Basarnas Maksimalkan Golden Time, Dua Korban Pesawat Jatuh di Maros Ditemukan

Writer: - Selasa, 20 Januari 2026
Tim SAR gabungan menemukan serpihan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung [SuaraSulsel.id/Basarnas]

Maros, Sumselupdate.com – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap insiden pesawat yang hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) memasuki fase paling krusial. Hingga hari ketiga pascakejadian, Senin (19/1/2026), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) berpacu dengan waktu dan kondisi alam ekstrem untuk memaksimalkan periode emas penyelamatan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, respons cepat menjadi faktor penting dalam operasi tersebut. Lokasi jatuhnya pesawat berhasil diidentifikasi dalam waktu kurang dari 24 jam sejak kejadian.

Read More

“Kurang dari 24 jam sejak kejadian, tim SAR gabungan telah menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Saat ini kami memaksimalkan golden time pencarian dengan harapan seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, khususnya dalam kondisi selamat,” ujar Syafii dalam keterangan pers.

Upaya tim SAR gabungan mulai membuahkan hasil. Hingga Senin (19/1/2026), Basarnas mengonfirmasi telah menemukan dua korban dari lokasi reruntuhan pesawat. Korban pertama ditemukan pada Minggu (18/1/2026) berjenis kelamin laki-laki. Selanjutnya, pada hari ketiga operasi, tim kembali menemukan satu korban berjenis kelamin perempuan.

Terkait identitas korban, Basarnas menegaskan bahwa proses identifikasi sepenuhnya menjadi kewenangan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

“Proses identifikasi korban bukan menjadi kewenangan Basarnas dan akan dilakukan oleh instansi yang berwenang sesuai prosedur,” tegas Syafii.

Berdasarkan hasil pemetaan di lapangan, posisi korban berada di area tebing curam dengan kedalaman diperkirakan mencapai 500 meter dari puncak gunung. Kondisi tersebut menuntut teknik evakuasi vertikal yang presisi serta kehati-hatian tingkat tinggi.

Syafii menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan adalah kondisi cuaca dan alam yang ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi hambatan utama dalam proses pencarian dan evakuasi.

Rencana evakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter terpaksa ditunda karena jarak pandang pilot sangat terbatas akibat kabut tebal yang menyelimuti kawasan pegunungan.

“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, namun hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkapnya.

Saat ini, fokus utama operasi bertumpu pada tim rescue darat yang terus berupaya menembus medan berat. Personel SAR gabungan yang terlibat merupakan tim terlatih yang telah mengenal karakteristik jalur ekstrem di lokasi kejadian.

“Ini adalah misi kemanusiaan. Seluruh personel SAR gabungan bekerja dengan penuh dedikasi, kehati-hatian, dan semangat kebersamaan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar operasi ini berjalan lancar dan seluruh personel diberikan keselamatan,” pungkas Syafii.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts