Muarabeliti,sumselupdate.com – Berdasarkan catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Mura angka kemiskinan di bumi Kan Serasan Sekentenan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017 lalu. Penurunannya sekitar 0,48 persen atau sebanyak 1.210 jiwa dari 14,24 persen atau 55.960 jiwa penduduk Maret 2017 lalu.
Kepala BPS Kabupaten Mura, Aldianda Maisal, mengatakan per Maret 2018 angka penduduk miskin di Kabupaten Mura masih 13,76 persen atau sebanyak 54.750 jiwa.
Di mana angka kemiskinan ini dipengaruhi keras oleh komoditas makanan, seperti beras, rokok kretek-filter, daging ayam ras, telur ayam ras, mi instan, gula pasir dan cabe merah. Serta komonditas non-makanan, seperti perumahan, listrik, bensin, pendidikan dan juga perlengkapan mandi.
Dari data tersebut, pada periode Maret 2017 ke periode Maret 2018, baik indeks kedalaman kemiskinan maupun indeks keparahan kemiskinan sama-sama mengalami penurunan.
“Angka kemiskinan di Kabupaten Mura sejak tiga tahun ini terus mengalami penurunan. Seperti halnya di periode Maret 2015 ke periode Maret 2016 mengalami penurunan 0,83 persen, yakni dari 15,13 persen atau 58.010 ribu, turun menjadi 14,30 persen atau 55.500 jiwa,” jelasnya usai menyampaikan data dan profil kemiskinan Kabupaten Mura Maret 2018, kepada Bupati Mura H Hendra Gunawan, Senin (14/1/2019).
Selanjutnya untuk periode Maret 2016 ke periode Maret 2017 turun sebanyak 0,06 persen. Dari persentase 14,30 persen atau sebanyak 5.550 orang, menjadi 14,24 persen atau sebanyak 5.596 orang.
Dia menambahkan masih tingginya angka kemiskinan di Mura dikarenakan garis kemiskinan di periode Maret 2018 juga mengalami kenaikan jika dibandingkan periode Maret 2017. Kenaikan terjadi sebesar 8,87 persen atau Rp.34.855. Dari Rp.392.740 perkapita perbulan menjadi Rp.427.595perkapita perbulan pada Maret 2018.
Nah, untuk mengukur kemiskinan BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
Sedangkan untuk metode yang digunakan, yakni dengan menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan dan non-makanan. Sehingga, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. (ain)











