IGABA Kota Palembang menjadi saksi awal perubahan besar dalam pendidikan anak usia dini. Melalui pelatihan yang memadukan pendekatan deep learning dan pemanfaatan artificial intelligence, guru PAUD diajak untuk memujudkan Visi Indonesia 2045 dengan membentuk generasi emas yang unggul, berkualitas, dan berkarakter sejak usia dini.
TIM dosen dan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat, skema Pembedayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Kegiatan ini mengusung tema ‘Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran Mendalam pada PAUD di IGABA Kota Palembang untuk Mendukung SDG 4 dan 17’ yang selaras dengan komitmen dunia pendidikan untuk peningkatan mutu pembelajaran berkualitas dan tercapaianya tujuan mitra.
Tim pelaksana dari Universitas Sriwijaya terdiri atas Taruni Suningsih, MPd, Yoppy Sazaki, SSi, MT, dan Dian Sri Andriani, SPd, MSc bersama mahasiswa PG-PAUD Syarifah Aliyah Herdady dan Triyanti Hasmita Sari.
Hadir dalam kegiatan ini Ketua IGABA Provinsi Sumatera Selatan, Dra. Hj. Mardiya, yang menegaskan bahwa pembelajaran mendalam merupakan strategi penting untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan kolaborasi, dan pembentukan karakter anak sejak usia dini.
Taruni menekankan bahwa pembelajaran mendalam pada PAUD adalah pendekatan holistik yang memadukan olah pikir, rasa, hati, dan raga.
Tujuannya adalah menstimulasikan kemampuan, keterampilan, dan kompetensi baik kognitif, afektif, hingga psikomotorik anak secara seimbang, termasuk penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kreativitas (kesadaran spiritual).
Anak tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikan dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata melalui pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pembelajaran mendalam semakin relevan karena mampu mengimbangi pengaruh teknologi terhadap kemampuan anak usia dini.
Data penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa anak usia 1–6 tahun memiliki waktu paparan gawai rata-rata sekitar 2,04 jam per hari sebelum pandemi, dan meningkat menjadi 3,06 jam per hari selama pandemi Covid-19 (Sumber: Journal of Public Health Research, 2023).
Sementara itu, standar WHO merekomendasikan agar anak usia prasekolah (0–5 tahun) tidak melebihi 1 jam waktu layar per hari dengan tetap memenuhi kebutuhan aktivitas fisik dan tidur yang memadai.
Survei global pun mengungkap, anak usia 2–4 tahun rata-rata menggunakan gawai selama 2 jam 8 menit per hari, sedangkan anak usia 5–8 tahun mencapai 3,5 jam per hari (OECD, 2024).
Fakta ini menegaskan perlunya pembelajaran mendalam yang mengintegrasikan teknologi secara bijak, karena tanpa bimbingan tepat, paparan gawai dapat mengganggu pola pikir kritis, interaksi sosial langsung, dan peluang bermain yang memicu kreativitas.

Inilah mengapa Tim Pelaksana Unsri memadukan pembelajaran mendalam dengan pemanfaatan Artificial Intelligence.
Teknologi digunakan bukan untuk menggantikan sentuhan manusiawi guru, tetapi sebagai mitra yang memperluas referensi, memperkaya ide, dan mempersonalisasi pengalaman belajar.
Guru dapat menggunakan AI untuk membuat menyusun perangkat pembelajaran berupa modul ajar adaptif, media pembelajaran interaktif, lembar kerja kreatif, serta asesmen penilaian anak yang autentik—semuanya disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan unik setiap anak, ucap Yoppy.
Ungkap Dian, kegiatan ini mengajak guru untuk mengubah paradigma: tidak lagi terjebak pada hasil akhir atau pencapaian akademik (nilai), melainkan menekankan proses pengalaman belajar kontekstual.
Anak-anak diberi ruang untuk bertanya, bereksperimen, dan menemukan jawaban mereka sendiri melalui pengalaman langsung.
Guru menjadi fasilitator yang membimbing perjalanan belajar anak, memastikan bahwa proses tersebut menyenangkan sekaligus menantang.
Dengan memadukan pembelajaran mendalam dan teknologi artificial intelligence, akan membantu guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang tidak hanya inovatif dan efisien, melainkan juga selaras dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang mendorong keterlibatan aktif, berpikir kritis, dan pemahaman bermakna pada anak.
Inventasi terbesar bangsa adalah pada generasi anak usia dini. Jika fondasi ini kuat, masa depan Indonesia akan diisi oleh individu yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berempati, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Tim Pelaksana Unsri mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun Anggaran 2025 Sesuai dengan Kontrak Pengabdian Nomor 105/C3/DT.05.00/PM/2025 yang telah mendanai kegiatan ini.
(**)











