Cerpen : Bukan Perempuan Biasa

Cahaya matahari mulai menyinari bumi yang masih dilanda kegelapan. Suara azan Subuh dari corong pengeras suara Masjid merelegiuskan alam semesta. Orang-orang bergegas menuju ke Masjid untuk bersujud kepada Sang Maha Pencipta. Memohon ampunan kepada Sang Maha Agung.

Usai menunaikan sholat subuh, Fatimah bersiap menuju Pantai. Sinar keemasan dari cahaya pagi matahari menjadi daya tarik Fatimah untuk segera mendatangi pantai yang dibaluri pasir yang bersih dan mengkilap. Sementara sarapan pagi untuk anak semata wayangnya sudah tersiap rapi di atas meja. Selembar uang kertas lima ribuan diselipkannya di tas anaknya.

Sudah tiga bulan, semenjak ditinggalkan sang suami, Fatimah bekerja sebagai penjual ikan keliling. Ikan-ikan segar itu didapatnya dari para nelayan yang baru tiba di pantai saat cahaya matahari di ufuk timur mulai menerangi semesta raya. Pekerjaan ini dilakukannya biar asap dapurnya tetap mengepul.

Dengan kaki beralaskan sandal jepit, kaki jenjang Fatimah mulai pasti melangkah menuju pantai yang sudah ramai dengan kedatangan para nelayan. Aroma dingin pagi yang menghantam tulang belulang tubuh cantinya tak dihiraukannya sama sekali.

Kecantikan yang menggurat di wajah Fatimah membuat para nelayan kadang kala tak mengambil sepeser pun uang dari Fatimah. Kekaguman para nelayan pada pesona yang dimiliki Fatimah membuat para nelayan kerap kali enggan menerima uang pembelian ikan dari fatimah. Rasa tak enak kerap kali terselip di nurani Fatimah terhadap perlaukuan para nelayan kepadanya.

“Sudah bawa saja ikannya,” demikian kira-kira jawaban dari para nelayan saat Fatimah menyodorkan uang kepada para nelayan.
Fatimah hanya menelan ludah. Suaranya tersekat di kerongkongannya.

Berita suami Fatimah yang meninggalkan perempuan yang dulu dikenal sebagai kembang kampung membuat suasana udara pantai yang tenang dengan hembusan angin dari laut yang sepoi berisik dengan cerita para nelayan tentang kebodohohan suami Fatimah yang pergi meninggalkan perempuan itu.

“Aneh sekali kawan kita itu. Istri cantik malah ditinggal,” ujar seorang nelayan.

“Hanya suami bodoh yang mau mempertahankan istri yang hobbi berselingkuh,” jawab seorang nelayan lainnya.

“Fatimah selingkuh?,” tanya seorang nelayan lainnya.

“Nggak usah pura-pura tidak tahu. Semua orang kampung sudah mengetahui tingkah busuk Fatimah,” jawab nelayan itu.

“Aku yakin orang sekampung kita tidak percaya kalau si Fatimah selingkuh. masa sih hanya gara-gara Pakbos juragan ikan ngasih uang ala kadarnya kepada anaknya lewat Fatimah, dipikir selingkuh. Dunia memang mau kiamat. Perbuatan baik selalu diasumsikan untuk mengharapkan sesuatu,” balas seorang nelayan lainnya.

“Saya pikir suami manapun akan merasa disepelekan kalau istrinya selalu menerima uang dari orang lain. walaupun uang itu bukan untuk dirinya,’ sambung nelayan yang lain.

Dari kejauhan terlihat Fatimah berjalan ke arah pantai. Bau amis ikan mulai tercium di udara bebas pantai. Lenggang-lenggoknya membuat semua mata nelayan di pantai memandangnya tanpa berkedip sama sekali.

Sementara siulan godaan dari para nelayan terus berhamburan di udara pantai dan menusuk kalbu. fatimah terus melangkah ke pantai untuk mengambil ikan segar yang akan dijualnya dengan bersepeda keliling Komplek perumahan yang sudah banyak berdiri tegap disekitar kampungnya.

Perempuan penjual ikan keliling itu hampir terjerembab saat memasuki halama rumahnya. Bagaimana tidak, dihalaman rumahnya terparkir sebuah mobil mewah milik Pakbos Juragan Ikan yang amat terkenal. Di teras rumahnya terlihat seorang lelaki parlente duduk di kursi yang terbuat dari papan bekas sisa para nelayan membuat perahunya. Jantungnya seakan-akan mau copot dari tangkainya.
Sejuta pertanyaan terus mendesak dalam pikirannya.

“Ada apa pakbos juragan ikan ke rumah,” dirinya membatin.

Usai menyadarkan sepedanya di halaman rumah, Fatimah dengan hati yang berbalut debaran jantung tak beraturan segera menemui pakbos Juragan Ikan yang tampak asyik menghisap rokok merek terkenal

“Ada apa Pakbos Juragan,” tanya Fatimah degan suara terbata-bata.

“Aku ingin melamarmu,” kata Pakbos Juragan ikan.

Fatimah terdiam. Jawaban dari mulut Pakbos Juragan ikan kembali membuat jantungnya hampir copot. jantungnya bergerak tak beraturan.

“Mohon maaf. Aku belum punya keinginan untuk berumah tangga lagi,” jawab Fatimah dengan nada datar.

“Kalau kamu menikah dengan ku, kamu tidak perlu bekerja menjajakan ikan keliling kampung lagi dengan sepeda. Kamu tinggal di rumah besar dan ongkang-ongkakng kaki saja di rumah sebagai nyonya besar. Semua tersedia,” rayu Pakbos Juragan ikan.

“Dan masa depan anakmu terjamin hingga sarjana,” lanjut Pakbos Juragan Ikan.

Fatimah menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak. Dan Pakbos Juragan Ikan hanya menelan ludah.

“Menjadi istrimu berarti sama saja aku mengakui bahwa selama ini omongan semua orang kampung aku berselingkuh itu benar,” ucap fatimah dengan narasi mantap.

Pakbos Juragan Ikan perlahan meninggalkan teras rumah Fatimah dengan sejuata kekecewaan. Dirinya sama sekali tak menyangka Fatimah, penjual ikan keliling itu menolak lamarannya. Padahal semenjak dari rumah, lelaki parlente beristri tiga itu berkeyakinan ajakannya akan diterima Fatimah.

“Ternyata, Fatimah bukan wanita biasa,” desisnya sembari bergegas masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Fatimah dengan dibaluti jiwa yang teramat kecewa.

Dari kejauhan mata Fatimah memandang kepergian Pakbos Juragan ikan dengan mata yang berbinar. Ada setangkup kebahagian yang mengalir tubuhnya. Setidaknya narasi yang berkembang di udara bebas di warga kampung telah terjawab. Ingin rasanya dia mengabarkan kepada semua warga kampung dengan segera. Ya, dengan segera bahwa dia bukan perempuan biasa.

Toboali, 14 November 2021

(**)

Karya Rusmin Toboali

Pengirim Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.