Cerpen: Ujian Perut

Ilustrasi

Kali ini, Roban duduk saja sambil memandangi seorang tukang dan empat orang buruh bangunan mengerjakan proyek pantauannya sebagai seorang mandor. Ia mulai digerayangi kesadaran baru setelah membayangkan kondisi para pekerjanya yang membanting tulang di bawah terik matahari, tanpa makan dan minum di tengah puasa. Ia khawatir telah berlaku zalim kepada mereka dengan menerapkan sistem kerja dan penggajian yang tidak manusiawi.

Kemarin-kemarin, Roban memang tak menerima puasa sebagai alasan mereka untuk bersikap lemah. Ia terus mengomandoi mereka supaya bekerja dengan keras agar pembangunan rumah sepupunya yang dipercayakan kepadanya itu rampung sesuai target waktu, dengan hasil yang memuaskan. Ia tentu tak ingin sang tuan datang dari luar negeri dan menyaksikan kalau hunian tersebut belum rampung, atau selesai dengan hasil yang mengecewakan.

Bacaan Lainnya

Sebelum-sebelumnya, Roban memang kukuh bahwa puasa bukanlah kilahan yang masuk akal untuk menurunkan produktivitas kerja. Secara tegas, ia menekankan kepada pekerjanya untuk menunaikan tugas tanpa peduli pada lapar dan dahaga. Dengan tidak memedulikan keluhan, ia memaksa mereka berpeluh selama jam kerja. Setidaknya, ia merasa telah cukup bijaksana dengan memangkas satu jam durasi kerja mereka, sehingga hanya sampai jam empat sore.

Tetapi kenyataannya, hari demi hari selama bulan puasa, para pekerjanya terlihat makin loyo. Mereka tampak mengalami penurunan daya dan semangat. Karena itu, Roban jadi waswas. Ia khawatir kalau sepupunya datang mengecek progres pembangunan, tetapi target perampungan malah meleset jauh dari waktu yang ditentukan. Ia tentu tak ingin kalau sang bos mencapnya sebagai mandor yang gagal dan tidak becus mengarahkan tukang dan para buruh bangunan.

Akhirnya, demi memacu kinerja para pekerjanya, Roban membuat kebijakan baru. Ia memutuskan untuk menggantungkan jadwal pengupahan mereka pada target yang khusus. Ia baru akan memberikan upah yang biasanya ia berikan sekali seminggu jikalau mereka berhasil menyelesaikan porsi pembangunan tertentu. Semisal, setelah mereka menyelesaikan penyusunan batu bata dan genting, pemasangan ubin dan plafon, atau pemlesteran dan pengecatan.

Tetapi kebijakan itu rupanya lekas mendapatkan interupsi. Sembilan hari berlalu setelah ia tak lagi menyerahkan upah kepada para pekerja, kemarin, selepas jam kerja, Kardi datang menghampirinya dengan wajah yang murung, “Pak, boleh tidak aku mengambil upahku lebih cepat? Aku perlu uang untuk kebutuhanku sekeluarga sehari-hari.”

Dengan sikap cuek, Roban membalas keras, “Tidak boleh. Kan sudah kubilang kalau aku akan memberikan upah kepadamu dan teman-temanmu setelah kalian merampungkan pemasangan plafon.”

Kardi pun kecewa. “Ya, aku tahu, Pak. Tetapi aku sangat butuh uang untuk ongkos belanja, terutama untuk keperluan buka dan sahurku sekeluarga.

Roban malah melengos dan menggeleng-geleng.

“Kalau menu berbuka dan sahurku tidak terpenuhi dengan baik, ya, akibatnya, aku juga tidak akan punya tenaga yang cukup untuk bekerja dengan baik, Pak,” sambung Kardi, terdengar memelas.

“Ah, alasan. Kau saja yang lemah dan maunya bermalas-malasan,” dakwah Roban dengan wajah judes. “Jangan salahkan puasa. Lihat, aku juga berpuasa, tetapi aku masih cukup bertenaga sampai berbuka. Padahal, aku pun tetap bekerja memantau kalian, bahkan sering turun langsung membantu kalian.”

Akhirnya, nyali Kardi ciut untuk kembali membujuk.

“Pokoknya, kau dan teman-temanmu harus menyelesaikan target kerja sebelum meminta pembayaran upah. Kalau kalian mau dibayar cepat, ya, kalian mesti menyelesaikannya dengan cepat,” tegas Roban.

Kardi pun mengangguk pasrah dan pergi dengan raut kecewa.

Terhadap Kardi dan pekerja lainnya, Roban memang merasa mesti bersikap keras demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai mandor. Ia jelas tak ingin mengecewakan sang bos, sebab ia bisa saja kehilangan pekerjaan itu dan kembali menjadi pengangguran. Apalagi, sebelumnya, ia memang begitu lama menanti untuk mendapatkan proyek sebagai tukang bangunan. Pasalnya, akibat pandemi, daya perekonomian masyarakat melemah untuk melakukan pembangunan.

Dan bekerja sebagai mandor pembangunan rumah, sungguh merupakan jalan rezeki yang menyenangkan bagi Roban. Selain karena beban kerjanya lebih ringan ketimbang bekerja sebagai tukang, ia juga memperoleh upah yang jauh lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta istri dan seorang anaknya. Karena itulah, di bulan puasa ini, ia senantiasa buka dan sahur dengan hidangan yang berkelas, sehingga ia jadi semangat bekerja dan berpuasa.

Menjadi mandor pembangunan rumah yang berlangsung hingga bulan puasa, memang keberuntungan bagi Roban. Ia tak mesti menguras tenaga dan pikiran dengan turun tangan dalam pengerjaan seperti saat ia selaku tukang bangunan. Pekerjaannya enteng, sebab ia hanya perlu memantau pekerjaan para pekerja. Energinya pun terjaga selama berpuasa, sebab ia menyantap hidangan enak dan bergizi saat buka dan sahur dengan berbekal upah yang menggiurkan.

Keadaan yang menyenangkan itu pun kembali menghiasi kebahagiaan Roban malam tadi. Ia begitu bersemangat menyonsong waktu sahur untuk melahap hidangan top yang telah disediakan istrinya. Ia kemudian tertidur pulas menjelang tengah malam setelah berniat bangun sahur sendiri, sebab istri dan anaknya telah pulang ke kampung halaman saat sore. Ia jelas tak ingin lalai dan melewatkan makan sahur demi menghindari deraan lapar dan dahaga selama berpuasa.

Namun sial. Karena dasarnya yang selama ini suka ketiduran sangat pulas dan kesulitan bangun sahur tanpa dibangunkan sang istri, Roban akhirnya melalaikan alarm yang ia pasang di ponselnya. Ia baru terjaga saat memasuki waktu subuh. Ia pun tak sempat lagi bersantap. Maka dengan perasaan kecewa, ia pasrah melanjutkan puasanya tanpa sahur. Ia lalu bangun untuk sekadar memanasi ancangan hidangannya, atau memasukkannya ke dalam kulkas.

Sampai akhirnya, kini, lewat tengah hari, Roban merasa perutnya keroncongan dan tenggorokannya kering kerontang. Untuk pertama kalinya di bulan puasa ini, ia harus berjuang melewati beratnya ujian lapar dan haus. Bagaimanapun, sedia tidak sedia, ia mesti bersabar melewati detik demi detik yang terasa mengulur hingga waktu berbuka tiba. Sebagai orang dewasa, ia tentu akan malu dan kehilangan harga diri jika ia membatalkan puasanya.

Dan akhirnya, saat ini, di tengah aktivitasnya sebagai mandor, Roban jadi bercermin pada perasaannya yang berat merampungkan puasa. Perlahan-lahan, ia pun makin larut dalam keinsafan barunya. Ia makin kasihan melihat para pekerjanya yang menguras tenaga mereka di tengah ujian menahan lapar dan dahaga. Ia khawatir kalau-kalau kebijakan kerja dan penggajiannya telah membuat mereka menjalani hari-hari puasa yang menyiksa.

Akhirnya, dengan perasaan iba, Roban pun menghampiri Kardi saat waktu istirahat kerja. Ia lantas bertutur dengan suara yang lemah, “Nanti, setelah selesai kerja, kau dan teman-temanmu boleh mengambil upah kalau kalian mau.”

“Tetapi target kerja kami kan belum tuntas, Pak?” tanya Kardi, terheran.

Roban tersenyum kecil. “Tak apa-apa.”

Kardi pun semringah dengan raut yang menyiratkan tanda tanya.(**)

Informasi Penulis:

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.