Anggota DPR Dorong Perempuan Trenggalek Jadi Motor Zero Sampah dan Ketahanan Pangan

Writer: - Senin, 16 Februari 2026
Anggota DPR RI, Novita Hardini. (Foto; Sumselupdate.com/Humas DPR RI)

Trenggalek, Sumselupdate.com – Komitmen pemberdayaan perempuan kembali ditegaskan Anggota DPR RI Novita Hardini dalam kunjungan ke KWT Mawar Desa Jambu, Kecamatan Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, Jumat (13/2/2026).

Melalui Program Perempuan SARINAH (Selesaikan Masalah Sampah Organik dan Limbah), ia mendorong perempuan menjadi motor penggerak ketahanan pangan sekaligus solusi persoalan lingkungan.

Read More

Di hadapan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), Novita menegaskan, membangun daerah tanpa mengeksploitasi alam sangat penting.

Pembangunan harus berpijak pada keberlanjutan dan kekuatan komunitas perempuan.

“Kita ingin membangun ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan ketahanan perempuan. Jangan sampai eksploitasi hari ini mengorbankan masa depan anak cucu kita,” tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

Melalui program tersebut, KWT didorong menjadi pionir pengolahan sampah organik rumah tangga, limbah dapur SPPG, hingga limbah produksi menjadi pupuk organik. Langkah ini dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu mahalnya pupuk dan meningkatnya volume sampah.

Dikatakan, pengelolaan minyak jelantah dan pemilahan sampah secara terstruktur agar tidak lagi dibakar atau dibuang sembarangan itu penting

“Kita ingin Trenggalek menuju zero sampah. Sampah tidak boleh dibakar, harus diolah agar punya nilai ekonomi,” ujar Legislator Dapil Jawa Timur VII yang meliputi Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan dan Magetan.

Gerakan tersebut, sejalan dengan target pembangunan rendah emisi di daerah, sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai penggerak ekonomi berbasis lingkungan.

Sebelumnya pada Kamis (12/2) Novita juga melakukan kunjungan ke KWT Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek.

Pada kesempatan tersebut Novita juga mendorong peran strategis perempuan dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Hal ini dinilai bisa menjadi solusi atas kelangkaan dan mahalnya harga pupuk.

“Di satu sisi pupuk sulit dan mahal, di sisi lain sampah organik melimpah dan mencemari lingkungan. Jika dikelola dengan baik oleh KWT, ini bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” ujar anggota Komisi VII DPR RI itu.

Dia mengajak perempuan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayur dan buah guna menekan biaya hidup keluarga. Menurutnya, pemberdayaan perempuan di sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi jawaban konkret atas persoalan lingkungan.

“Kita dukung target Net Zero Carbon dengan memberdayakan KWT. Sampah organik harus diolah, bukan dibuang. Ini tentang membangun ekosistem yang berkesinambungan,” tegasnya.

Novita berkomitmen secara konsisten memberikan dorongan kepada perempuan di Trenggalek agar dapat menjadi subjek utama pembangunan. Menurutnya perempuan berdaya menggerakkan ketahanan pangan dari pekarangan rumah, sekaligus menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah bernilai ekonomi.

(**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts