Jakarta, Sumselupdate.com – Aksi provokasi tak henti dilakukan oleh Korea Utara. Hal tersebut diketahui sejumlah lembaga dunia memonitor adanya getaran gempa bumi yang mencapai 5,3 magnitudo yang berasal dari daratan Korea Utara, pada Jumat (9/9) di area Punggye-ri.
“Hasil analisis tersebut berdasarkan pada rekaman dari 122 stasiun seismik yang dioperasikan oleh BMKG, termasuk enam stasiun CTBTO,” demikian penjelasan rilis BMKG seperti dikutip dari laman Kompas.com.
CTBTO atau Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization memang menempatkan sejumlah stasiun pengukuran di dunia untuk memantau aktivitas nuklir.
Indikasi terjadinya ledakan nuklir di Korea Utara itu terlihat dari sinyal-sinyal yang terekam seismogram. Lokasi tidak di zona seismik dan kedalaman sangat dangkal.
Selain itu, rekaman seismogram menunjukkan amplitudo gelombang P (primer) relatif lebih besar ketimbang gelombang S (sekunder). Impuls pertama dari seluruh rekaman menunjukkan gerakan kompresi.
Hasil analisis BMKG ini sejalan dengan pengukuran lembaga-lembaga lainnya. USGS (Amerika), Geofon (Jerman), dan EMSC (Eropa) juga mencatat gempa 5,3 magnitudo di titik koordinat yang berdekatan.
Hanya, USGS dan EMSC mencatat pusat gempa di kedalaman 0 kilometer atau di permukaan tanah.
Menurut analis Korea Utara dari Middlebury Institute of International Studies, AS, Jeffrey Lewis, ledakan tersebut dihasilkan oleh ledakan setara 20-30 kiloton TNT.
Sesuai sanksi PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), Korea Utara sebenarnya dilarang melakukan percobaan bom nuklir.
Namun, Korea Utara tetap melakukan serangkaian uji coba rudal balistik dan sebelum uji coba terakhir, pada Januari mereka mengklaim berhasil menguji bom hidrogen. (adm3)











