Allahu Akbar, Demi Shalat Tepat Waktu Kapolda NTB Rela Pertaruhkan Jabatan!

Minggu, 16 Oktober 2016
Kapolda NTB pidato soal shalat tepat waktu (merdeka.com)

Nusa Tenggara Barat, Sumselupdate.com– Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Barat Brigadir Jenderal Umar Septono ini memang layak menjadi tauladan bagi masyarakat, terkhusus bagi aparat kepolisian. Selama ini dia dikenal sebagai pejabat polisi yang tak pernah menyombongkan diri, bahkan selalu mengingatkan anak buah untuk terus melayani masyarakat.

Baru-baru ini, dia kembali membuat hati anak buahnya bergetar saat melalui pidatonya yang menegaskan bahwa demi salat tepat waktu, dia rela mempertaruhkan pangkat dan jabatan yang disandangnya. Bahkan sebelumnya, seperti dilansir dari merdeka.com, Sabtu (15/10), Umar Septono juga mengundang simpati publik saat pidatonya memuji tukang sapu dan memuji dua bintara yang berani menghentikan mobil dinasnya ketika melaju.

Pada video berdurasi 1 menit 1 detik, yang diunggah akun Facebook Herman Juli Prasetyo, Jumat (14/10), Umar Septono menyebut bahwa baginya, panggilan tertinggi hanyalah panggilan untuk salat lima waktu. Atas alasan itu, dia pun rela meninggalkan kesibukannya di dunia.

“Lima waktu saya di awal waktu, berjemaah, di masjid, di saf depan sebelah kanan. Itu harga mati,” ucap Umar.

Karenanya, ketika azan berkumandang, Umar mengaku akan meninggalkan kegiatan apapun yang sedang dijalaninya, termasuk rapat yang dihadiri siapa pun petingginya. Demi itu pula, dia rela mempertaruhkan pangkat dan jabatannya.

“Dunia saya pertaruhkan, pangkat, jabatan ini,” tegas dia.

“Karena panggilan paling tinggi hanya satu, Allahuakbar, Allahuakbar. Mau panggilan mana lagi yang lebih tinggi,” ujar Kapolda dengan suara lantang.

Tauladani Tukang Sapu

Kapolda NTB Brigjen Pol Drs Umar Septono juga pernah mendapat pujian dari banyak netizen setelah foto dirinya bersama seorang tukang sapu beredar di Facebook.

Kapolda NTB dan tukang sapu
Kapolda NTB dan tukang sapu

Kisah berawal ketika seorang tukang sapu yang telah mengabdi lama membersihkan markas komando dihadirkan secara khusus oleh Kapolda NTB itu saat apel Senin pagi, saat itu (29/6), di lapangan Gajah Mada Polda NTB. Pemandangan ini tentu tak wajar karena yang berhak di depan lapangan pada saat apel biasanya hanya para pejabat utama dan perwira menengah ke atas. Namun, kali ini ada tukang sapu berdiri dengan sapunya persis di samping Kapolda NTB saat memberi arahan.

Rupanya, Kapolda sengaja menghadirkan tukang sapu sebagai contoh tauladan untuk yang lain.

“Di mata dunia tukang sapu mungkin adalah strata terendah, tapi di mata Tuhan beliau ini lebih tinggi dari saya, bahkan mungkin dari kalian semua” ungkap Kapolda seperti dikutip dari laman Facebook itu.

Umar Septono melanjutkan, bahwa hanya dengan gaji Rp 500 ribu per bulan, tukang sapu tersebut sejak pukul 4.30 WITA sudah ada di Mapolda. “Walau pun rekan-rekan sebar sampah, dia diam saja. Apa kita tidak malu seperti itu? bahkan kita telah menzalimi beliau,” imbuh Kapolda.

Dalam kesempatan itu Kapolda pun berharap agar semua anggotanya menyadari bahwa tugas yang diemban adalah titipan Tuhan dan sebagai lahan ibadah yang sangat luas sebagai bekal di dunia dan akhirat.

Puji Anak Buah Penyetop Mobil Dinasnya

Pada kesempatan lain, Brigjen Umar Septono pernah memanggil dua bintara anggota Bhabinkamtibmas Polsek Praya Barat Daya, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berani menghentikan mobil dinasnya ketika melaju. Pada sebuah apel, kedua bintara tersebut yakni Brigadir Ketut Surya Ningrat dan Brigadir Indra Jaya Kusuma, pun disuruh berdiri di belakang sang jenderal.

Kapolda NTB dan anak buah penyetop mobil dinasnya
Kapolda NTB dan anak buah penyetop mobil dinasnya

Saat apel, apa yang terjadi pada kedua bintara tersebut? Brigjen Umar Septono pun menanyakan kenapa bintara ini berani menghentikan kendaraannya, padahal saat itu dirinya memakai seragam dinas lengkap. Rupanya, itu dilakukan kedua polisi itu dengan alasan ingin menyeberangkan seorang nenek yang membawa kelapa.

“Karena saya bekerja untuk masyarakat. Saya diberikan tugas untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan melayani pimpinan,” kata Ketut, disambut riuh tepuk tangan rekan-rekannya, seperti terlihat pada video yang diunggah ke Youtube pada 30 Juni lalu oleh Idho Rahaldi dengan judul ‘video aksi dan jawaban nekat Bhabinkamtibmas hentikan mobil dinas Kapolda NTB’.

Mendengar jawaban dari anak buahnya, Kapolda NTB ini ternyata sama sekali tidak marah.

Pak Kapolda justru dibuat kagum. Ia pun segera menggerakkan tangan kirinya, yang masih memegang tongkat komando, mengangkat topi. Umar ingin menunjukkan penghormatan atas dedikasi dua anggotanya itu.

“Saya pun merinding,” kata Umar. Dia lalu memuji keduanya di hadapan seluruh jajaran Polda NTB.

“Kenapa dia tidak takut, sebab dia mempertanggungjawabkan tugasnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia tahu, nasibnya tergantung kepada Tuhan, bukan kepada Kapolda,” katanya. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts