Palembang, Sumselupdate.com – Bekerja sebagai tukang sol sepatu merupakan pilihan bagi Bustari (46). Dia menekuni pekerjaan ini bukan saja karena sesuai keterampilannya, tetapi juga yang terpenting karena baginya pekerjaan ini halal dan membawa berkah.
Di sela kesibukannya menjahit sepatu orderan pelanggan, Bustari pun tidak berkeberatan saat Sumselupdate.com membincanginya segala hal terkait pekerjaan yang dianggapnya mulia ini, yang berlokasi di ujung Jalan Sosial Kawasan Pasar Palima, Palembang, Sabtu (29/10).
Menurutnya, dia tidak malu melakoni pekerjaan sebagai tukang sol sepatu, meski mungkin ada pihak yang memandang rendah pekerjaan ini.
“Mungkin saja ada yang memandang rendah, tetapi saya tidak malu bekerja jadi tukang sol sepatu. Kenapa mesti malu, pekerjaan ini kan tidak ada korupsinya. Prinsip saya, pekerjaan ini halal dan insya Allah berkah,” ujarnya.
Bustari mengakui, pekerjaan sol sepatu merupakan pekerjaan yang sesuai keahliannya. Pekerjaan ini juga mesti dijalani untuk menghidupi keluarga.
“Pekerjaan ini sudah saya jalani sejak tahun 1994 atau sudah 22 tahun. Ini atas kemauan sendiri dan awalnya sih belajar secara mandiri (otodidak – red), untuk menafkahi keluarga,” jelas pria tiga anak yang masing-masing satu anak tamat SMA dan dua anak lainnya masih duduk di bangku SMP ini.
Pria yang berasal dari Muara Lakitan, Musi Rawas ini pun berbicara bagaimana penghasilan tukang sol sepatu itu tidak menentu. Menurutnya, terkadang penghasilannya besar dan terkadang pula kecil, tetapi yang jelas cukup untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.
“Sehari-hari dapatlah, yang jelas idak pening untuk beli beras. Pekerjaan sol sepatu ini ibarat rezeki macan, tidak bisa diprediksi. Kadang sehari dapat 100 ribu sampai 150 ribu. Ketika sepi, malah hanya dapat tiga pasang atau Rp 45 ribu sehari,” ujar kepala keluarga yang tinggal di Jalan Swadaya, Pakjo, Palembang ini.
Soal kapan pemesan sol sepatu ramai, lanjutnya, itu bergantung pada waktu-waktu tertentu.
“Yang ramai biasanya hari Minggu, saat mau lebaran atau musim siswa mau sekolah”, sebutnya.
Sementara perihal perangkat yang dibutuhkan untuk pekerjaannya, Bustari mengaku tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. “Benang sol itu beli, nah kalau alat buat dewek,” ujarnya.
Meski pekerjaan sebagai tukang sol sepatu telah menjadi pilihan hidupnya, tetapi Bustari tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya. Dia pun ingin anak-anaknya mencari pekerjaan yang lebih baik dibandingkan pekerjaan yang kini dia tekuni.
“Kalau bisa pekerjaan ini jangan menurun ke anak, cukup di orang tuanya saja. Anak-anak biar mencari pekerjaan lain yang lebih baik saja sesuai keterampilan yang dimilikinya,” pungkasnya. (shn)











