Beirut, Sumselupdate.com – Pihak berwenang dan warga setempat melaporkan bahwa serangan udara Israel di Lebanon Selatan menghancurkan ratusan ekskavator dan buldoser yang digunakan untuk pekerjaan rekonstruksi sipil. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan keterlambatan besar dalam pembangunan kembali wilayah tersebut, hampir setahun setelah berakhirnya konflik perbatasan antara Israel dan Hizbullah.
Warga mengatakan, serangan udara tersebut menghantam pabrik, jalan raya, serta showroom mesin di berbagai kota, mengakibatkan kerugian besar bagi kontraktor lokal. Banyak alat berat yang menjadi sasaran merupakan milik perusahaan yang tengah mengerjakan proyek-proyek kota seperti pembersihan puing, perbaikan jalan, dan restorasi jaringan air serta limbah.
“Semua yang kami miliki, semua mesin dan peralatan, hancur dalam sekejap,” ujar Ahmad Tabaja, pemilik pabrik ekskavator di Msayleh, Lebanon Selatan, yang kini rata dengan tanah. “Puluhan buldoser dan ekskavator berubah menjadi rangka gosong. Ini adalah pabrik sipil, bukan target militer.”
Pejabat intelijen militer, Pasukan Keamanan Dalam Negeri, serta pemerintah kota Lebanon mengungkapkan bahwa Israel telah berulang kali menargetkan mesin ekskavasi dan lokasi konstruksi di Lebanon Selatan sejak gencatan senjata diberlakukan. Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa pihaknya menyerang “infrastruktur dan peralatan teknik Hizbullah yang digunakan untuk membangun kembali fasilitas teroris.”
Survei yang dilakukan pemerintah kota setempat dan Council of the South—lembaga yang memberikan kompensasi kepada korban perang di wilayah selatan—menemukan sekitar 400 ekskavator dan buldoser hancur atau rusak berat. Akibatnya, pekerjaan pembersihan puing dan rehabilitasi infrastruktur menjadi lumpuh. Kerugian di Msayleh saja diperkirakan mencapai 15 juta dolar AS (sekitar Rp248,7 miliar), sementara daerah sekitar menanggung tambahan kerugian sebesar 30 juta dolar AS, menurut laporan peneliti lokal.
Pihak berwenang kini mempertimbangkan permintaan bantuan internasional untuk mengganti alat berat yang hancur. Namun, pembatasan impor serta krisis keuangan yang melanda Lebanon berpotensi menunda pemulihan selama berbulan-bulan, ujar seorang sumber di Sindikat Kontraktor Lebanon.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, telah memerintahkan Menteri Luar Negeri, Youssef Rajji, untuk mengajukan keluhan mendesak kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap Resolusi PBB 1701 dan kesepakatan gencatan senjata November tahun lalu.”
Israel dan Hizbullah sebelumnya terlibat konflik lintas perbatasan selama 13 bulan pasca meletusnya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023. Konflik itu memaksa puluhan ribu warga Lebanon Selatan mengungsi dan menyebabkan kerusakan luas pada kota serta infrastruktur.
Meski gencatan senjata telah dicapai pada November 2024, pasukan Israel masih melancarkan serangan udara di Lebanon Selatan dengan alasan menghadapi ancaman dari Hizbullah. Israel juga tetap mempertahankan posisi militer di lima titik di sepanjang perbatasan, meski penarikan pasukan dijadwalkan sejak 18 Februari lalu.
(**)











