Aden, Sumselupdate.com – Kepala Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) Yaman, Aidarous Al-Zubaidi, mengumumkan dimulainya periode transisi selama dua tahun di wilayah selatan Yaman.
Pengumuman tersebut disampaikan di Aden, Jumat (2/1/2025), yang menandai langkah menuju referendum penentuan nasib sendiri bagi Yaman selatan.
Dalam pidato yang disiarkan melalui kanal AIC yang terafiliasi dengan STC, Al-Zubaidi mengatakan selama masa transisi tersebut STC akan mengelola wilayah selatan sebelum pelaksanaan referendum kemerdekaan.
Ia menyebut keputusan itu didasarkan pada mandat rakyat serta perkembangan keamanan dan administrasi terbaru di kawasan tersebut.
“Periode transisi dua tahun ini akan diakhiri dengan deklarasi konstitusional untuk memulihkan Negara Yaman Selatan,” ujar Al-Zubaidi. Ia menambahkan deklarasi tersebut direncanakan berlangsung pada 2 Januari 2028.
Setelah masa transisi berakhir, referendum penentuan nasib sendiri akan dilaksanakan melalui mekanisme damai dan transparan serta sesuai dengan standar yang diakui secara internasional.
Namun, Al-Zubaidi menegaskan deklarasi konstitusional tersebut dapat dilakukan lebih awal apabila seruan STC diabaikan atau jika rakyat, wilayah, maupun pasukan Yaman selatan menjadi sasaran agresi militer. Menurutnya, seluruh opsi masih terbuka.
Hingga kini, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi terkait pengumuman STC tersebut.
Pengumuman itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan dan bentrokan antara pasukan yang berafiliasi dengan STC dan tentara pemerintah Yaman terkait perebutan kendali pangkalan militer serta institusi negara di Provinsi Hadramout, wilayah kaya minyak di bagian tenggara Yaman.
Dalam beberapa jam terakhir, pertempuran dilaporkan semakin intensif seiring upaya kedua pihak memperluas pengaruh di wilayah strategis tersebut, menurut sumber-sumber setempat.
Media lokal dan sejumlah sumber militer melaporkan pesawat tempur Arab Saudi meningkatkan serangan udara di beberapa lokasi di Hadramout, termasuk Bandara Seiyun dan wilayah sekitarnya, yang mengakibatkan korban jiwa.
Yaman telah terjerumus dalam konflik berkepanjangan sejak 2014, ketika kelompok Houthi merebut Ibu Kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara. Kondisi itu memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015.
STC dibentuk pada 2017 dengan dukungan Uni Emirat Arab dan mengusung agenda penentuan nasib sendiri hingga kemerdekaan Yaman selatan.
Meski bergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi dan terintegrasi ke dalam Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman pada 2022, STC terus mendorong kedaulatan Yaman selatan, yang kerap memicu perselisihan terkait pembagian kekuasaan dan penguasaan sumber daya.
(**)











