Cerpen: Istri Markudut Ingin Hamil

ilustrasi

Karya : Rusmin Toboali

Tiupan angin yang datang dari arah pepohonan dekat rumah senja itu, sungguh terasa sangat indah. Hembusannya menghantam seluruh tubuh Markudut.

Read More

Sementara tarian segerombolan kawanan burung camar yang menari dilangit yang biru, sungguh mengundang decak kagum atas sebuah ornamen kehidupan karya Sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Hamparan indah gugusan awan pada lengkungan langit, menenggelamkan seluruh jiwa raga umat manusia pada karya agung Allah SWT.

Di ufuk timur hadir bentangan wajah mempesona Sang Purnama. Sebuah tanda malam akan tiba. Seiring hadirnya suara azan magrib yang terdengar religius menjabah bumi yang indah.

Markudut masih menghisap rokoknya. Kepulan asapnya keluar. Meliuk dari bibir hitamnya. Keinginan istrinya untuk hamil sungguh sesuatu yang amat medera jiwa raganya. Sudah hampir lima tahun mereka menikah, belum ada buah hati yang hadir ditengah keluarga kecil itu.

Tak heran banyak sanak keluarga hingga mertuanya selalu menanaykan perihal kapan punya anak saat dirinya bersilahturahmi dengan mereka.

“Kalian kawin sudah lima tahun. Sudah saatnya punya anak,” ujar Sang Mertua.

“Benar sekali, Mar. Lihat adikmu, baru setahun kawin sudah punya anak,” sambung sana keluarganya yang lain.

“Barangkali Allah belum mempercayai kami untuk dianugerahinya seorang anak, Bu,” jawab Markudut.

“Ya, kamu dan istrimu harus berusaha dong,” jawab sang mertua.

“Atau barangkali…?,” sambung keluarganya yang lain.

Mendengar narasi itu, raut wajah Markudut memerah. Lelaki itu tidak menyembunyikan amarahnya. Elusan tangan dari Sang Istrinya yang membuat emosi lelaki yang berprofesi sebagai tukang ojek pangkalan itu mereda. Walaupun dia belum mampu menghapus wajah merah menyalah yang tergambar dalam wajah tampannya.

Dan di saat senja mulai menyembunyikan pucuk-pucuk pepohonan yang tumbuh lebar di sekitar rumahnya  narasi itu kembali disuarakan Sang istrinya.

“Aku ingin hamil. Aku ingin punya anak Bang,” ujar Sang Istri.

Wajah Markudut tiba-tiba berubah, bak kain kafan. Sementara mulutnya tertutup rapat. Tak ada desis yang keluar dari bibirnya yang masih ditempeli rokok yang asapnya masih terus berhembus.

“Semua keluarga kita semuanya sudah punya anak. Hanya kita yang belum punya anak. Aku ingin hamil, Bang,” rengek Sang Istri.

Markudut menatap istirnya.Aroma kesal tergurat di wajahnya. Sudah puluhan kali narasi ingin hamil disuarakan sang Istri. Kupingnya seolah sudah bebal dengan suara yang menusuk gendang telinganya. Dia kembali menghisap rokoknya. Hembusan asapnya berhembusan ke udara. Seiring kepergian sang istrinya ke dalam rumah yang meninggalkannya sendiri memagut waktu.

Sebagai pengojek yang biasa mangkal di tempat hiburan malam, Markudut setiap malam selalu mengantar para pekerja malam itu untuk pulang ke rumah mereka. Hampir semua pekerja malam di tempat hiburan malam itu mengenal Markudut. Ketampanan wajah Markudut membuat para pekerja malam itu sangat menggagumi Markudut dan membuat lelaki itu menjadi idola para pekerja malam itu.

Dan tak heran kadang Markudut baru pulang ke rumah, saat cahaya matahari baru muncul di ufuk timur. Maklum pekerja hiburan malam itu memberikannya semangat gairah malam untuknya. Bahkan ada yang memintanya untuk menjadikan malam tertentu bagi dirinya.

“Pokoknya untuk malam minggu ini, Abang harus menemani aku,” rengek seorang pekerja malam.

“Dan malam Senen, Abang wajib menemani aku,” pinta yang lain.

“Abang ingat, ya, malam Selasa adalah malam Abang berada di rumah aku,” ingat yang lain.

“Kalau perlu Abang catat, malam Rabu Abang harus berada di tempatku,” ujar yang lain mengingatkannya.

“Malam kamis, Abang harus di kosan ku. Tak ada alasan,” ujar yang lainnya.

“Ingat ya, Bang. Malam jumat Abang ada di rumahku,” kata yang lainnya.

Mendengar narasi permintaan dari mulut maut para pekerja di tempat hiburan itu, Markudut hanya mengusap dada. Maklum selama ini sumber penghasilannya berasal dari para pekerja di tempat hiburan malam itu yang kadang memberinya uang tips yang sangat besar hingga membuatnya bisa bernafas untuk seminggu untuk kebutuhan rumah tangganya.

Dan berkat uang tips dari para pekerja malam di tempat hiburan itu pula dirinya bisa membeli motor baru keluaran terbaru.

Kembali Markudut menarik nafas panjang. Panjang sekali sebagaimana panjangnya pengorbanan istrinya yang menerimanya sebagai suami.saat mereka menikah dulu.

Markudut kembali menyalakan rokok di tangannya. Asapnya berhembus ke udara bebas.  Seiring terdengar suara sang istri yang mengingatkannya untuk sholat.

“Sudah azan magrib, Bang. Abang tidak ke masjid?,” suara istrinya terdengar indah bak penyanyi yang sering didengar di acara musik di televisi.

” Sebentar. Aku habisi rokokku dulu,” jawab Markudut sembari membuang sisa rokok dari bibirnya dan berjalan melangkah menuju masjid untuk segera bersujud kepada Allah SWT, memohon ampunan atas segala dosanya dan memohon petunjuk dari Sang Maha Pencipta.

Semilir angin yang masuk ke dalam masjid menerpa tubuh Markudut yang sedang bersujud. Hembusan angin yang datang menyelinap lewat celah-celah Masjid sungguh terasa sangat istimewa di tubuh Markudut. Mengusap tubuhnya yang kusut. Membelai rambutnya yang tebal. Sekujur tubuh Markudut terasa sangat istimewa. Seistimewa keinginan sang istri yang ingin dirinya hamil yang akan segera dipenuhinya. (**)

Toboali, 13 November 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.