Anis Matta: Semua Bisa Jadi Pahlawan

Diskusi Hari Pahlawan yang digelar Partai gelora

Jakarta, Sumselupdate.com – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Rakyat Indonesia Anis Matta menilai, tiga Pahlawan Nasional ini telah memberikan kontribusi luar biasa dengan peran masing-masing pada saat itu. Yakni HOS Tjokroaminoto, Bung Tomo dan KH Hasyim Asyari.

HOS Tjokroaminoto telah melahirkan pemimpin bangsa seperti Sukarno (Bung Karno). Sedangkan Bung Tomo (Dr Sutomo) adalah jurnalis yang berani mengambil-alih kepemimpinan untuk mempertahankan kemerdekaan. Sementara KH Hasyim Asyari adalah ulama yang telah melahirkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Read More

“Pak Tjokro (HOS Tjokoaminito)  adalah pemimpin yang melahirkan pemimpin, Bung Tomo adalah seorang jurnalis yang mengambil alih posisi kepemimpinan, serta KH Hasyim Asyari adalah ulama yang telah melahirkan Resolusi Jihad  untuk mempertahankan kemerdekaan dan Ini semua adalah kontribusi luar biasa,” kata Anis Matta dalam diskusi Gelora Talk bertajuk ‘Semua Bisa Jadi Pahlawan, Gelorakan Semangat Kepahlawanan’, Rabu (10/11/2021).

Diskusi yang disiarkan live dari Museum HOS Tjokroaminoto , Surabaya ini menghadirikan narasumber Wakil Ketua Syuriah NU Surabaya Imam Ghozali Said, dan Pahlawan UMKM Titik Suwandari.
Menurut Anis Matta, semua orang bisa menjadi pahlawan, apalagi bangsa Indonesia sedang menghadapi krisis berlarut akibat pandemi Covid-19.

Bangsa Indonesia, kata Anis mempunyai banyak pahlawan yang tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan tetapi mengisi kemerdekaan itu sendiri.

“Semangat kepahlawan sekarang dalam konteks berbeda, semua orang bisa menjadi pahlawan. Semangat pahlwan itu, adalah semangat memberi, dari profesi apapun, posisi apapun. Kita datang dengan semangat yang sama. Semangat itulah yang membuat kita menjadi besar,” katanya.

Semangat HOS Tjokroaminoto selain melahirkan pemimpin, yang perlu dilanjutkan adalah semangat memberdayakan ekonomi dalam upaya untuk membangkitkan ekonomi pribumi dengan mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI), yang kemudian diubah menjadi Sarikat Islam (SI).

“Saya kira istilah pribumi waktu itu, tentu saja sangat tepat. Ya cuma kalau sekarang, saya tidak terlalu ingin menggunakan istilah pribumi dan nonpribumi seperti, karena pada dasarnya semua warga Indonesia,” kata Anis Matta

Apa yang dilakukan HOS Tjokroaminoto itu, tambah Anis, telah melampaui apa yang mereka miliki, dari hasil diskusi rumit di tengah tekanan hidup yang sangat berat.
“Inilah tindakan kepahlawan, melampaui sumber daya di antara sumber daya. Orang yang mau hidup dalam tekanan, akibat keterbatasan sumberdaya akan mencapai hal yang sangat besar,” katanya.

Atas tindakan pencapaian ini, lanjutnya, seorang pemimpin akan menjadi relevan, meskipun dengan sumberdaya yang sedikit.
“Mereka (HOS Tjokroaminoto dkk, red) tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu waktu akan menjadi satu ledakan sejarah dahsyat yang melahirkan satu republik Indonesia dan masuk dalam  proses pencatatan sejarah,” ujarnya.

“Bagaimana kita sekarang bisa menangkap tindakan kepahlawanan dengan kesadaran sejarah kita. Ke depan kita bisa membuat satu  proyeksi yang bisa memandu menatap masa depan,” jelasnya.

Wakil Ketua Syuriah NU Surabaya Imam Ghozali Said, menegaskan, kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak diberikan bangsa lain atau hadiah dari penjajah. Tetapi dengan perjuangan dan pengorbanan nyawa.

“Jepang memang sudah mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui pembentukan PPKI, tetapi bisa memanfaatkan momentum politik kekalahan Jepang, apalagi hadiah Sekutu, sehingga kita memproklamirkan kemerdekaan. Nah, ketika Sekutu datang ke Surabaya ditolak, tidak ada diplomasi. Dan ulama memberikan fatwa Resolusi Jihad, terjadilah peristiwa 10 Nopember yang dipimpin Bung Tomo. ” kata Ghozali Said.

Sementara itu, Pahlawan UMKM Titik Suwandari, instruktur dan narasumber di Disperindag Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengatakan, telah membina ratusan UMKM di Jatim. Titik secara khusus membina kaum perempuan untuk melakukan kegiatan sendiri selama pandemi Covid-19 agar tidak berdiam diri dan bisa menopang ekonomi keluarga.

“Saya berdayakan kaum perempuan melalui zoom atau saya datangi langsung ke rumah untuk membesarkan hati mereka, bisa menopang ekonomi keluarga dan mereka tidak manja lagi. Kita dampingi mereka dengan alat-alat yang ada di rumah dan bahan dari daerah itu,” katanya Titik Suwandari.

Ia mengatakan, bahan-bahan yang ada di sekitar mereka bisa dimanfaatkan dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi tertentu. Misalkan pelepah pisang bisa menjadi krupuk, ubi bisa menjadi sereal pengganti dan suplemen minuman kesehatan dari buah-buahan.

“Buah-buahan bisa dijadikan serbuk nutrisari seperiti yang dilakukan industri besar, kenapa UMKM kalah,  Padahal dengan alat blender dan wajan itu sudah jadi. Contoh di Batu kita hadirkan Apel dengan segala variasinya, Nanas Blitar dan Mangga Probolinggo dengan segala variasinya. Ini salah satu langkah-langkah yang kita lakukan dalam memberdayakan UMKM,” paparnya. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.