online yang saat diterapkan pemerintah.

Wulan mengatakan, dengan sistem tersebut harus butuh biaya banyak seperti untuk membeli kuota internet dan lainnya.

“Wulan belum punya Hp jadi harus pinjam punya tetangga. Untuk itu kami bekerja sebagai buruh petik kopi dengan harapan uang upah yang didapat bisa dikumpulkan untuk membeli HP,” ujar Wulan polos. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.