Cerpen: Lelaki yang Diludahi Narasi Malang

Lelaki muda itu bergegas meninggalkan sebuah rumah yang masih dipenuhi orang-orang. Langkahnya cepat bak para koruptor yang memasuki kantor aparat hukum menghindar dari kerumunan wartawan. Sinar rembulan yang temaram menyinari wajahnya. Tampak sebuah raut muka kecewa dan menahan sebuah rasa kesal yang tak terperikan.

Penolakan yang disampaikan keluarga wanita yang telah mengikat hatinya selama ini bukan hanya menampar wajahnya, namun mengoyak harga dirinya sebagai lelaki. Martabat dirinya sebagai lelaki terkucilkan. Rasa malu menjalari seluruh tubuhnya. Bahkan kemaluannya pun terasa tercabik-cabik dengan narasi penolakan itu.

Read More

“Mohon maaf, Pak. Kami sekeluarga telah bermusyawarah dan akhirnya memutuslan untuk tidak dapat menerima pinangan saudara sebagai calon suami ponakan kami,” ungkap salah satu ponakan wanita yang dicintainya. Dan jawaban itu membuatnya tak berdaya. Tak ada apologi. Harga dirinya sebagai lelaki tercabik-cabik. Hanya diam yang bisa dia dilakukannya. Nafasnya seolah-olah sempat terhenti. Sementara wanita yang dilamarnya pun tak bisa berbuat banyak. Hanya termangu di sudut ruangan tamu yang menjadi tempat pertemuan malam itu. Sementara dari sudut bola matanya terlihat airmata yang menetes.

Sebagai lelaki dewasa, dirinya sudah pantas mencari pendamping hidup dan anak-anaknya usai istrinya wafat. Dan ketika seorang wanita dari seberang yang bernama Aisyah beekerja di tempatnya, lelaki yang bernama Rafik itu seolah mendapat energi baru dalam kehidupan asmaranya. Maklum selama ini Rafik dikenal sebagai lelaki religius dan terkesan pendiam. Bahkan terkesan rendah diri.

Aisyah tidak cantik sebagaimana bintang-bintang sinetron yang sering dilihatnya di televisi. Tapi wanita ini memiliki sifat menarik dan mudah bergaul. Suara tawanya yang renyah membuat Rafik sangat ingin meminangnya untuk ibu bagi anak-anaknya. Apalagi jabatannya sebagai Kepala Kantor sebuah perusahaan susu ternama, dimana Aisyah juga bekerja di sana sebagai staff, membuat hubungan keduanya mengalir, dari hubungan atasan dan bawahan akhirnya menjelma sebagai hubungan istimewa dua anak manusia. Hubungan dua anak manusia dewasa yang berlainan kelamin ini, akhirnya mengikat keduanya dalam gairah manusia dewasa. Harga diri Rafik pun tereskalasi ke langit. Aisyah benar-benar membuatnya tampil sebagai lelaki sejati.

Pada suatu malam yang bening dan dibalik indahnya sinar rembulan, kedua anak manusia itu memacu diri dalam gairah syahwati. Keduanya menjadikan malam yang bening sebagai malam kesesatan dengan mengumbar gairah kelamin hingga menyemburkan gairah sebagai manusia dewasa. Keduanya terlelap dalam selimut asmara.

“Aku akan bertanggungjawab terhadap apa yang kita lakukan malam ini. Aku akan bertemu dengan kedua orang tuamu untuk meminangmu sebagai istri dan ibu dari anak-anakku,” janji Rafik usai keduanya melampiaskan nafsu syahwati sebagai manusia.

“Terima kasih Pak. Aku siap menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu,” ucap Aisyah dengan nada lirih. Dan sebuah kecupan mesra dilontarkan Rafik dari bibirnya terhadap kening Aisyah yang masih berkeringat.

Hubungan asmara dua anak manusia ini akhirnya tercium oleh keluarga Aisyah. Mareka pun berang. Sejuta diksi serapah terlontar dari mulut bau mareka hingga ke angkasa. Mengejutkan kunang-kunang. mengagaetkan bintang gemintang yang sedang berwarna-warni menghias jagad raya.

“Apa yang kamu harapkan dari lelaki duda pelit itu. Apa? Harta?” tanya paman Aisyah dengan nada geram.

“Apa kamu pikir kamu akan mendapatkan hartanya? Kamu jangan bermimpi,” sambung bibinya.

“Sudah puluhan tahun kami bergaulnya dengan lelaki itu. kami sudah hafal watak dan karakternya. Dan mohon camkan kata-kata kami ini. Kami tidak setuju dengan lelaki itu. Titik,” tandas Pamannya dengan nada keras.

“Dan kami akan mengawini kamu dengan lelaki di Kampung kita. Walaupun lelaki di Kampung kita itu tidak bekerja,” lanjut Pamannya.

Usaha Aisyah untuk menjernihkan persoalan tak pernah digubris keluarganya. Diksi berupa penjelasan yang dibeberkannya tak pernah didengarkan keluarganya. Bahkan Ayah dan Ibu dan kakak serta adik-adiknya pun terprovokasi dengan hasutan diksi bau dari pamannya.

“Kalau Pamanmu tak setuju, kami pun sebagai orang tuamu tak bisa merestui hubungan kalian. Selama ini Ayah menitipkan dirimu kepada Pamanmu. Dia pengganti Ayah saat kamu di perantauan,” ungkap Ayah Aisyah.

“Apalagi Pamanmu paham betul dengan watak dan karakter lelaki pilihanmu. Dan kamu ingat bagaimana nasib adik-adikmu kalau suamimu pelit? Apa kamu bisa membantu adik-adikmu untuk meneruskan sekolahnya,” tanya Ayahnya dengan narasi kebencian. Aisyah akhirnya tak bisa berbuat banyak. Hanya berpasrah kepada nasib. Dirinya telah gagal mempersuasi tentang lelaki yang telah merengut kehormatan kepada keluarganya.

Dan ketika Rafik mengutarakan niatnya untuk melamarnya, Aisyah sempat menahannya. Melarangnya untuk datang ke rumah Pamannya. Ribuan argumen dilontarkannya. Tapi sebagai lelaki sejati Rafik tak mau dibilang sebagai perusak anak orang. lelaki beranak tiga itu ingin mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya terhadap Aisyah. Hanya di depan wanita itu dirinya bermartabat dan berharga diri.

“Saya akan datang melamarmu. Saya akan mempertanggungjawabkan dosa yang telah kita lakukan,” ujar Rafik.

“Walaupun keluarga saya menolaknya,” tanya Aisyah.

“Sebagai lelaki sejati saya siap menerima risiko itu. Termasuk penolakan dari keluargamu,” jawab Rafik dengan narasi heroik menenangkan suasana hati Aisyah yang gelisah bak koruptor yang sedang membaca surat panggilan dari aparat hukum.

Malam semakin jauh. Cahayanya makin redup. Angin malam pun enggan berhembus. Kerlap-kerlip binatang dilangit menjadi saksi perjalanan pulang Rafik dari rumah Aisyah. Sejuta kekecewaan yang didapatnya menghantarkannya menuju rumahnya. Dan terbayang diwajahnya tatapan mata tiga anaknya yang sedang menanti berita gembira untuk mareka. Tentang ibu mareka yang baru yang akan mengasihi mareka hingga dewasa.

Toboali, Minggu 21 November 2021
(**)

Karya : Rusmin Toboali

Pengirim : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.