Cerpen: Laila

Minggu, 24 Oktober 2021
Ilustrasi

Sinar rembulan malam menyemburkan cahayanya dengan sangat terang. Sinar terangnya bersaing dengan gerakan liukan tubuh seorang penyanyi yang asyik menyanyikan sebuah tembang lawas diatas pangung seadanya. Sorakan penonton menambah riuhnya malamnya. Bersaing dengan ketatnya balutan baju sang penyanyi diatas panggung.

Beberapa penonton mulai naik ke atas pentas secara bergantian.Memasukan lembaran-lembaran bernilai dicelah baju bagian depannya yang terbuka. Sementara sepasang gunung yang menonjol di bagian tubuhnya menjadi sasaran empuk para pria yang iseng memasukan helai demi helai uang.

Read More

Sudah seminggu Laila harus menjual suara emasnya kepada para penonton jalang yang mengundangnya untuk bernyanyi di kawasan kumuh yang terkenal dengan kawasan prostitusi klas murahan. Dan sudah seminggu ini pula martabatnya sebagai wanita terendahkan oleh ula para lelaki berpikiran kotor itu. Bahkan ada pula yang mengajak kencan usai bernyanyi.

Laila baru terbangun ketika orang-orang sudah memulai aktivitasnya mencari makan. Pulang larut malam dari kegiatan menyanyi yang dilakoninya di kawasan kumuh itu membuatnya tidak dapat menikmati indahnya cahaya matahari pagi yang datang menyinari bumi. Maklum jadwal perhelatan nyanyi di kawasan itu tak mengenal waktu. Kadang usai ketika rembulan mulai terkantuk-kantuk keperaduannya.

Laila tidak menyangka sama sekali dalam otak jernihnya, kedatangannya ke ibukota harus berhadapan dengan persoalan pelik dan menorehkan airmata. Bagaimanaa tidak, saat datang berkunjung ke rumah temannya, dia mendapati Ibu temannya sangat membutuhkan pertolongan. Sakit yang diderita Ibu temannya membutuhkan banyak uang. Sementara temannya hanya berprofesi sebagai seorang Sales yang gajinya hanya berdasarkan jumlah penjualan.

“Mohon maaf, Laila. Kedatanganmu malah ku sambut dengan keluh kesah dan penderitaan,” kata Nani, temannya dengan nada sedih.

“Selagi saya bisa membantu, saya akan membantu. Sesama manusia hanya tolong menolong yang menjadi andalan kita dalam berkehidupan di dunia ini,” jawab Laila.

“Aku sudah menyusahkanmu,” lanjut Nani.

“Aku bahagia bisa menghibur mareka dengan suaraku. Dan mareka pun bahagia memberiku uang untuk membantu meringankan biaya tambahan berobat Ibumu,” jawab laila sambil memeluk Nani.

Laila dan temannya yang bernama Nani adalah teman sepermainan saat mareka masih di Kampung. Nani lantas hijrah bersama keluarganya ke Kota. Kota ternyata bukan tempat yang istimewa bagi keluarga Nani yang hijrah hanya bermodalkan tekad dan niat yang membaja. Nani yang hanya berpendidikan SMA akhirnya harus membanting tulang membiayai kehidupan keluarganya.

Kehidupan Nani dan keluarga makin terpuruk ketika ayahnya dipecat sebagai pegawai pabrik. Serbuan buruh asing dari negara lain membuat Ayahnya hanya menambah pengangguran Kota yang makin ganas. Ayah Nani pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Sepeninggal Ayahnya, nani menjadi urat nadi kehidupan keluarganya. Gaji nani sebagai Sales Promotion Girls yang tak seberapa membuat keluarga ini harus banting setir menghadapi ganasnya rimba Kota yang tak berperikemanusian. Penderitaan makin menjadi ornamen kehidupan Nani dan Ibunya sehari-hari, usai rumah mareka digusur aparat yang hobby bercitra diri di muka media massa.

Rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan almarhum Ayahnya kini rata diganyang alat berat yang datang tanpa mata hari dan perikemanusian. Dan mulailah mareka hidup dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan tanpa henti. Sementara kesehatan Ibu Nani diujung masa tuanya menambah problema hidup dengan dideteksinya penyakit Ibunya yang oleh dokter diklaim sebagai penderita kanker ganas stadium tinggi.

Kehadiran Laila di rumah Nani seolah memberi berkah bagi Nani dan Ibunya. Sebagai penyanyi Laila akhirnya rela untuk meluangkan waktunya untuk membantu sahabat karibnya di Kampung dengan menjajakan suara emasnya di kawasan kumuh yang tak pernah dilakoninya selama ini sebagai penyanyi.

“Semoga dengan saya menyanyi di sana bisa membantu pengobatan Ibumu, Nan,” ungkap Laila saat Nani menceritakan persoalannya.

“Kamu tak layak menyanyi di sana Laila. Walaupun tipnya besar, mereka kasar dan tidak beretika,” larang Nani.

“Saya sudah terbiasa menghadapi penonton seperti itu. Kamu tenang saja. Tidak usah kamu pikirkan,” jawab laila membesarkan hati Nani yang gulana.

Usai menyanyi di kawasan kumuh itu, Laila dan Nani langsung ke rumah sakit untuk menjenguk Ibunya yang sedang diopname. Sekalian membayar uang perawatan rumah sakit. Malam ini uang sawer yang didapatkan laila amat besar. Mencapai angka 2 juta.

Keduanya bergesas mendatangi loket pembayaran di rumah sakit itu. Namun keduanya langsung menangis saat petugas loket menyatakan bahwa Ibundanya Nani sudah wafat.

Sementara dari kejauhan malam yang berisikan cahaya rembulan yang bening, terdengar suara Azan subuh yang mereligiuskan alam raya. Semua orang bergegas menuju rumah Sang Maha Pencipta untuk bersujud selagi masih ada detak nafas untuk bertobat dan memohon ampun kepada-NYA sebagai Sang Maha Pencipta alam semesta raya ini.

Toboali, akhir Oktober 2021. (**)

Karya : Rusmin Toboali

Pengirim: Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts