Cerpen: Tobatnya Sang Mami

Ilustrasi.

WAJAH perempuan setengah baya itu tampak sumringah bak baru mendapatkan warisan yang besar. Suara musik yang menggetarkan ruangan menambah kebahagiaan di wajah tuanya.

Para pengunjung tampak asyik dengan aksinya. Ada yang menari, ada yang berjoget, ada yang mengandeng perempuan muda. Semuanya berbaur dalam satu kenikmatan semu.

Read More

Perempuan setengah baya itu tampak sibuk mengatur para perempuan muda yang berdandan ala bidadari.

Di wajah para perempuan muda itu tersimpan sejuta asa. Ada yang bahagia. Ada yang bermimik sendu. Bahkan ada yang berwajah seolah-olah tak berdosa.

“Kalian harus bisa memberikan pelayanan prima kepada pelanggan. Buat para pelanggan bahagia dan betah di tempat ini. Kalau para pelanggan bahagia, uang akan mengalir deras ke kantong kalian. Mengerti?,” wejangan perempuan setengah baya itu.

Para perempuan muda yang menerima wejangan terdiam. Seolah-olah mengerti dengan wejangan perempuan setengah baya itu. Dan mareka pun membubarkan diri usai mulut perempuan setengah baya itu berhenti berbicara.

Sudah tiga tahun perempuan setengah baya yang biasa disapa Mami itu mengelola tempat hiburan malam yang terletak di sudut kota yang baru mulai menggeliat.

Pengalamannya sebagai perempuan malam di kota besar membuat otaknya berekpresi dengan mengelola tempat usaha hiburan malam berbekal sisa-sisa uang yang dimilikinya usai tercampakkan sebagai penggoda rembulan.

Tak ada niatnya untuk berhenti dan tobat dari kegiatan penggoda malam yang bertaburkan bintang dan bercahayakan rembulan malam.

Tak ada sedikit pun, kendati begitu banyak kawan, sahabat bahkan orang terdekatnya yang menasehatinya.

“Apa kalian tahu bagaimana penderitaan saya saat dipaksa melacur saat saya masih ingin bersekolah?,” tanya dengan nada geram saat mendengar wejangan dari para kerabat dan sahabatnya.

“Kehidupan saya hancur karena melacur dan menjadi wanita penggoda. Semuanya karena saya miskin,” sambungnya dengan nada ketus.

Jawaban perempuan setengah baya itu mengheningkan suasana pertemuan malam itu. Hanya desah yang keluar dari mulut para sahabatnya. Tak kuasa melawan keinginan mami, sahabat mereka.

Di kala masih muda Mami dikenal sebagai perempuan dengan tingkat kecantikan yang berkelas. Wajah bak artis sinetron. Badannya yang tinggi semampai dibalut kulitnya yang putih bersih membuatnya menjadi bunga desa.

Tak heran banyak pemuda desa yang mengidolainya. Kaum laki-laki tergila-tergila dengan kecantikan Mami. Baik tua dan muda mengaguminya.

Tak terkecuali Pak Kades yang telah beristri. Beragam usaha dilakukan Pak Kades untuk mencuri hati mami. Namun jalan selalu menemui buntu. Selalu gagal.

Mami masih sangat ingat, bagaimana usai pulang sekolah dirinya dijemput staf desa di halaman sekolahnya dengan alasan Ibunya sakit.

Dengan rasa keterpaksaan yang berbalut kecurigaan, Mami akhirnya menyerah. Dengan berat hati, terpaksa ikut naik mobil staf desa yang menjemputnya.

Namun bukan arah pulang ke rumah jalan yang mereka dilalui. Mobil yang mereka tumpangi menuju ke sebuah penginapan.

Di halaman penginapan kelas melati itu telah menunggu Pak Kades dengan wajah sumringah. Wajah penuh kemenangan. Wajah penuh syawati yang bergelora.

Sia-sia usaha Mami melawan kodrati syahwat Pak Kades yang telah menggelora hingga ke ubun-ubun.

Malam itu dirinya harus melepaskan kehormatannya diri sebagai martabatnya sebagai perempuan. Walaupun Pak Kades bersedia untuk memperistrinya, namun Mami selalu menolaknya.

Dendamnya kepada para lelaki, termasuk Pak Kades mengaliri darah nuraninya. Usai malam jahanam itu, Mami bertekad untuk meneggelamkan dirinya sebagai wanita penggoda.

Hampir semua lelaki dewasa di desa, digodanya. Dan buntutnya mareka harus bentrok dengan para istrinya. Bahkan ada yang harus bercerai dengan para istrinya.

“Saya telah bertekad untuk menjadi penggoda para lelaki hidung belang itu,” ungkapnya kepada teman-temannya.

“Apakah itu jalan terbaikmu dalam mengarungi hidup yang singkat ini,” sela seorang sahabatnya.

Mami terdiam. Dendam kesumat yang terekspresi dalam otak besarnya menggerakkan jiwanya untuk selalu dendam dan dendam kepada semua lelaki.

Siang itu usai suara azan dzuhur berkumandang dari corong pengeras suara masjid terdekat, wajah Mami mengekspresi kegelisahan yang seolah-olah tak terperihkan.

Ada rasa sesal yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa penyesalan diri yang mengalir ke dalam seluruh tubuhnya sebagai manusia.

Dirinya tertegun saat menyaksikan seorang anak buahnya, wanita penggoda itu shalat. Hatinya tergetar. Jiwanya terusik. Nuraninya tergoda.

“Walaupun saya penuh noda dan dosa, namun sebagai umat manusia saya harus berbakti kepada Sang Pencipta dengan shalat,” ujar anak buahnya.

“Apakah dosa saya dan kita diampuni Sang Maha Pencipta?,” tanyanya dengan nada suara bergetar.

“Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pemaaf atas segala perbuatan hambanya selama hambanya ingin bertobat,” ungkap anak buahnya.

Para pengunjung tempat hiburan malam di sudut kota gempar. Bagaimana tidak heboh, saat mareka hendak memuaskan nafsu syahwatinya di tempat hiburan malam itu, terpampang tulisan di bangunan sederhana itu bahwa lokasi tempat hiburan itu tutup dan akan dijadikan pesantren.

Sementara di kejauhan malam terdengar suara Mami sedang memohon ampunan atas segala dosanya kepada Sang Maha Pencipta atas segala kesalahannya.

Air matanya menetes membasahi ubin masjid. Mengalir hingga membasahi seluruh tubuhnya yang berbalutkan mukena.

Malam makin merentah dengan kebeningan cahaya melankolisnya. Sebening hati Mami menatap masa depannya yang baru dengan kehidupan baru sebagai pengelola pesantren.

Dan bukan sebagai manusia pendendam. Apalagi sebagai penggoda malam yang bercahayakan taburan bintang di langit yang eksotik. (**)

Karya: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali.

 

Toboali, September 2021

 

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.