KEMARIN selalu kulihat luas hamparan pasir, sekarang di hadapanku hamparan laut yang sangat luas.
Di teras masjid Terapung ini adalah hari terakhirku menutup rangkaian haji dan umrahku.
Selepas shalat sunat dan sujud syukur kudawamkan rangkaian dzikir memuliakannya. Terpaan sepoi angin menerpa wajah lelahku menambah rasa nikmat dan syukur.
Esok aku akan tiba di tanah tumpah darahku. terbayang Pempek kapal selam, Lenggang, kopi kental pahit, dan keluarganya telah menantiku. “Aku dendam” desisku.
“Wak hayo kita bergegas” ajakan rombongan para prajurit tauhid yang baru saja menunaikan tugas ilahi
Di dalam bus menuju bandara kurogoh saku, memastikan sisa uang satu juta tuk jaga diri dan melampiaskan dendamku.
“Eh wak ngapain masih bawa sisa uang mending disodaqohkan di tanah harom kemaren atau beli oleh-oleh,” seru sang ustad muda.
“Benar juga,” gumam wak. “Di depan ada mall kita kan berhenti sejenak, ah wak mau ngopi ustad sekalian beli coklat buat oleh-oleh”
“Mangga wak” seru ustad. Tiadalah lama perjalanan berlanjut sesampai bandara heboh menyeruak.
Hari ini durian masak pada runtuh, uang satu rupiah setara dengan satu dolar AS.
Wak Ghehat memutuskan untuk belumlah pulang ke Tanah Air, ia ingin mengunjungi negeri para nabi lainnya dan melihat jejak kebesaran Islam masa lampau bahkan belahan dunia lainnya.
“Selamat tinggal saudara-saudaraku”. Wak mengubah rute perjalanan, ia membeli tiket menuju Istambul Turki yang hanya berharga seribu.
Tidak kurang 10 orang tukang sapu bandara yang berpapasan diselipkan angpao seribu. Orang yang melihat pun kaget dan berdecak ”Oh!..amazing”.
Sang wak tidaklah hirau. Sesampai di Turki sang uwak minta diantar sopir taxi ke hotel yang terbaik itu pun tarifnya hanya 700 per malam.
Lebih kecil dari tip yang diselipkan wak Ghehat pada sang sopir dan OB yang rata-rata 1.000. Jelaslah tanpa diminta sang sopir dan OB siapa melayani dan mengantar wak kemanapun.
Setelah menjejaki Aya Shopia, Blue Mosque, dan berlayar menyusuri selat Bosporus.
Di atas kapal Fery sang uwak berkhayal menjadi bagian pasukan Mehmet el Fatih meneropong kota Konstantinopel dan memerintahkan kapal memasuki Golden Horn untuk menembakkan meriam ke benteng-benteng kokoh Romawi Timur yang lebih dari seribu tahun belumlah dapat ditembus dan kata Rasul hanya sebaik-baik pasukan dan sebaik pemimpinlah yang kan dapat meruntuhkannya seperti runtuhnya istana Kisrah Persia (negara penguasa dunia yang pertama).
Oh di sebelah mana aku shalat subuh berjamaah bersama El Fatih sebagai azimat pamungkas runtuhnya kesombongan Romawi di belahan dunia bagian timur.
Dengan nyaman dan aman kujejaki jengkal Islambul ini, kuteruskan perjalanan menyusur Eropa bagian timur.
Masilah tebal lembaran rupiah hasil panen penjualan kopi, gumam wak “Terime kasih bak umak yang sudah mewarisi kebon kawe”.
Bulgaria, Ceko Slovakia, Rumania, Swedia arsitek bangunannya sungguh menakjubkan.
Oh ternyata Sultan Sulaimanlah sang cicit El Fatih yang membukakan cakrawalah pemikiran di negara eropa bagian timur (negerinya Mozart) ini.
Tibalah di gerbang negeri Huren (Rusia). Langkah kaki wak terhenti tuk bersilahturahmi dengan Tsar di istana merah.
Ia ingat akan nyamuk malaria yang pernah menggigitnya di Gunung Dempo, timbunan salju kan membuat sang malaria penyakit naga bonar ini marah besar.
Dari kejauhan si uwak hanya menatap kota Bukhara Uzbekistan tempat lahirnya sang imam agung (Bukhari). Pesawat membawanya ke Spanyol.
“Oh…Andalusia” gumam wak setelah menapakkan kaki turun dari pesawat. Seperti biasa lembaran ribuan ditabur terkhusus tuk tukang sapu, sopir taxi, OB, kalau mencari pengemis dan fakir miskin agak susah di sini.
Cordoba, Granada, Sevilla denganlah mudah dijejak. Rasa hormat dan kagum wak tercurah pada sang Raja
Abdurrahman di awal abad ke 10 telah mendirikan sebuah universitas di bumi Andalusia ini.
Dalam lamunan sang wak wajah Avecenna (ibnu Sina), Aben Jaldun (ibnu Khaldun), ibnu Rusyd terbayang mengikuti langkah “.oh engkaulah guru besar umat di muka bumi ini” desis wak Ghehat.
Cukuplah puas wak menyusuri warisan Islam di negeri ini. Dan sekarang waktunya nyantai di Tribun VIP Nou Camp menyaksikan Barcelona sedang berlaga dengan sang musuh berbuyutan Real Madrid, cukuplah puas sang pujaan Messi menjaringkan si kulit bundar.
Sehabis menyaksikan euforia di Nou Camp si uwak nyantai mengisap cerutu ditemani secangkir kopi di sudut Plaza Cattalunya, sembari menyeruput kopi hitam yang kental desau lembut alunan dari mulut wak Ghehat menyanyikan lagu Cintaku di Barcelona.
Tiada disangka Fariz RM datang dengan gitarnya menemani si uwak bernyanyi “c`mon Don ghehat” sapanya.
Lirik demi lirik terumbar dengan penuh hayat dan semangat…. tiba-tiba sang ustad muda menepuk lembut bahu wak Ghehat.
“Wak-wak bangun wak kita sudah mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin” “Alhamdulillah” ungkapnya saat mata wak terbuka Fariz RM telah meninggalkannya
Di dalam ruang dingin dari pesawat dan Bandara wak merogoh saku. Tersisa selembar uang seratus ribu rupiah dan hanya cukup tuk membeli sebuah kapal selam dan kopi hitam yang kental. (**)
Karya: H Iril Yuni (Pendiri Rumah Berbagi)











