Havana, Sumselupdate.com – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menuding Amerika Serikat (AS) berupaya mengambil alih negaranya melalui kebijakan tekanan ekonomi yang semakin diperketat. Ia menegaskan Kuba akan terus mempertahankan kedaulatan nasional di tengah embargo yang disebutnya telah memicu krisis berkepanjangan.
Pernyataan itu disampaikan Diaz-Canel saat memimpin peringatan Hari Pemberontakan Nasional ke-73 di Provinsi Pinar del Rio, Kuba bagian barat, Minggu (27/7) waktu setempat.
Dalam pidatonya, Diaz-Canel menilai Washington sengaja menerapkan kebijakan yang bertujuan “mencekik seluruh rakyat agar dapat mengambil alih negara ini.”
Menurutnya, pemerintah AS terus meningkatkan tekanan terhadap Kuba melalui embargo energi dan pemblokiran sistem keuangan yang memperparah kondisi ekonomi negara tersebut.
Dia mengatakan kebijakan itu telah menyebabkan krisis serius pada sistem kelistrikan nasional. Pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari satu hari di sejumlah wilayah disebut telah mengganggu aktivitas masyarakat maupun sektor industri.
Diaz-Canel menggambarkan embargo AS sebagai bentuk “senjata perang” terhadap rakyat Kuba.
“Menyiksa rakyat Kuba melalui blokade demi memicu mereka memberontak melawan pemerintah mereka merupakan suatu kejahatan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan sanksi sepihak AS setiap tahun mendapat kecaman dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Bahkan, Diaz-Canel menyebut Kuba sebagai “korban genosida yang direncanakan dengan dingin”, merujuk pada dampak sanksi ekonomi terhadap sistem kesehatan dan kehidupan masyarakat di negara kepulauan tersebut.
Meski menghadapi tekanan, Diaz-Canel memastikan pemerintahannya akan terus mempertahankan hak Kuba untuk menentukan sistem pemerintahannya sendiri.
“Kuba bukanlah ancaman, melainkan bangsa yang menyelamatkan nyawa ketika negara lain menghancurkan, mengirim dokter dan guru ketika negara lain mengirim bom,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Diaz-Canel juga memaparkan arah kebijakan pemerintah yang baru. Ia mengatakan Kuba tengah menjalankan program berisi 176 langkah strategis yang bertujuan mendorong perubahan mendasar di berbagai sektor.
Program tersebut antara lain mencakup penerapan model tata kelola baru, peningkatan produktivitas pekerja dan petani, serta membuka peluang investasi yang dinilai bertanggung jawab.
Menurutnya, Kuba akan menghadapi tekanan ekonomi dengan meningkatkan efisiensi kerja, memperkuat persatuan nasional, serta mengatasi isolasi internasional melalui solidaritas.
Hari Pemberontakan Nasional diperingati setiap 26 Juli untuk mengenang penyerbuan Barak Moncada di Santiago de Cuba dan Barak Carlos Manuel de Cespedes di Bayamo pada 1953 yang dipimpin mendiang pemimpin revolusi Fidel Castro bersama sekitar 100 pengikutnya. Aksi tersebut menjadi tonggak awal Revolusi Kuba yang kemudian menggulingkan pemerintahan Fulgencio Batista.
(**)











