Cerpen : Dendam Kesumat

Ilustrasi

Karya : Rusmin Toboali

Cahaya purnama mulai membangkrut. Di ujung kampung yang dipenuhi pohon-pohon yang kekar dan menjadi tempat sampah para kaum jalang kampung biasa bersuka ria, nurani perempuan itu terkoyak-koyak. Raganya dihantam belati kelakian. Darah mengucur deras, membasahi bumi. Membasahi ranting kayu yang belum remaja. Mengaliri dedaunan yang patah diinjak para pemburu di rimba Kampung.

Read More

Di atas awan, rembulan menetes airmata. Sinarnya redup. Sinar purnama tak mengembang pesonanya. Alam kelam. Semesta merintih. Malam semakin rentah. Makin menjauh. Sejauh sekelompok orang yang pergi dengan langkah kaki bergegas. Meninggalkan rimba kampung dengan ketergesaan.

Perempuan itu bangkit dengan menyeringai menahan rasa nyeri. Bersandar di batang pepohonan yang kekar dengan napas terengah-engah. Menyeka airmata yang menetes dari kelopak matanya dengan lengan bajunya yang koyak. Matanya nanar menatap sekitar. Mencari jejak.

Di kejauhan malam, terdengar suara kendaraan samar-samar. Perempuan itu melangkah dengan mengumpul sisa tenaga seadanya. Menepi dengan sekujur tubuh gemetar di jalanan Kampung yang tak bertuan dan amat sepi . Dengus anjing liar hutan yang mencari mangsa tak terdengar.

Perempuan itu berduka. Kemalangan jiwa membius sekujur raganya. Suara hati tak mampu dilawannya. Suara jiwa tak mampu dihalaunya.

“Aku harus membalas dendam,” suara hatinya berdesis mengibar bendera kegeraman jiwanya yang kusut masai

“Kamu memang harus membalas dendam. Harus membalas dendam,” tiba-tiba sebuah suara muncul seketika di gendang telinganya.

Perempuan muda itu menoleh. Tak ada siapa-siapa. Kecuali kesunyian.

“Kamu tak boleh menyerah. Habisi mereka. Mereka telah membuatmu menderita,” suara itu kembali hadir di kuping hati perempuan itu.

“Aku seorang perempuan. Mana bisa melawan mereka,” rintih suara hati perempuan itu.

“Tak ada kata yang tak bisa untuk menaklukan mereka, para jahanam itu. Tekadkan dalam jiwamu,” seru suara itu lagi.

Perempuan itu tergoda. Perempuan itu mengamnesiakan dirinya. Melupakan pesan suci orang tuanya. Mengabaikan pesan sakral guru ngajinya. Menghalalkan segala cara untuk melawan. Perempuan itu melupakan segalanya. Meruntuhkan nilai-nilai kehidupan yang dianutnya. Mengabaikan etika kehidupan. Yang terbersit dalam dadanya yang penuh gemuruh, hanya diksi balas dendam dan balas dendam. Hanya diksi itu.

Arahan dari suara bisikan gaib itu, menghantarkan perempuan malang itu menjelajahi alam. Mendaki gunung. Melewati bukit. Menembus rimba. Melintasi lautan. Menerjang badai. Semuanya hanya untuk memuaskan nafsu malangnya. Arahan suara bisikan itu menghantarkannya untuk melawan dan melawan demi harga diri yang terkoyak-koyak.

“Saatnya mereka menerima balasan darimu,” suara bisikan itu menembus nurani perempuan itu.

Seorang warga kampung yang baru pulang dari kebun, kaget setengah mati saat melihat sesosok mayat seorang laki-laki terkujur kaku di jalanan menuju hutan di ujung kampung. Wajahnya menghitam. Sementara seorang warga Kampung yang lain menemukan sesosok mayat seorang laki-laki yang tergeletak dekat pohon besar di ujung kampung. Wajahnya penuh noda hitam. Penemuan mayat terus terjadi dan terjadi di kampung. Jumlahnya mencapai 13 mayat. Kegegaran melanda semua warga kampung.

Sejak peristiwa penemuan mayat-mayat itu, malam di Kampung mereka berubah menjadi sangat mencekam. Matahari selalu pamit dengan rasa waspada yang tak tertahankan. Saat gelap tiba, pintu-pintu setiap rumah dikunci dengan rapat. juga jendela. Semuanya berubah. Kampung tak aman. Warga diliputi rasa waspada. Semua takut. Semua waspada. Aparat Kampung tak mampu menangani.

“Kamu pasti puas melihat apa yang terjadi terhadap para begundal yang telah melukai jiwamu,” suara bisikan itu kembali bergema di kuping hati perempuan itu.

Perempuan itu terlihat sangat bahagia. Bahkan teramat bahagia. Ada kepuasan yang tergurat dari sinar wajah cantiknya. Menghukum orang dengan caranya sendiri.

“Para jahanam itu memang layak menerima hukuman itu. Mereka sangat pantas menerima semua itu,” seru suara bisikan itu lagi.

Rasa sesal melumuri sekujur tubuhnya. Ada rasa sedih yang melumuri raganya. Suara bisikan itu telah mengantarkannya mendekam di sebuah penjara di Kota. Perempuan itu harus menerima konsekuensi dari semua arahan dari suara bisikan yang telah menyesatkannya ke dalam jurang kelaraan baru yang tak terperikan. Hanya airmata yang menjadi teman sejatinya kini. Hanya rasa sesal yang berkepanjangan menjadi sahabatnya sehari-hari. Sementara suara bisikan itu terus berlari dan berlari menembus nurani manusia lain yang sesat. (**)

Toboali, 27 November 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.