Karhutla Sumsel Melonjak 1.261 Hektar dalam Sebulan, Puncak Kemarau Jadi Ancaman Serius

Writer: - Sabtu, 15 Agustus 2026
Petugas melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Luas karhutla di Sumsel hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare, dengan tambahan 1.261,4 hektare hanya dalam satu bulan. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase mengkhawatirkan. Luas lahan yang terbakar melonjak 1.261,4 hektar hanya dalam satu bulan, seiring semakin keringnya kondisi pada puncak musim kemarau.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas karhutla di Sumsel sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektar.

Read More

Padahal, hingga Juni 2026, luas lahan yang terbakar baru mencapai 664,8 hektar. Artinya, sepanjang Juli 2026 terjadi tambahan luas karhutla mencapai sekitar 1.261,4 hektare.

Lonjakan tersebut menjadi perhatian karena Sumsel kini memasuki periode yang diperkirakan sebagai puncak musim kemarau. Kondisi ini dikhawatirkan semakin meningkatkan potensi kebakaran, sementara ketersediaan sumber air untuk pemadaman mulai terbatas.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut diperoleh melalui analisis citra satelit hasil kerja sama Kementerian Kehutanan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Luas karhutla Sumsel hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektar. Dari total luasan karhutla tersebut, sebanyak 1.857,7 hektare terjadi di lahan mineral dan 68,5 hektar di lahan gambut,” ujar Ferdian, Sabtu (15/8/2026).

Karhutla Sumsel Lampaui Tiga Tahun Terakhir

Luas karhutla Sumsel hingga Juli 2026 juga telah melampaui luasan kebakaran pada periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, luas karhutla Sumsel tercatat 1.178,5 hektare pada 2023, kemudian 963,1 hektar pada 2024 dan 1.382,4 hektare pada 2025.

Sementara pada 2022, luas karhutla mencapai 2.445,7 hektar.

Dengan capaian 1.926,2 hektar hingga Juli 2026, luas karhutla Sumsel kini hanya terpaut sekitar 519,5 hektar dari total luasan kebakaran sepanjang 2022.

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tiga tahun terakhir dan menjadi perhatian serius menjelang puncak kemarau.

OKU Jadi Daerah dengan Karhutla Terluas

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar di Sumsel hingga Juli 2026.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas lahan terbakar di OKU mencapai 516 hektar.

Posisi berikutnya ditempati Banyuasin dengan 274,4 hektare, termasuk 17,5 hektar lahan gambut.

Kemudian Ogan Ilir mencapai 272,5 hektare dan Ogan Komering Ilir (OKI) 230,3 hektare.

Musi Banyuasin (Muba) menyusul dengan luas karhutla mencapai 228 hektar, termasuk 29,1 hektar yang terjadi di lahan gambut.

Selanjutnya, Muaraenim tercatat 141,9 hektare dan Musi Rawas Utara (Muratara) 111,9 hektar, termasuk 19,9 hektare lahan gambut.

Karhutla juga tercatat di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) seluas 57,4 hektar, OKU Selatan 55,2 hektar, OKU Timur 23,2 hektar, Prabumulih 7,3 hektar, Lahat 6 hektar, Palembang 1,5 hektar dan Musi Rawas 0,6 hektar.

Sementara itu, tiga daerah, yakni Lubuklinggau, Pagaralam dan Empat Lawang, belum tercatat memiliki luasan karhutla berdasarkan hasil analisis tersebut.

Agustus-September Jadi Periode Rawan

Ferdian mengatakan peningkatan luas karhutla harus menjadi peringatan karena Sumsel mulai memasuki puncak musim kemarau.

Agustus hingga September diperkirakan menjadi periode paling rawan terjadinya kebakaran. Selain kondisi lahan yang semakin kering, ketersediaan sumber air di sejumlah lokasi juga mulai terbatas.

“Tentunya ini menjadi warning penting. Peningkatan signifikan dan ancaman ke depan dapat terjadi seiring dengan puncak musim kemarau yang terjadi Agustus-September,” kata Ferdian.

Kondisi tersebut membuat upaya penanganan karhutla menghadapi tantangan lebih besar. Pemadaman tidak hanya membutuhkan personel dan peralatan, tetapi juga dukungan sumber air yang memadai.

OMC Terkendala Minimnya Awan Potensial

Upaya lain untuk mengantisipasi dampak kemarau dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).

Namun, upaya tersebut menghadapi kendala karena kondisi atmosfer pada musim kemarau tidak selalu menyediakan awan potensial yang dapat disemai untuk menghasilkan hujan.

“Kondisi di lapangan semakin susah air dan OMC juga tidak sesuai target, karena tidak ada awan potensial di musim kemarau,” jelas Ferdian.

Dengan kondisi tersebut, ancaman karhutla di Sumsel diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Peningkatan luas lahan terbakar pada Juli menjadi sinyal bahwa pengendalian karhutla membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran yang besar.

Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan lahan kering dan daerah yang sulit mendapatkan sumber air.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts