JP Morgan Beri Pandangan Overweight untuk Saham BBRI

Writer: - Jumat, 4 September 2026
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI. JP Morgan memberikan pandangan overweight terhadap saham BBRI dengan target harga Rp3.400 per saham untuk Juni 2027. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Jakarta, Sumselupdate.com – JP Morgan memberikan pandangan overweight terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) setelah kinerja bank tersebut pada semester I 2026 dinilai melampaui ekspektasi analis.

Dalam riset yang diterbitkan 31 Agustus 2026, analis JP Morgan Harsh Wardhan Modi AC dan Daniel Andrew Tan, CFA, menilai kinerja BBRI pada kuartal II 2026 lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Read More

“Kinerja BBRI pada 2Q26 mengalahkan perkiraan kami sebesar 21% dan perkiraan konsensus pasar sekitar 12%. Kinerja ini terutama didorong oleh sisi biaya, sementara pendapatan hanya 2% di atas perkiraan,” demikian dikutip dari riset JP Morgan.

JP Morgan juga mencatat sejumlah indikator positif pada kinerja BBRI. Net interest income (NII) meningkat 1% secara kuartalan, sementara net interest margin (NIM) berada sesuai dengan ekspektasi.

Namun, JP Morgan mengingatkan bahwa peningkatan sejumlah rasio keuangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kenaikan loan-to-deposit ratio (LDR) BBRI yang mencapai 104% pada kuartal II 2026.

Menurut JP Morgan, perkembangan penyaluran dana pemerintah serta kemampuan BRI menempatkan dana tersebut pada instrumen dengan tingkat imbal hasil yang tinggi melalui Bank Indonesia (BI) akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi NIM.

Selain itu, tingkat provisi BBRI sebesar 326 basis points (bps) secara gross dan 199 bps secara net dinilai menjadi faktor positif. Kualitas aset juga menjadi perhatian penting karena turut memengaruhi persepsi investor terhadap saham perbankan.

Dari sisi efisiensi, cost-to-income ratio (CIR) BBRI tercatat sebesar 41,5% atau relatif lebih baik dibandingkan perkiraan JP Morgan.

Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) turun tipis menjadi 2,9%, sedangkan coverage ratio berada di sekitar 180%.

Loans at risk (LAR) juga turun 52 basis points secara kuartalan menjadi 9,2%. Pada saat yang sama, LAR coverage meningkat menjadi 57%.

JP Morgan turut mencermati perkembangan penyaluran Kupedes. Penyaluran produk kredit tersebut meningkat menjadi Rp15,6 triliun pada kuartal II 2026 dari Rp15 triliun pada kuartal sebelumnya.

“Kupedes kembali mengalami percepatan setelah mencapai titik terendah, menjadi Rp15,6 triliun pada kuartal II-2026 dibandingkan Rp15 triliun pada kuartal I-2026. Ini kenaikan kuartalan pertama dalam enam kuartal yang cukup menjanjikan,” demikian dikutip dari riset tersebut.

Meski demikian, JP Morgan melihat terdapat sejumlah tantangan yang masih perlu diperhatikan BBRI.

Salah satunya adalah kemampuan bank dalam meneruskan kenaikan cost of funds kepada debitur. Kondisi tersebut dinilai relatif terbatas karena sebagian besar portofolio kredit BBRI terdiri atas pinjaman dengan suku bunga tetap dan semi-tetap.

Selain itu, BBRI tengah meningkatkan pertumbuhan kredit korporasi yang memiliki yield lebih rendah. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap NIM.

“Namun, sebagian besar penurunan tersebut tampaknya sudah tercermin dalam harga saham (priced in) sejak munculnya kabar mengenai penurunan loan yield PNM,” demikian dikutip dari riset JP Morgan.

JP Morgan menilai penurunan proyeksi konsensus pasar yang cukup besar dalam sejumlah aspek dapat menjadi semacam clearing event dalam jangka pendek.

Jika revisi turun terhadap proyeksi mulai berhenti, sementara valuasi saham BBRI berada di bawah minus dua standar deviasi (-2SD), kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang terjadinya rebound atau reli taktis.

“BBRI memiliki modal yang melebihi kebutuhan pertumbuhan. Oleh karena itu, kami memperkirakan rasio pembagian dividen (payout ratio) akan tinggi,” tulis JP Morgan.

Berdasarkan analisis tersebut, JP Morgan menetapkan target harga saham BBRI sebesar Rp3.400 per saham untuk Juni 2027.

Target tersebut menggunakan asumsi fair price to book value (P/BV) sebesar 1,24 kali melalui metode dividend discount model.

Asumsi yang digunakan JP Morgan antara lain normalized return on equity (RoE) sebesar 17,4%, risk-free rate 7%, cost of capital 15,4%, dan terminal growth rate 7%.

Selain JP Morgan, BNI Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap saham BBRI. BNI Sekuritas menetapkan target harga Rp4.500 per saham untuk horizon tiga bulan.

Dalam riset yang disusun Yulinda Hartanto, Ilham Firdaus, dan Vera Yap pada 31 Agustus 2026, BNI Sekuritas menilai valuasi BBRI relatif murah.

Forward PBV satu tahun BBRI berada di level 1,4 kali dan forward PE satu tahun sebesar 8 kali. Kedua indikator tersebut disebut berada sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

“Sementara itu, kekhawatiran terhadap kualitas aset tampaknya mulai mereda, tercermin dari tren penurunan pembentukan NPL,” demikian dikutip dari riset BNI Sekuritas.

Kinerja BBRI Semester I 2026

Sebelumnya, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa pertumbuhan bisnis perseroan kembali menguat pada semester I 2026.

Hingga semester I 2026, BRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan.

Hery mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan momentum bisnis BRI mulai kembali menguat, dengan tetap memperhatikan kualitas pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian.

“Kinerja kami, growth is back, strong, bisa dilihat pertumbuhan laba yang cukup bagus, kualitas pertumbuhan dari sisi disiplin pertumbuhan tetap kami jaga dan kami yakin ke depan,” kata Hery dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan II 2026 secara daring, Senin (31/8/2026).

Total aset BRI pada semester I 2026 mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% secara tahunan. Sementara kredit meningkat 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.

Sebagai bank yang memiliki fokus kuat pada sektor UMKM, portofolio kredit segmen tersebut mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% secara tahunan.

BRI juga mencatat pertumbuhan pada sejumlah segmen lain, termasuk kredit konsumer, small and medium, komersial, dan korporasi.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7% secara tahunan menjadi Rp1.580,7 triliun.

Pertumbuhan terutama berasal dari dana murah. Giro tumbuh 8,5% dan tabungan 11,3%, sedangkan deposito tumbuh 0,2%.

Kondisi tersebut membuat rasio CASA meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%.

Perbaikan struktur pendanaan juga menekan cost of fund bank only dari 3% pada kuartal II 2025 menjadi 2,4% pada kuartal II 2026.

Dari sisi kualitas aset, NPL BRI turun dari 3,07% menjadi 2,9%. Sementara LAR turun dari 9,6% pada Desember 2025 menjadi 9,1% pada Juni 2026.

Cost of credit juga membaik dari 3,4% menjadi 3,1%.

Sementara itu, net interest income (NII) BRI tumbuh 9,9% secara tahunan menjadi Rp80,5 triliun.

Hery mengatakan kinerja tersebut tidak terlepas dari transformasi yang terus dilakukan perseroan, mulai dari penguatan bisnis, budaya dan efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko.

“Transformasi yang kami jalankan secara konsisten sejak manajemen baru hadir di BRI mulai menunjukkan hasil yang positif. Kami melakukan penguatan dari sisi bisnis, budaya dan efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko yang tetap kuat. Transformasi ini membuat BRI semakin produktif dan mampu menjaga pertumbuhan secara sehat,” ujarnya.

Dengan berbagai indikator tersebut, JP Morgan menilai prospek BBRI masih memiliki katalis positif, terutama dari sisi kualitas aset, efisiensi, permodalan, serta potensi pembagian dividen.

Namun, target harga dan rekomendasi saham tersebut merupakan pandangan analis berdasarkan asumsi tertentu dan bukan merupakan jaminan terhadap pergerakan harga saham BBRI di masa mendatang.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts