Cerpen: Lelaki Penjual Kesedihan

Ilustrasi.

LELAKI itu datang ke kampung kami. Aroma kesedihan mulai hadir menghiasi kehidupan Kampung yang damai dan tenteram.

Aura kesedihan menyusup dalam nurani para penghuninya. Siang dan malam. Menggerogoti rongga terdalam para warga.

Bacaan Lainnya

Menenggelamkan mereka ke dalam kesedihan pula. Para penduduk seolah-olah larut dalam kesedihan yang amat menyayat jiwa.

Kesedihan yang amat menusuk kalbu. Kesedihan kini menjadi bagian dari keseharian  para warga.

Romansa kesedihan harus mereka rasakan walaupun mereka sendiri belum pernah menikmati sesuatu yang bernama kesedihan.

Kesedihan itu baru hilang ketika lelaki itu menikmati nasi padang dengan lahapnya di warung milik Mbak Tri di pinggir kampung.

Lelaki itu amat menikmati setiap butir nasi padang dengan lauk rendang yang tersusun rapi di meja bersama lauk lainnya.

Ada senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya usai meninggalkan warung nasi padang yang amat kesohor itu.

Aroma kesedihan kali ini menjangkiti kehidupan warga di kecamatan. Tiap hari mareka dirundung kesedihan yang amat menyayat hati.

Di tiap sudut jalanan kecamatan, kesedihan menjadi bahan pembicaraan. Disetiap pertemuan para warga kesedihan menjadi tema pembicaraan.

Kesedihan sudah mengepung hidup para warga. Tak terkecuali tukang becak, ojek hingga petinggi Kecamatan. Mareka diserang syndrome kesedihan tanpa ampun.

“Siapa sih yang membawa kesedihan di tempat tinggal kita ini,” tanya seorang warga yang sudah merasa kesal dengan kesedihan.

“Paling mereka yang sedih ditinggalkan istri tercinta,” jawab warga yang lain.

“Heran. kesedihan kok tak pernah habisnya,’ sambung yang lain.

“Tukang becak di sudut kantor kecamatan saja nggak pernah bersedih. Padahal hidupnya amat menyedihkan,” sergah seorang warga.

Warga akhirnya datang ke rumah Pak Camat. Mereka kesal dan ingin mengadu kegelisahan warga yang terus menerus dirundung kesedihan yang datangnya tak jelas.

Kesedihan seolah menjadi virus menular baru yang amat menakutkan. Padahal mereka sendiri sebagai warga kecamatan tak pernah bersedih walaupun hidup mareka sangat menyedihkan sekali.

Pak Camat ternyata sudah mendengar berita tentang kesedihan yang melanda warganya.

Pemimpin kecamatan ini amat tenang dalam menanggapi keluhan warganya. Tak ada rasa kesal di raut wajah.

Tak ada sama sekali. Yang terlihat di raut wajah flamboyannya hanyalah seutas senyuman yang terus diumbarnya di hadapan warga yang datang mengadu kepadanya.

“Nanti akan saya perintahkan staff saya untuk mengurusnya. Bapak-bapak tenang saja. Insya Allah akan teratasi,” ungkap Pak Camat dengan nada penuh optimis.

“Kami minta kesedihan itu segera enyah dari kecamatan kita Pak Camat. Jangan sampai kesedihan menjadi virus yang menjelma menjadi epidemi bagi warga kita,” ujar warga sembari meninggalkan kediaman Pak Camat.

Kesedihan tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Dan kesedihan memang menghilang di kecamatan usai lelaki itu menikmati hidangan soto di warung terkenal di kecamatan.

Lelaki itu amat lahap menghirup kuah soto ayam milik Mbok Darmi yang memang amat terkenal di Kecamatan.

Hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati soto di warung yang harganya melangit. lelaki itu tampaknya amat menikmati setiap asupan soto yang masuk ke dalam perutnya. Nikmatnya sangat terasa hingga ke ubun-ubun penikmatnya.

###

Kini warga kota kabupaten yang dilanda epidemi kesedihan. Kesedihan itu datang menyasar rumah-rumah warga seiring datangnya seorang lelaki ke kota ini.

Kesedihan itu mengapung di udara bebas. Merobek jantung warga. Menjilat nurani warga. Menusuk kalbu para penghuni kota tak pernah merasakan kesedihan.

Kesedihan kini menjadi frasa baru bagi para warga kota. Tiap hari mereka bercerita tentang kesedihan dan kesedihan yang sangat asing bagi mereka.

Kesedihan kini merajai kota dan otak warga. Semua warga lota menceritakan tentang kesedihan. “Saya heran kok kita terjangkit penyakit kesedihan,’ ungkap seorang warga .

“Kita saja tak penah merasakan kesedihan seperti ini,” sahut warga yang lain.

“Kita harus waspada dengan serangan virus kesedihan ini. Virus ini sangat berbahaya. Sangat berbahaya,” ujar seorang warga kota yang berprofesi sebagai dokter.

“Ayo, kita laporkan ke Bapak Walikota. Sebagai pemimpin, beliau harus tahu dan jangan diam seribu bahasa atas persoalan yang menimpa warga Kota. Bukankah dulu kita memilih beliau untuk membahagiakan kita, warganya,” usul seorang warga.

Mereka akhirnya bersepakat. Melaporkan kondisi kota kepada Pak Walikota. Melaporkan soal kehadiran virus kesedihan yang mulai melanda nurani para penghuninya.

“Kondisi ini tak bisa dibiarkan. Bisa menjadi virus kota, bisa merusak ratanan kehidupan warga kota,” pikir warga.

Ternyata Pak Walikota sudah mendengar virus kesedihan  yang melanda warganya. Yang mengusik nurani warganya.

Dan membuat seluruh Kota kehilangan energi membangunnya karena diserang virus kesedihan datang menyergap nurani warga tanpa malu.

“Saya sudah mendengar dan merasakan virus kesedihan ini. Insya Allah nanti saya akan perintahkan staff saya bagian sosial mengurusnya,” janji Pak Walikota dengan suara penuh wibawa.

“Mohon secepatnya Pak Walikota laporan kami ini ditindaklanjuti. Jangan sampai virus kesedihan ini melemahkan semangat kami warga Kota,” ungkap seorang warga dengan nada suara amat kesal.

“Dan kami tak mau Kota ini terjangkit virus kesedihan yang justru tak pernah kami rasakan sebagai penghuni kota,” sambung warga yang lain.

Kesedihan itu tiba-tiba menghilang bak hantu, usai seorang lelaki itu sedang menikmati secangkir kopi di kedai kopi ternama.

Lelaki itu amat menikmati sekali sedotan kopi dari cangkirnya yang terbuat dari airmata kesedihan warga kota.

Kedai kopi itu memang kedai kopi termahal yang ada di kota kabupaten itu. Hanya kasta tertentu yang bisa menikmati  aroma kopi di kedai kopi ternama itu.

Tukang becak, tukang ojek atau klas menengah ke bawah Kota, jangan berharap bisa duduk di kedai kopi itu. Mencium bau aroma kopi saja sudah kegembiraan bagi warga Kota.

###

Menjelang Lebaran tiba,  kesedihan itu kembali datang menerjang nurani warga. Mengapung di udara bebas kampung, kecamatan dan kota.

Kesedihan itu amat menoreh jiwa para warga. Mencabik-cabik dinding hati warga dan penghuni Kota.

Mencakar-cakar dinding hati warga Kampung. Mencakar-cakar nurani warga kota. Dan sungguh aneh bin ajaib, kali ini kesedihan itu tak mendapat respon di hati warga.

Mereka, para warga kampung, kecamatan dan kota seolah sudah imum dan kebal dengan suara kesedihan yang kembali datang menyergap nurani warga tanpa malu.

Para warga seolah-olah sudah paham tentang kesedihan yang kembali menyerang kota mareka.

Warga seolah cuek dan seakan-akan sudah kebal dengan suara kesedihan yang kembali beraksi itu.

Para warga sudah tak memperdulikannya lagi. Tak memperdulikan lagi suara kesedihan yang datang menerpa gendang telinga mereka.

Para penghuni seolah sudah mentulikan telinga mereka terhadap suara kesedihan yang kembali bergaung kencang.

Warga seolah membiarkan suara kesedihan itu mengapung dengan sendirinya di udara bebas kampung dan kota mereka.

Tak ada lagi respon cepat dari warga terhadap epidemi kesedihan ini yang kembali menyerang nurani warga.

Tak ada lagi gerak cepat dari warga saat kesedihan itu kembali mengepung kota mereka.

Tak ada sama sekali. Mereka seolah membiarkan kesedihan itu terapung dalam kesendiriannya. Ya, para warga membiarkan kesedihan itu sebatang kara terapung dalam udara bebas kehidupan mereka. (**)

Nama Pengirim: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali

 

 

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.