TURKI dikenal sebagai negara yang sangat mencintai kucing. Keberadaan kucing liar di jalanan Istanbul dan kota-kota lainnya bukanlah hal yang aneh, mereka justru dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Beberapa kucing bahkan menjadi terkenal karena keunikan mereka, kisah hidup yang menyentuh, atau hubungan istimewa dengan manusia.
Beberapa kucing populer di Turki misalkan seperti Gli, Yeşim, dan Tombili. Ada pula fenomena kucing unik seperti Midas, yang memiliki mutasi genetik langka. Kucing-kucing ini kemudian berkembang menjadi simbol budaya, lalu bagaimana dampak media sosial terhadap popularitas mereka dan bagaimana masyarakat Turki menghormati hewan-hewan ini?
Hubungan antara masyarakat Turki dan kucing telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Salah satu buktinya adalah Gli, kucing yang tinggal di Hagia Sophia selama 16 tahun. Gli bukan sekadar kucing biasa—ia menjadi simbol hidup dari bangunan ikonik yang telah berfungsi sebagai gereja, masjid, dan museum.
Kehadirannya menarik perhatian wisatawan, termasuk mantan Presiden AS Barack Obama, yang mengelusnya saat berkunjung pada 2009 (BBC, 2020). Ketika Gli meninggal pada 2020, pemerintah Turki mengadakan upacara pemakaman khusus untuknya, dan abunya disimpan di dalam kompleks Hagia Sophia sebagai bentuk penghormatan (The Guardian, 2020). Ini menunjukkan betapa kucing di Turki tidak hanya dianggap sebagai hewan peliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya.
Penelitian oleh Gül (2018) dalam Journal of Turkish Studies menjelaskan bahwa kucing telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Turki sejak era Ottoman. Mereka dihargai karena kemampuannya mengendalikan hama sekaligus dianggap membawa keberkahan. Bahkan, ada kepercayaan bahwa kucing adalah makhluk suci dalam Islam karena kisah Hazreti Muezza, kucing kesayangan Nabi Muhammad, yang konon berasal dari ras Angora Turki (Smithsonian Magazine, 2017).
Selain Gli, ada pula Tombili, kucing jalanan dari Istanbul yang menjadi viral karena pose santainya di trotoar. Foto Tombili yang sedang bersandar dengan satu kaki terlipat menjadi meme internasional dan simbol ketenangan hidup di tengah hiruk-pikuk kota. Ketika Tombili meninggal pada 2016, warga setempat meminta pemerintah kota membuat patung untuk mengenangnya.
Patung tersebut sempat dicuri, protes masyarakat dan perhatian internasional, termasuk dari Kedutaan Rusia yang memaksa pencuri mengembalikannya (Hürriyet Daily News, 2016). Kisah Tombili menunjukkan bagaimana kucing di Turki tidak hanya dicintai, tetapi juga dianggap sebagai bagian dari identitas kota.
Fenomena Viral Media Sosial
Di era digital, media sosial memainkan peran besar dalam membuat kucing-kucing Turki terkenal di seluruh dunia. Salah satu contoh terbaik adalah Yeşim, kucing yang menjadi viral karena kebiasaannya meminta daging di sebuah toko daging di Manisa. Video Yeşim yang berdiri di depan etalase seperti pelanggan manusia mendapatkan lebih dari 3 miliar views di berbagai platform (Daily Sabah, 2019).
Pemilik toko, Ikram Korkmazer, mengatakan bahwa Yeşim memiliki ikatan emosional yang kuat dengannya. “Dia seperti mengerti perkataanku dan merespons seperti manusia,” ujarnya (Reuters, 2018). Sayangnya, Yeşim meninggal karena infeksi pada 2018, tetapi kisahnya terus hidup melalui gerakan berbagi makanan untuk kucing liar yang dilakukan oleh Korkmazer. Fenomena ini sejalan dengan penelitian oleh Aydın & Karakaya (2020) dalam Journal of Social Media Studies, yang menemukan bahwa konten tentang kucing sering kali menjadi viral karena sifatnya yang menghibur dan emosional, sehingga mudah menyebar di berbagai platform.











