Cerpen: “Jarimu Harimaumu”

SIANG itu Reno mengisi jam istirahatnya dengan menyantap mie instan yang ditemani sebotol teh botol di kantin sekolahnya. Di tengah kesibukan mengisi perut kosongnya itu, jari tangan kanannya terlihat ikut sibuk menari di layar datar smart phone. Berbagai aplikasi media sosial atau medsos pun dibukanya. Mulai dari youtube, facebook, line, hingga instagram. Jari-jarinya sangat cekatan menggeser dan menuliskan sesuatu di aplikasi itu. Ekspresi wajahnya nampak berubah-ubah. Kadang terlihat tersenyum. Kadang nampak cemberut.

Saking asyiknya bermedsos, Reno sampai tidak sadar kalau teh botol yang ditenggaknya ternyata sudah kosong. Dia baru menyadarinya setelah beberapa saat. Tepatnya, ketika botol plastik itu diarahkan ke mulutnya dengan posisi lebih menukik, tapi air teh itu tak kunjung membasahi tenggorokannya.

Bacaan Lainnya

“Bi, pesan teh botol satu lagi!” Terdengar suara Reno menyampaikan request. Pesan yang terlempar hanya dari jarak empat meter itu terdengar cukup jelas oleh Mirna, bibi penjaga kantin sekolah.

“Ya, Reno. Tunggu sebentar,” sahut Bi Mirna yang telah mengenal Reno meski dia tergolong siswa baru, kelas X di sekolah ini. Gayanya yang ceria dan selalu nongkrong di kantin di setiap jam istirahat, membuat bibi itu cepat mengenalinya. Bibi itu kemudian meminta Reno sedikit bersabar. Dia harus lebih dulu menyelesaikan pemesanan siswa lainnya yang telah lama mengantri.

Reno memaklumi penundaan pesanan teh botolnya itu. Sejurus, dia pun kembali larut dalam keasyikannya berselancar di dunia maya.

“Braaakk!” Tiba-tiba meja tempat dia nongkrong digebrak oleh seseorang yang seakan-akan dikawal oleh empat orang temannya. Gebrakan itu cukup keras. Hingga mangkuk wadah mie yang sudah kosong di hadapannya jatuh dan pecah berantakan. Siswa lain yang sedang berada di kantin itu ikut terkejut. Tapi mereka berusaha untuk cuek. Tidak mau menimbrung pada persoalan yang tidak mereka ketahui.

Di tengah keterkejutannya, Reno masih sempat hendak beranjak memunguti pecahan beling mangkuk itu. Namun, upayanya itu terhenti. Sebab, sosok laki-laki yang menggebrak meja itu telah lebih dulu menarik krah bajunya. Dengan kasar, dia pun dipaksa untuk kembali duduk di posisi semula.

“Ada apa ini. Kenapa kau tiba-tiba berbuat kasar seperti ini?”, tanya Reno yang sudah kembali duduk dan kali ini dikelilingi oleh empat orang yang belum dikenalnya itu. Tapi dari pandangan sekilas pada emblem yang menempel dibajunya, dia tahu kalau mereka masih satu sekolah dengannya. Mereka itu siswa kelas XI atau masih kakak kelasnya.

“Reno. Kau kurang ajar sekali. Kau telah mempermalukan kami di jagad maya!” Sosok yang telah menggebarak meja dan menarik krah baju itu terlihat sangat marah. Teman-temannya tak kalah marahnya. Mereka kompak memelototkan mata yang mulai memerah ke muka Reno.

“Sabar, teman. Memang aku telah berbuat apa. Aku merasa tak pernah mempermalukan kalian,” sahut Reno mencoba menenangkan suasana. Dia juga masih ingin tahu kenapa dia dituduh seperti itu oleh sosok yang dari bed namanya diketahui bernama Fredy ini.

“Sudahlah, jangan mengelak lagi. Ini buktinya,” sergah Fredy sembari mengeluarkan smart phone. Kemudian dia menunjukkan sebuah screenshot dari tampilan instagram.

Pada layar yang di-screenshot itu terlihat gambar ceria Fredy dan teman-temannya sedang menerima piala dari kepala sekolah yang disertai caption, “Terbukti! Tim Futsal Kelas XI SMA Gugus Cita is the best. Juara Class Meeting 2019. #juara #futsal #classmeeting2019 #smaguguscita #kelasxi”. Postingan itu mendapat 659 like dan 275 coment.

“Terus, apa hubungannya dengan aku,” timpal Reno ringan. Tanpa disadari Reno, tanggapan ringannya ini justru meninggikan tensi Fredy dan temannya.

“Bedebah. Apa hubungannya, kau bilang? Ini, lihat komentarmu di postingan itu. Kau bukannya mengapresiasi. Tapi sebaliknya, malah menghina capaian kami,” ujar Yordan, teman Fredy.

“Kau justru bilang, ‘Ah biasa aza kalee…bagi generasi micin, suatu yg biasa mmg sering dianggap luarrr biasa. Cuma juara classmeeting cuy he he…’. Orang sepertimu sepertinya pantas diberi pelajaran,” ujar teman lainnya, Arga, sambil memukulkan botol plastik kosong ke meja.

“Bahkan ketika kami menyuruhmu menghapus coment itu, kau tetap tak mau menghapusnya,” sergah teman lainnya, Firgo, sembari menunjukkan bagian screenshot yang telah dilingkari, tempat mereka memberikan perintah menghapus itu.

“Kenapa aku tak mau menghapus, itu karena tak ada yang salah dengan komenku. Aku hanya bicara soal generasi micin, yang menurutku, suka menganggap hal yang biasa sebagai suatu yang luar biasa. Tidak ada hubungannya dengan kalian. Lagian di situ tidak ada satu kata pun yang menyebut nama, tim futsal, atau kelas kalian.” Reno mencoba menetralisir tuduhan. Baginya, tuduhan itu hanyalah salah paham.

“Banyak ngeles, kau. Semua tahu kalau komentmu menyasar kami. Bahkan lebih separuh orang yang komentar di wall ini juga menyesalkan komentarmu.” Kini giliran Toni membenamkan Reno pada kesalahannya.

“Ayo kawan, tunggu apa lagi. Kita kasih pelajaran dia!” Perintah Fredy langsung disambut teman-temannya. Mereka seketika mengeroyok Reno. Meski sempat bertahan, Reno akhirnya tak mampu jua menahan amarah mereka. Beberapa tendangan dan tinjuan sempat mendarat di tubuhnya.

Suasana di kantin semakin gaduh. Beberapa siswa berpekikan dan meminta mereka berhenti berkelahi. Tapi pekikan itu tidak digubris. Reno terus diserang. Untuk menghalau serangan yang membuat posisinya semakin terjepit itu, Reno membalikkan meja kantin. Selanjutnya, ia mengangkat kursi dan menggunakannya untuk memukul lawan. Upaya pertahanannya efektif. Fredy dan teman-temannya sempat menghentikan pukulan. Mereka kompak mundur beberapa langkah untuk menghindari pukulan itu.

Beruntung, ketika itu, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, Pak Sunandar, segera datang. Dia berhasil melerai dan menghentikan perkelahian itu. Saat itu juga, siswanya yang terlibat perkelahian itu langsung dibawa ke ruangan wakil kepala sekolah.

Pak Sunandar ingin tahu apa yang menyebabkan mereka terlibat perkelahian. Untuk itu, kedua pihak yang bertikai diminta menjelaskan penyebab itu sesuai versi masing-masing. Setelah mendengar semuanya, dia pun memberikan nasihat.

“Anak-anakku, perkelahian itu bukanlah perbuatan yang baik. Perkelahian juga tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah karena di dalamnya selalu melahirkan dendam. Bapak ingin kalian berdamai dan saling memaafkan. Kalian itu masih satu sekolah, masih bersaudara. Lebih baik kita ambil hikmah dari peristiwa ini agar kita bisa semakin bijak dalam menghadapi persoalan kehidupan,” ujar Pak Sunandar dengan tenang.

Baik Reno ataupun Fredy dan kawan-kawannya, hanya bisa menunduk di hadapan sosok Pak Sunandar yang memang selama ini terkenal sangat disegani oleh para guru dan siswa di sekolah ini. Sikap yang sama juga mereka tampilkan ketika beliau mencoba mengurai masalah yang telah menyebabkan perselisihan di antara mereka.

Menurut Pak Sunandar, kemunculan sikap reaktif Fredy dan kawan-kawan dinilai wajar. Sebab, mereka merasa telah dipermalukan di medsos yang sebarannya sangat luas itu. Hanya saja, sikap reaktif yang diwujudkan dengan cara kekerasan tidaklah tepat. Terlebih, yang jadi objek sasarannya terbilang masih orang sendiri bahkan masih satu sekolah. Masalah seperti ini semestinya bisa diselesaikan dengan musyawarah. Bahkan agar lebih objektif, bisa melibatkan dewan guru atau pimpinan sekolah.

Sementara kepada Reno, ujar Pak Sunandar lebih lanjut, sikapnya yang bersikukuh bahwa tidak ada yang salah dalam komentarnya dapat dimaklumi. Sebab, dia mengaku mengarahkan komentarnya bukan untuk Fredy dan kawan-kawan, tapi untuk generasi micin secara umum. Namun, Reno dinilai telah mengabaikan ketentuan tak tertulis bahwa ketika sebuah status atau komentar di-publish ke media sosial, maka yang berhak menilai adalah para pembacanya, bukan dirinya.

Untuk itu, Pak Sunandar meminta anak didiknya tersebut agar lebih berhati-hati dalam bermedsos. Sebab, jika tidak, mereka bisa tersandung masalah hukum. Apalagi, saat ini sudah ada Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Dalam undang-undang ini ada lima pasal yang mengatur etika bermedia sosial, yaitu pasal 27 hingga pasal 30,” tegasnya.

Dia menjelaskan lebih lanjut, Pasal 27 memuat ketentuan penyebaran informasi dan atau dokumen elektronik yang melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan atau pengancaman. Lalu, pasal 28, memuat ketentuan penyebaran berita bohong yang merugikan konsumen dalam transaksi elektronik, menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Pasal 29 memuat ketentuan pengiriman informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi. Sedangkan Pasal 30, memuat ketentuan seseorang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses, memperoleh informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dengan cara apapun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

“Selanjutnya, Pasal 45 menegaskan sanksi yang bakal diterima bagi para pelanggar ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 27 undang-undang ITE,” jelasnya.

Siapa pun yang melanggar kesusilaan, sebut Pak Sunandar, diancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar. Bagi pelaku pencemaran nama baik, dipidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak 750 juta. Sementara pelaku pemerasan dan/atau pengancaman akan dipidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar.

 

Dia menambahkan, untuk penyebar berita bohong dan menyesatkan yang merugikan konsumen diancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar. Sedangkan untuk yang menyebarkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA, dipidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar.

Melihat besarnya ancaman pidana itu, beliau pun berharap para pengguna media sosial untuk pandai memilah hal-hal yang akan diunggah. Ketika mendapat informasi di platform berbagi pesan, mereka pun diharapkan dapat crosschek kebenarannya. Jangan serta merta meneruskannya kepada orang lain.

“Mari cerdas dalam bemedsos. Jangan gunakan medsos kita untuk menebar kabar bohong (hoax), fitnah, dan sikap permusuhan. Jangan sampai kita terperosok dan tersandung masalah hukum karena medsos. Ingatlah, di tengah era digitalisasi informasi saat ini, jarimu adalah harimaumu,” ujar Pak Sunandar mengingatkan siswanya.

Paparan panjang lebar soal etika bermedsos itu mampu mencerahkan pikiran Reno, Fredi, dan yang lainnya. Seketika, wajah mereka nampak tak lagi cemberut dan bebas dari semburat kebencian. Mereka saling berangkulan dan bermaafan.

“Terimakasih Pak telah mendamaikan dan memberikan wejangan. Kami berjanji akan menyudahi permusuhan ini. Kami juga akan lebih bijak dalam bermedsos,” ujar Reno mewakili teman-temannya, yang langsung diikuti pamit mereka untuk meninggalkan ruang wakil kepala sekolah siang itu. **

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.