Herman Deru Ingatkan Pemuda Muhammadiyah Jangan Anti Kritik dan Terjebak Post Power Syndrome

Writer: - Jumat, 4 September 2026
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat membuka Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) I Pemuda Muhammadiyah di Kota Lubuklinggau. Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru mengingatkan kader Pemuda Muhammadiyah agar tidak anti kritik dan terus meningkatkan kapasitas diri. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Lubuklinggau, Sumselupdate.com – Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru mengingatkan kader Pemuda Muhammadiyah agar tidak menjadi generasi yang anti kritik maupun terjebak dalam post power syndrome.

Menurut Herman Deru, pemuda harus terus belajar, menempa kemampuan diri, terbuka terhadap kritik, serta mampu menghadirkan solusi bagi organisasi dan masyarakat.

Read More

Pesan tersebut disampaikan Herman Deru saat membuka Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) I Pemuda Muhammadiyah di Kota Lubuklinggau, Kamis (3/8/2028).

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wakapolda Sumsel Brigjen Roni Santama, Wali Kota Lubuklinggau H. Rahmat Hidayat, Bupati Empat Lawang H. Joncik Muhammad, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Lubuklinggau.

Herman Deru mengatakan dirinya telah berkomitmen untuk hadir dalam kegiatan penting bagi Pemuda Muhammadiyah tersebut.

Ia menilai Rapimwil tidak seharusnya hanya menjadi forum untuk menguji kepemimpinan, tetapi juga harus menghasilkan rekomendasi bagi organisasi serta solusi terhadap berbagai persoalan.

“Ketua kepala tidak seberat pemimpin. Pemimpin harus solutif. Orang datang kepada pemimpin pasti membawa masalah,” kata Herman Deru.

Ia juga mengingatkan peserta Rapimwil agar menyadari bahwa setiap individu memiliki nilai dan harus mampu memberikan kontribusi, baik untuk dirinya sendiri maupun organisasi.

“Sadarkah adik-adik, kalian itu orang yang berharga. Itu dulu. Kita hadir ini karena kita bernilai,” ujarnya.

Menurut Herman Deru, sebuah organisasi harus memiliki tujuan yang jelas. Ketika seorang pemuda memilih bergabung dengan organisasi, proses tersebut seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar sekaligus menempa diri.

“Organisasi harus memiliki tujuan, seperti pintu masuk,” katanya.

“Untuk itu, modal dasar untuk belajar, jangan malu-malu,” sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru juga menyinggung budaya gengsi yang menurutnya cukup kuat di Sumatera Selatan.

Ia menilai sifat tersebut tidak harus dihilangkan, melainkan perlu dikelola agar dapat menjadi energi positif untuk mendorong kemajuan.

“7 x 7= 49. Setuju dak setuju penampilan, apa harus kita buang itu? Kita harus kelola,” katanya.

Herman Deru menambahkan, berbagai karakter yang berkembang di tengah masyarakat Sumatera Selatan harus ditempatkan secara tepat sehingga dapat memberikan manfaat bagi kemajuan diri maupun lingkungan.

Selain itu, ia mengingatkan kader Pemuda Muhammadiyah mengenai pentingnya menjaga citra organisasi.

Menurutnya, setiap organisasi memang memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai pedoman. Namun, dalam praktiknya, orientasi berorganisasi terkadang dapat membuat seseorang lebih mengutamakan kepentingan tertentu dibandingkan menjaga citra organisasi.

“Saya ngomong begini, ini muaranya proposal organisasi, jadi saya hafal. Organisasi itu datang kalau hanya butuh saja,” ungkapnya.

Herman Deru mengatakan, seseorang yang memutuskan bergabung dalam organisasi pada dasarnya memiliki keinginan untuk belajar menjadi seorang pemimpin.

Karena itu, pengalaman dan proses pembelajaran selama berorganisasi dinilai penting untuk membentuk karakter serta kemampuan kepemimpinan.

“Saya ingatkan kepada seluruh Pemuda Muhammadiyah, jangan jadi pemuda Muhammadiyah yang anti kritik, post power syndrome. Ini penyakit. Pemuda Muhammadiyah harus jadi pemuda yang up to date,” tegas Herman Deru.

Ia juga menyoroti persoalan dari kalangan generasi tua yang masih aktif dalam organisasi, tetapi terkadang cenderung meremehkan kemampuan kaum muda.

Menurut Herman Deru, sikap tersebut juga menjadi persoalan yang perlu diperbaiki. Hubungan antara generasi senior dan generasi muda, kata dia, semestinya dibangun melalui proses saling belajar dan memberikan ruang bagi regenerasi kepemimpinan.

Meski demikian, ia menilai pengalaman atau jam terbang tetap menjadi bagian penting dalam proses pembentukan seorang pemimpin.

“Ini penyakit juga. Untuk itu, jam terbang itu penting,” katanya.

Herman Deru berharap kader Pemuda Muhammadiyah mampu memanfaatkan organisasi sebagai ruang untuk belajar, memperluas pengalaman, membangun kepemimpinan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan sikap terbuka terhadap kritik dan kemampuan menghadirkan solusi, pemuda diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi juga mampu menjadi kekuatan penting dalam menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts