Cerpen: Perempuan Kiriman Tuhan

Ilustrasi.

LELAKI itu terus melangkah. Sementara malam makin pekat. Awan tampak hitam di langit. Sebuah pertanda akan hujan. Bintang gemintang pun enggan hadir hiasi malam. Langkah lelaki itu makin kencang.

Dan tiba-tiba byurr. Hujan datang. Gemerciknya warnai tanah. Jalanan tampak basah kuyup. Tak terkecuali lelaki itu. Seluruh badannya dibanjiri air hujan. Tapi dia terus melangkah dan melangkah.

Read More

Lelaki itu terbangun saat mentari sedang bersinar dengan garangnya. Sinarnya amat panas. Lelaki itu memandang ke semua sisi ruangan.

Dan dalam hati bertanya. Di mana dia sekarang berada? Seingatnya semalam dia masih gagah berjalan melawan hujan yang deras. Tapi? Ketukan pintu membuyarkan ingatannya.

Segurat wajah muncul dari balik pintu. Senyumnya amat menawan.

“Sudah bangun rupanya. Saya buatkan kopi, ya?” sapa seorang perempuan dengan nada bertanya.

“Maaf. Mbak siapa? Aku ada di mana?” tanya lelaki itu.

“Oh, ya. Semalam Mas terkapar di jalanan. Bersama beberapa warga saya angkat Mas ke rumah. Daripada Mas tidur di jalanan,” jawab perempuan itu.

Lelaki itu cuma terdiam. Tak menjawab. Hanya membisu. Suaranya tersekat ditenggorokannya yang masih terasa sakit.

Sudah tiga malam lelaki yang bernama Kudel tinggal di rumah perempuan itu. Dan sudah tiga malam pula dirinya menjadi tanggungan perempuan itu. makan minum dan rokoknya menjadi tanggungan perempuan itu.

Lelaki itu tampaknya malu. Sebagai lelaki dia malu harus hidup dari seorang perempuan yang tak dikenalnya. Sosok asing baginya. Apalagi dia teringat dengan nasehat Ibunya sewaktu dirinya masih kecil.

“Lelaki itu harus jantan. Jangan hidup di ketiak istri. Lihat ayahmu. Pekerja keras,” nasehat ibunya.

Dan sudah tiga malam pula selama tinggal di rumah perempuan itu, dirinya selalu melihat perempuan itu pergi saat malam mulai merentah.

Dan pulangnya pun saat matahari mulai terbangun. Dandanannya pun amat seronok. Seperti perempuan malam yang sering ditemuinya dulu ketika dirinya terseret arus deras kehidupan malam yang membuatnya menjadi kaum fakir.

Dan selama tiga malam pula dirinya hanya bertemu perempuan itu saat senja mulai menyapa penghuni bumi.

Mareka berdua puntak pernah bertegur sapa. Hanya saling tersenyum sebagai tanda basa-basi.

Sementara saat perempuan itu akan meninggalkan rumahnya, di meja makan sudah tersaji makanan.

Dan sebagai lelaki dia sangat malu. Martabat dirinya sebagai lelaki amat rendah. Tapi apa boleh buat. Dirinya tak mampu berbuat apa-apa kecuali menikmati apa yang tersaji dalam lintasan hidup.

Melawan? Percuma. Dirinya tak memiliki apapun. Harta satu-satunya adalah baju yang kini melekat di tubuhnya saja.

Sudah bagus perempuan itu mau menampungnya. kalau tidak bisa-bisa dia menjadi penghuni kolong jembatan. Bahkan menjadi incaran para Satpol PP untuk diuber bak binatang di rimba yang ganas.

Malam itu rembulan bersinar dengan terang benderang. Cahaya indahnya menerangi bumi. Kudel pun mengikuti jejak langkah perempuan itu.

Rasa penasaran yang ada dalam otak kanannya membuat dia mengikuti perempuan itu. Setidaknya dia ingin menjawab rasa penasarannya.

Dan Kudel amat kaget. jantungnya hampir copot. Perempuan itu masuk dalam sebuah diskotik. Sebuah tempat yang dulu sering dikunjunginya saat kantongnya masih tebal.

Senja itu menjelang magrib, Kudel melihat perempuan itu menatap senja dari balik jendela rumahnya.

Tampaknya perempuan itu asyik menikmati senja yang sedang bercengkrama dengan warna-warni pelangi di ujung langit. Sebuah karya yang maha agung dari Sang Pencipta.

“Tampaknya senja memiliki arti khusus bagi Mbak,” sapa Kudel.

Perempuan itu kaget dengan sapaan Kudel. Namun seraut senyuman ditebarkannya dari wajah cantiknya. Seolah-olah ingin menutupi keresahan hatinya.

“Eh, Mas. Sudah baikkan badannya, Mas,” ujar perempuan itu.

“Alhamdulillah. Terima kasih atas bantuanmu Mbak. Kalau nggak ada pertolongan Mbak, mungkin saya sudah berhadapan dengan ulat-ulat tanah dan menjadi mayat tanpa identitas yang bisa dijadikan kelinci percobaan para ahli,” sahut Kudel.

“Sebagai manusia kita harus saling mengasihi dan tolong menolong. Saya buatkan kopi, ya,” ujar perempuan itu.

Tekad Kudel untuk menyunting perempuan itu tampaknya sudah bulat. Perempuan itu adalah perempuan yang didambakannya.

Bagaimana tidak, di tengah keresahan jiwanya, dia mampu menjadi pahlawan bagi orang lain meskipun sejuta derita tertanam dalam hidupnya.

Padahal Kudel tahu bagaimana derita perempuan itu soal bayaran SPP anaknya di desa yang sudah tiga bulan belum dilunasi.

Kudel tahu pula bagaimana ibu perempuan itu sedang tergolek sakit di rumah. Sementara biaya berobat belum mampu dia kirimkan.

Setidaknya membaca surat-surat yang dikirimkan keluarga perempuan itu, membuat Kudel yakin dia adalah perempuan yang dikirimkan Tuhan untuknya.

Setidaknya apa yang dilakukan perempuan itu untuk dirinya selama di rumah ini membuat dirinya yakin tentang perempuan itu.

Usai shalat subuh Kudel tak memejamkan matanya lagi. Dia ingin menunggu perempuan itu pulang. Ada sesuatu yang hendaknya dikatakannya.

Kudel ingin melamar perempuan itu sebagai istrinya. Soal status perempuan itu sebagai perempuan malam bukan alasan bagi Kudel untuk tidak menyuntingnya.

Bagi Kudel perempuan itu sungguh istimewa dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya selama ini yang selalu menjadikan kantongnya sebagai transaksi.

Derit pintu depan terbuka. Seraut wajah letih menyeruak dari balik pintu. Melihat Kudel, perempuan itu menebar senyum.

Sebuah senyuman yang amat menawan dan menggetarkan hati Kudel. Senyuman yang sudah lama didambakannya sebagai lelaki dewasa.

“Pagi amat bangunnya, Mas,” sapa perempuan itu. “Saya buatkan kopi, ya,” sambungnya sembari menuju dapur.

“Tak usah Mbak. Aku sudah ngopi. Nih gelasnya. malah masih ada sisa kopinya,” jawab Kudel.

Perempuan itu kaget setengah mati saat mendengar Kudel ingin meminangnya. Jantungnya hampir lepas.

“Saya ini perempuan malam Mas. Tak pantas bersanding dengan Mas,” jawab perempuan itu menjawab keinginan Kudel.

“Mbak. Manusia itu bukan dilihat secara kasat mata dari profesinya. Bukan sama sekali. Tapi hatinya,” ujar Kudel sambil menunjuk arah hatinya. Perempuan itu terdiam.

“Kalau Mbak bersedia menerima lamaran saya, pagi ini kita berangkat ke desa Mbak. Mohon izin dengan keluarga dan anak Mbak,” lanjut Kudel.

“Insya Allah, saya akan menyayangi Mbak dan anak Mbak sebagaimana saya mencintai diri saya sendiri. Saya kan berusaha menjadi lelaki sejati untuk Mbak,” janji Kudel.

Sinar mentari pagi yang cerah menghantarkan dua sejoli ini menuju sebuah tempat baru bagi keduanya.

Cahaya gerbang Idul Fitri membentangi alam raya. Suara takbir terdengar indah dan sangat merdu merelegiuskan semesta.

Rengkuhan tangan kekar Kudel di pundak perempuan itu tampak sangat erat. Sebagai bukti bahwa Kudel akan menjaga perempuan itu untuk masa depannya. masa depan anak-anaknya.

Dan tentunya masa depan mareka sebagai manusia baru di tempat baru. (**)

Pengirim: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali
Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.