Trump Klaim AS Akan Kelola Venezuela Usai Serangan Militer dan Penangkapan Presiden Maduro

Writer: - Minggu, 4 Januari 2026
Seorang warga berunjuk rasa di dekat Istana Miraflores di Caracas, ibu kota Venezuela, pada 3 Januari 2026. Militer Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat, dan dilaporkan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro kemudian menerbangkannya ke luar negeri. (Xinhua/Str)

Washington, Sumselupdate.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (3/1) menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela setelah militer AS melancarkan serangan besar-besaran ke negara tersebut dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores. Keduanya dilaporkan telah diterbangkan ke New York.

“Kami akan mengelola negara itu sampai kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump dalam konferensi pers di klub pribadinya, Mar-a-Lago, Florida.

Read More

Trump menegaskan AS tidak ingin melibatkan pihak lain dalam proses tersebut dan menyatakan akan tetap berada di Venezuela hingga transisi kekuasaan dinilai berjalan dengan baik. Namun, ia tidak memberikan kepastian mengenai durasi masa transisi itu.

Ia juga menyebut sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, akan bekerja sama dengan sebuah tim khusus untuk membantu mengelola Venezuela.

Trump tidak menutup kemungkinan keterlibatan militer AS lebih lanjut. “Kami tidak takut menurunkan pasukan ke lapangan,” ujarnya.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, mengatakan pasukan AS akan tetap berada di kawasan tersebut usai serangan berskala besar dan penangkapan Maduro. Menurutnya, pasukan AS berada dalam kondisi siaga tinggi untuk memproyeksikan kekuatan serta melindungi kepentingan AS di wilayah tersebut.

Menanggapi pertanyaan soal kehadiran militer AS selama masa transisi, Trump menyebut keberadaan AS di Venezuela berkaitan dengan sektor minyak. Ia mengatakan AS akan mengirimkan keahlian untuk mengelola sumber daya energi, meski mengklaim tidak akan melibatkan banyak pasukan.

Trump juga mengungkapkan rencananya mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS untuk mengambil alih dan berinvestasi dalam infrastruktur energi Venezuela. Meski demikian, ia menegaskan embargo terhadap seluruh minyak Venezuela tetap diberlakukan sepenuhnya.

“Embargo terhadap seluruh minyak Venezuela tetap berlaku. Armada Amerika tetap siaga dan semua opsi militer tetap terbuka hingga tuntutan AS dipenuhi,” kata Trump.

Trump mengklaim kekayaan sumber daya alam Venezuela akan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat negara tersebut, warga Venezuela di luar negeri, serta dikirim ke AS sebagai bentuk ganti rugi atas kerugian yang diklaim dialami negaranya.

Trump juga menyatakan kebijakan tersebut menandai berakhirnya Doktrin Monroe yang telah diterapkan AS sejak awal abad ke-19.

Sementara itu, aksi protes bertajuk “Tolak Perang di Venezuela” direncanakan berlangsung di Washington DC, Chicago, New York, dan sejumlah kota lainnya di AS. Salah satu penyelenggara aksi, Answer Coalition, menyatakan rakyat AS tidak menginginkan perang berkepanjangan yang dinilai hanya akan membawa penderitaan dan kehancuran bagi rakyat Venezuela.

Serangan militer AS dan penangkapan Maduro menuai kecaman internasional. Pemerintah Venezuela mengecam tindakan tersebut sebagai agresi militer yang menargetkan lokasi sipil dan militer di setidaknya empat negara bagian.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan mendalam atas tindakan militer AS. Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Guterres menegaskan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

(**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts