Cerpen : Lelaki yang Melamar Dendam

Ilustrasi

Karya : Rusmin Toboali

Rembulan memucat. Kerlap-kerlip bintang bersembunyi di balik awan gelap. Langit kusut masai. Erangan wanita muda itu gemakan malam. Rambutnya tergerai. Hujan deras yang membanjiri bumi lelapkan para penghuni. Mareka asyik berselimut malam. Hindari rasa dingin yang datang menyerang tubuh. Kesunyian melanda Kampung.

Read More

Di kejauhan malam, sebuah gubug terlihat bergoyang. Angin malam yang kencang seolah-olah ingin merobohkan gubug reot di pematang sawah. Di dalamnya dua manusia berbeda kelamin telesuri malam dengan gejolak manusia dewasa. Hantarkan dinginnya malam dengan saling bersekutu.

Malam itu mareka jadikan sebagai simbol kegelapan nurani. Sebagai rumah kegelapan. Mareka saling memberi jiwa raga dengan disertai desahan. Rintihan terus bergemuruh sebagai ornamen malam. Dan hujan pun reda usai membanjiri bumi.

“Aku akan bertanggungjawab,” ujar lelaki itu sambil menyalakan sebatang rokok.

Keringat mengucuri sekujur badannya. Terlihat rasa kelelahan dalam wajahnya. Seolah-olah usai kerja keras.

“Kamu memang harus bertanggungjawab,” ujar wanita itu sambil berbenah.

Langit semakin gelap. Dengus kucing hutan menambah kegairahan malam yang makin kusut masai ditelan nafsu syawati tak bertuan.

Lelaki muda itu seolah tak percaya. Nuraninya sebagai seorang manusia yang bermartabat bagaikan dihantam petir di siang bolong. Rasa malu sebagai lelaki mengaliri sekujur tubuhnya. Keringat mengucur ditubuhnya. Rasa tanggungjawab yang dia katakan malam itu sebagai lelaki sejati ditolak.

“Mohon maaf. Kami sekeluarga telah memutuskan. Anda tak layak menyunting putri kami,” ujar seorang lelaki setengah baya saat lelaki itu menyampaikan rasa tanggungjawabnya.

“Kami telah menjalin raga, Pak. Kami telah menuntaskan hasrat sebagai manusia. Dan sebagai lelaki saya bertanggungjawab,” ujar lelaki tu.

“Sekali lagi, saya mewakili keluarga besar yang terhormat ini menolak anda. Dan silahkan anda cari wanita lain,” jawab pria itu.

“Dan saya mohon anada segera tinggalkan rumah ini,” sambung lelaki lain yang hadir dalam pertemuan itu dengan narasi mengusir.

Dengan tertunduk malu, lelaki muda itu pun segera meninggalkan rumah tua itu dengan penuh luka. Jiwanya diliputi rasa duka yang teramat dalam. Hatinya amat kecewa.

Lelaki muda itu patah arang. Jiwanya terkoyak-koyak. Kelaki-lakiannya seolah-olah terpotong. Rasa dendam memuncrat dalam otak besarnya. Balas dendam menghantui hari-harinya.

“Kamu jangan bertindak bodoh, bro. Menyakiti hati seorang wanita yang begitu mencintaimu sama saja engkau menghianati kasih sayang Ibumu sebagai perempuan,” nasihat temannya.

“Saya malu. Harga diri saya sebagai lelaki terkoyak-koyak. Saya terhinakan,” jawab lelaki muda itu dengan nada keras. Penghuni alam pun menoleh.

“Saya sebagai sahabat sangat memahami perasaanmu. Apakah rasa malumu sebagai lelaki harus ditebus dengan derita seumur hidup? Apakah dendammu terbalaskan dengan kamu menanam benih dalam rahim wanita yang menyayangimu setulus hati? Saya tahu, Ayu amat mencintaimu. Apakah itu cara kamu membalas kebaikannya?,” tanya sahabatnya.

Langit cerah. Kerlap kerlip bintang dilangit menghiasi jagad raya. Sebuah ornamen alam yang sangat indah dan mempesona.

Tiga tahun lamanya lelaki muda itu berjuang melawan ganasnya Kota. Tiga tahun lamanya dia melawan kerasnya rimba Kota. Dan tiga tahun pula lamanya, sebagai lelaki dia harus memendam rindu yang tak terperikan. Sebuah rindu yang akan terlampiaskan dengan segera. Ya, segera terlampiaskan.

“Saya akan datang melamarmu wahai Cah Ayu,” bisiknya dalam batin.

“Saya harus dapatkan dirimu, wahai wanita ayu,” kembali batinnya berbisik.

“Dan aku akan taklukkan keluargamu dengan kerja kerasku selama ini. Aku datang untuk melamarmu,” jerit batinnya dengan bahagia.

Kedatangan lelaki muda itu kembali ke Kampung halamannya menghebohkan para penghuninya. Datang dengan segudang kemewahan ala kota membuat semua orang Kampung menjadikan dirinya sebaagi narasi pembicaraan.

“Hebat Akang. Pulang bawa mobil,” ujar seorang Dul saat warga sedang berkumpul di Warkop.

“Kini Akang bukan Akang yang dulu lagi. Penampilannya up to date. Modern ala orang Kota,” sambung warga yang lain.

“Perjuangannya tak sia-sia. Kerja kerasnya membuahkan hasil.Tapi apakah keluarga Ayu masih bersedia menerimanya sebagai menantu? Kan dulu keluarga Ayu menolaknya,” tanya seorang warga.

Tak ada yang menjawab. Semua membisu. Hening. Suara kendaraan pun seolah terhenti.

Di rumahnya yang kini mulai direnovasi, lelaki muda itu menarasikan keinginannya kembali untuk melamar Ayu. Kepada Ibunya dia menceritakan dendam hatinya. Kepada keluarganya dia mengisahkan rindunya. Dan kepada alam dia curahkan asmara hatinya tentang keinginannya untuk melamar Ayu.

“Apakah keluarga Ayu masih bersedia menerima lamaranmu, Nak,” jawab Ibunya.

Insya Allah, Bu. Kita harus coba kembali,” jawabnya bernada optimis.

“Apakah kamu bersedia menerima jawaban dari keluarga Ayu nantinya? Walaupun pil pahit harus kamu telan di rumah itu kembali,” tanya Ayahnya.

Insya Allah Ayah. Saya siap dengan segala resikonya. Sekalipun pil pahit kedua harus saya terima. Insya Allah saya siap,” jawabnya kembali.

Malam cerah. Rembulan memamerkan sinarnya yang terang ke bumi. Mobil terbaru yang dikemudikan lelaki muda itu bersama keluarganya lintasi jalan kampung yang mulai mulus. Kerlap kerlip bintang di langit seolah-olah ikut iringi lelaki itu dan keluarga menuju tujuan. Dan hanya dalam hitungan menit, keluarga lelaki muda itu telah tiba di rumah tua milik keluarga Ayu.

Dan lelaki muda dan keluarganya kaget karena dihalaman rumah Ayu, warga sangat ramai. Sementara suara Yaasin terus bergemuruh dari dalam rumah.

Sakralkan malam. Religiuskan alam.

“Ada apa ya Pak di rumah itu?,” tanya lelaki muda itu kepada seorang warga yang hendak masuk ke pekarangan rumah itu.

“Ada yang meninggal,” jawab warga itu.

“Siapa, Pak?,” tanya lelaki muda itu lagi dengan rasa penasaran.

“Ayu, anaknya pemilik rumah,” jawab lelaki itu dengan langkah bergegas masuk ke dalam rumah.

Dan lelaki muda itu pun langsung ambruk. (**)

Toboali, 19 November 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.