Baturaja, Sumselupdate. com – Apa yang ditulis Ryan Dinata, warga Sukaraya, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan di akun facebook pribadi https://www.facebook.com/ryano.koko menjadi viral.
Pasalnya tulisan dengan judul ‘couple choice, awam boleh, bego jangan’ di postingnya pada Sabtu, 16 Desember 2017, sekitar pukul 13.03 WIB, jadi tranding topic.
Postingan yang menampilkan poto bayi mungil nan ganteng serta tulisan yang sangat panjang, hingga pukul 19.20 WIB, postingan tersebut mendapat 8.342 komentar, 28.032 kali dibagikan serta 25.979 tanggapan.
“Ketika yang komentar masih belasan, saya membalas satu persatu. Namun, ketika komennya mencapai ratusan saya kewalahan. Bahkan, saya mensilent smartphone saya karena deringnya bersahut–sahutan,” ucap Ryan Dinata, saat ditanya wartawan pada Kamis (21/12/2017).
Ya, apa sebab sehingga tulisan singkat penuh makna jadi viral? Ternyata di dalam tulisannya itu, Ryan menceritakan perjuangannya mendapat momongan.
Berbagai usaha dengan mengerahkan segala daya upaya berjuang untuk mendapat momongan untuk mengisi indahnya hari–hari yang ia jalani bersama istrinya.
Sehingga, berkat perjuangan yang tak kenal lelah disertai doa dan karunia Allah SWT, sejak 6 Mei 2011, terbayar pada Sabtu, 25 November 2017, sekitar pukul 13.15 WIB, lahirlah Nafhan Zein Atiyan, yang selama ini ia dambakan.
“Nawaitu saya menulis dan mempostingnya di media sosial, untuk berbagi bahagia dan dapat dirasakan para pejuang buah hati untuk mendapatkan buah hatinya,” timpal Ryan.
Menurut Ryan, dirinya sangat memahami bagaimana rasanya menantikan buah hatinya.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu serta bulan lepas bulan, dirinya bersama istrinya sangat menginginkan buah hati.
Namun, apa daya, Tuhan berkehendak lain. “Segala upaya dengan berbagai cara telah kami tempuh. Ada yang bilang begini, kami lakukan. Ada yang beling begitu, juga kami laksanakan. Pergi ke sana, ke sini, siapa yang ditemui telah kami tempuh,” ujar Ryan.
Menemuni dokter spesialis kandungan (SpOG) pun telah ditempuh. Semua analisa medisnya sama. Paling, beda – beda tipis atau hampir mirip–mirip.
“Tidak apa–apa. Semuanya (pasutri –red) sehat semua. Tunggu saja, banyak berdoa, Tuhan belum kasih aja dan berbagai analisis yang disampaikan,” timpal Ryan.
Mendapat jawaban dokter, lanjut Ryan, batinnya bergejolak, sebab kalau dirinya serta istrinya sehat walafiat, artinya antara ia dan istrinya tidak ada masalah kesehatan.
“Kok ini malah dibilang sehat, tidak apa–apa dan penjelasannya lainnya yang sepertinya tidak menemui solusi dan tindakanya nyata. Dalam hati kami membatin, Tuhan tidak pernah menyalahi takdir-Nya. Jika air diberi gula pasti manis. Itulah takdir Tuhan, tidak mungkin tidak ada apa–apa antara saya dan istri,” tukas Ryan.
Di tengah kebimbangan diselimuti gundah gulana untuk mendapatkan buah hati, di penghujung 2016 yang lalu, Ryan dan istri dipertemukan Tuhan dengan Silvia dan Alfi.
Menurut Ryan, Silvia dan Alfi dikarunia Tuhan retorika yang sangat arkulatif lantaran menjelaskan kepadanya tentang perjuangan buah hati.
“Kami dijelaskan bagaimana kita memilih dokter spesialis yang tepat tentang keahlian dokter dalam bidang kebidanan dan kandungan. Seperti, SpOG, SpOG KFER dan SpOG FETOMATERNAL,” beber Ryan.
Diakui Ryan, sebagai masyarakat awam di dunia kedokteran, dirinya tidak terlalu serius memperhatikan sub spesialisasi SpOG. Yang ia ketahui secara umum, SpOG adalah gelar yang disandang para dokter kandungan dengan spesialisasi kesehatan sistem reproduksi wanita. Padahal bidang ini memiliki sub –spesialisasi.
“Sebagian dokter spesialis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sub spesialis atau lebih dikenal sebagai konsultan. SpOG (K) berarti konsultan/sub spesialis. SpOG KFER, Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Selanjutnya subspecialis fetomaternal,” urai Ryan.
Berbekal informasi dari Alfi dan Silvia, 25 Januari 2017, setelah hampir 6 tahun pernikahan, Ryan beserta istrinya direkmendasikan ke salah satu dokter SpOG K(Fer) terbaik di Palembang yakni Dr Aerul Cakra Alibasya SpOG K (Fer) di Klinik Imaya Palembang.
“Persentase terjadinya kehamilan, 30 persen faktor sperma, 20 perse. gangguan ovulasi, 20 persen faktor Tuba, 5 persen faktor Rahim, 25 pwrsen unexplained atau tidak bisa dijelaskan,” imbuh Ryan.
Menurut WHO, lanjut Ryan, jumlah sperma normal adalah 15.000.000 lebih. Jika angkanya di bawah itu, maka dikategorikan jumlah sperma yang diproduksi sedikit.
Sementara suami 10.600.000, termasuk jumlah sperma yang diproduksi sedikit. Kemudian lanjut ke pemeriksaan istri.
Pada konsultasi pertama dokter menemukan adanya perlengketan di jalan sperma berenang menggapai sel telur, lalu micropolyp (mematikan sperma) dan myoma uteri (mengganggu pembuahan, tumor jinak yang berasal dari otot rahim).
“Kami dapat simpulkan, sudah jumlah spermanya sedikit, mau masuk terhalang perlengketan, sampe pun harus berhadapan dengan micropolyp sekaligus ancaman myoma uteri. Jelas sudah, jika hanya menanti dalam pasrah, berapa tahun kemudian. Akhirnya kami sampaikan kepada dokter, dokter, bimbing kami untuk berusaha,” ungkap Ryan.
Hampir 6 tahun menanti dengan rasa bercampur dilakoni Ryan bersama istrinya dengan pemilihan dokter yang tepat, sehingga Allah SWT memberikan karunia-Nya seorang cahaya mata bagi keduanya.
“25 November 2017, lahirlah buah cinta kami dengan proses persalinan normal, laki–laki. Sangat melegakan dengan mencium wangi bayi yang sangat khas adalah aroma yang melegakan. Aroma yang melegakan dalam Bahasa Arab adalah Nafhan. Sehingga kami beri nama Nafhan Zein Atiyan,” pungkas Ryan. (wid)











