Palembang, Sumselupdate.com – Kegagalan meraih hasil di turnamen Piala Gubernur Kaltim, menambah rekor buruk bagi head coach Sriwijaya FC (SFC) Beny Dollo. Ia yang dicap sebagai pelatih kawakan dan kenyang dengan pengalaman, sampai saat ini belum sekalipun mempersembahkan gelar bagi Laskar Wong Kito. Bahkan, kegagalan demi kegagalan terus mengikuti tim peraih double winner di masa Kas Hartadi ini.
Kini Bendol terus didesak diganti oleh pendukung SFC. Sejak kegagalanya di turnamen Piala Jenderal Sudirman, pelatih berusia 65 tahun ini dianggap tidak lagi produktif.
Manajemen enggan banyak komentar terkait evaluasi di jajaran pelatih, seperti dikonfirmasi ke Sekretaris Tim Achmad Haris, ia mengaku belum ada bahasan untuk evaluasi pelatih. Meskipun, Haris berjanji akan membahas hal tersebut dengan Manajemen usai Piala Bhayangkara. Menurutnya, Manajemen tidak akan terburu-buru dan gegabah dalam mengambil keputusan mengenai posisi pelatih SFC.
“Untuk sekarang belum ada. Tapi lihat nanti mungkin usai Piala Bhayangkara. Tapi, semua akan dilakukan dengan objektif, kita akan mendengarkan laporan dari tim pelatih terlebih dulu. Tetapi masukan dari kelompok suporter dan masyarakat pecinta SFC juga akan menjadi pertimbangan nantinya,” ungkap Haris.
Sementara, kicauan untuk mengganti Bendol, sangat ramai diperbincangkan di media sosial. Strategi dan taktik yang diterapkan oleh pelatih dinilai setiap pertandingan, sangatlah monoton. Sehingga, lawan yang dihadapi dapat dengan mudah menunduki klub kebanggaan masyarakat Sumsel.
Dengan demikian, pendukung SFC meminta kepada manajemen klub bermarkas di Jakabaring ini, agar Bendol dipecat dari kursi kepelatihan yang dipegangnya saat ini. Karena sudah gagal membawa SFC untuk lebih baik lagi.
“Bendol dipecat saja, saya berharap dengan manajemen SFC, agar kembali memikirkan untuk menggunakan tenaga dia. Masih banyak pelatih bagus lainnya, seperti Indra Safry, Nil Maizar, atau Kas Hartadi,” ujar Ketua Umum Suporter Sriwijaya Mania Eddi Ismail
Menurutnya, usai mencetak gol ke gawang Pusamania Borneo FC dan Surabaya United pada babak semifinal Piala Gubernur Kaltim. Terlihat, Bendol langsung merubah stregi dari menyerang ke bertahan. Alhasil, pemain lawan langsung menggempur pertahanan SFC, dan mampu menyamakan kedudukan.
“Kalau saya perhatikan di pertandingan sebelumnya, usai pemain SFC mencetak gol kegawang lawan, pemain langsung diintruksikan untuk bertahan, bukan memperbesar keunggulan. Makanya, pemain terus menyerang pertahanan, dan hasilnya mereka mampu mengimbangi,” tuturnya. (dek)











