Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mewujudkan Generasi Emas 2045. Ini adalah sebuah visi untuk menciptakan generasi muda Indonesia yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu membawa bangsa menuju kemajuan pada 2045. Untuk mencapai visi tersebut, pemerintah pun mesti serius dalam mempersiapkan kualitas sumber daya generasi, yang salah satunya melalui pembangunan literasi, mulai dari tingkat nasional hingga tingkat daerah.
Isu tentang pentingnya pembangunan literasi sebenarnya bukan hal baru. Bahkan lembaga internasional seperti World Economic Forum pada 2015 dan 2016 telah mengingatkan bahwa agar generasi siap menghadapi tantangan abad 21 mesti dibekali kemampuan literasi. Jika mengacu pada definisi yang dikeluarkan oleh National Institute for Literacy, literasi diartikan sebagai kemampuan untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
Berbicara tentang pembangunan literasi di Indonesia saat ini, data-data yang ada cenderung menunjukkan kondisi yang belum menggembirakan. Berdasarkan skor PISA (Program for International Student Assesment) Tahun 2022 yang dikeluarkan OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), Indonesia berada di posisi ke-69 dari 81 negara yang disurvei. Siswa Indonesia pun masih meraih nilai rata-rata kemampuan numerasi dan literasi di bawah rata-rata OECD.
Di tengah kehidupan global, tingkat kegemaran membaca buku Indonesia rata-rata 5,91 buku dan 129 jam per tahun, atau berada di urutan ke-31 dari 102 negara yang disurvei. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat berada di peringkat ke-1 dengan 17 buku dan 357 jam per tahun (CEO World Magazine, 2024).
Data kegemaran membaca tersebut sedikit lebih baik dari hasil survei tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia yang dilakukan Perpustakaan Nasional 2024. Dari hasil survei ini diketahui tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia 72.44, dengan frekuensi membaca 5, durasi membaca 100, jumlah buku 3, frekuensi akses internet 5, dan durasi akses internet 100.
Kondisi literasi yang belum menggembirakan juga terlihat dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional 2024. IPLM Indonesia baru sebesar 73.52 atau berkategori sedang, dengan pemerataan layanan perpustakaan 0,45% dan ketercukupan koleksi perpustakaan 0,37%.
Indeks Pembangunan Literasi di Sumatera Selatan
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) adalah ukuran yang digunakan untuk menilai tingkat literasi masyarakat di suatu wilayah, yang berfokus pada peran perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat. Indikator penilaian IPLM meliputi pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi perpustakaan, rasio ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat per hari, perpustakaan yang dibina sesuai standar nasional perpustkaan/SNP, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosialisasi perpustakaan, dan jumlah anggota perpustakaan.
Skala IPLM terdiri atas kategori sangat rendah (0-29,9), rendah (30-49,9), sedang (50-79,9), tinggi (80-89,9), dan sangat tinggi (90-100).
Dalam konteks pembangunan, IPLM berguna untuk mengukur upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan perpustakaan bagi peningkatan budaya literasi masyarakat. Dengan mengulik IPLM di Sumatera Selatan, kita pun bisa mendapat gambaran bagaimana upaya atau capaian pemerintah daerah dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat di daerah ini.
Skor IPLM Provinsi Sumatera Selatan 2024 adalah 72,24 atau berkategori sedang, dan masih berada di bawah rata-rata IPLM Nasional (73,52). Secara nasional, IPLM Sumatera Selatan menempati urutan ke-16 dari 38 Provinsi. Sementara di tingkat regional Sumatera, IPLM Sumatera Selatan masuk 5 besar setelah Bangka Belitung (84,59), Sumatera Barat (82,47), Kepulauan Riau (74,24), dan Aceh (72,42).
Skor IPLM Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan 2024 lebih dominan masih berada di bawah rata-rata IPLM Provinsi dan Nasional. Hanya ada 5 kabupaten/kota yang di atas rata-rata yakni Pagar Alam (94,19), Musi Rawas (76,88), Lubuklinggau (75,80), Musi Banyuasin (74,71), dan Prabumulih (73,68). Adapun lima besar Kabupaten/Kota dengan IPLM terendah di Sumatera Selatan adalah OKU Selatan (29,27), OKU Timur (36,88), Ogan Komering Ulu (39,01), Ogan Komering Ilir (49,25), dan Ogan Ilir (51,98).
Tingkat Kegemaran Membaca di Sumatera Selatan
Membaca memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan kualitas hidup seseorang. Tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat adalah tingkat perilaku atau kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi dari berbagai bentuk media yang dilakukan secara mandiri dalam jangka waktu tertentu. Indikator dalam penentuan TGM adalah frekuensi membaca per minggu, durasi/lama membaca per hari, jumlah buku yang dibaca per triwulan, frekuensi akses internet per hari, dan durasi akses internet per hari.
Skala tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat terdiri atas kategori sangat rendah (0-20), rendah (20,1-40), sedang (40,1-60), tinggi (60,1-80), dan sangat tinggi (80,1-100).
Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat, Perpustakaan Nasional 2024, diketahui TGM masyarakat Sumatera Selatan sebesar 69.62 (kategori tinggi). Jika dilihat dari unsur penyusunnya, skor TGM masyarakat Sumatera Selatan terdiri atas frekuensi membaca 3-4, durasi membaca 100, jumlah buku yang dibaca 3, frekuensi akses internet 5, dan durasi akses internet 100.
TGM masyarakat Sumatera Selatan 2024 ini masih berada di bawah TGM Nasional (72,44) dan menempati urutan ke-18 dari 38 Provinsi. Sementara di wilayah Pulau Sumatera, TGM masyarakat Sumatera Selatan berada di posisi ke-6 setelah Bangka Belitung (77,47), Kepulauan Riau (73,69), Sumatera Barat (73,3), Riau (70,26), dan Aceh (69,93).
Berdasarkan data Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan 2024 diketahui terdapat 5 kabupaten/kota dengan skor TGM tertinggi, sekaligus melebihi rata-rata TGM Provinsi dan Nasional. Kelima daerah itu yakni Empat Lawang (88,54), Palembang (79,36), Lubuklinggau (78,23), Ogan Ilir (75,71), dan OKU Selatan (73,95). Sedangkan 5 kabupaten/kota dengan skor terendah adalah Musi Rawas Utara (55,88), Banyuasin (58,11), Prabumulih (60.02), Muara Enim (61,24), dan OKU Timur (62,70).
Dari analisis data di atas, kita pun dapat menarik setidaknya tiga kesimpulan pokok terkait kondisi dunia literasi di Sumatera Selatan. Pertama, skor IPLM dan TGM Provinsi Sumatera Selatan 2024 masih berada di bawah rata-rata Nasional. Kedua, jumlah Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan yang memiliki IPLM dan TGM melebihi rata-rata Provinsi dan Nasional baru sekitar 29,4%. Ketiga, masih perlunya upaya serius pemerintah daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam peningkatan literasi dan kegemaran membaca masyarakat di Sumatera Selatan.
Dalam rangka peningkatan literasi dan kegemaran membaca masyarakat di Sumatera Selatan, penulis pun terpanggil untuk menyampaikan beberapa pokok pikiran terkait program aksi literasi sebagai berikut.
Pertama, pemerintah daerah harus memperkuat kebijakan terkait peningkatan kecakapan literasi masyarakat yang didukung dengan anggaran yang memadai. Pemerintah daerah mesti memaksimalkan berbagai gerakan literasi secara kolaboratif, terutama gerakan literasi desa, dengan membangun perpustakaan desa/Taman Bacaan Masyarakat (TBM), agar terjadi peningkatan akses dan kualitas literasi di daerah. Di sini, pemerintah daerah pun harus benar-benar menjalankan amanat Permendagri No. 18 Tahun 2020 bahwa dalam penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah di bidang Perpustakaan, IPLM termasuk dalam salah satu Indikator Kinerja Kunci (IKK).
Kedua, infrastruktur dan manajemen layanan perpustakaan harus bertransformasi sedemikian rupa agar perluasan aksesibilitas perpustakaan terjadi di berbagai wilayah. Berbagai isu seputar perlunya perpustakaan berbasis inklusi sosial, ketersediaan bahan bacaan bermutu, variasi bahan bacaan yang sesuai minat dan tren jaman, dan berbagai program pengembangan perpustakaan mesti disikapi dengan cepat dan profesional.
Ketiga, kegiatan-kegiatan literasi yang berpola kolaborasi dan melibatkan berbagai pihak perlu diintensifkan. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan yang melibatkan orang tua, pendidikan, dan lingkungan dalam even literasi. Kegiatan seperti ini sangatlah penting untuk mengenalkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah masyarakat.
Demikian, masih rendahnya kecakapan literasi di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan, tak ubahnya seperti “batu kerikil” yang berpotensi menjadi batu sandungan di tengah jalan menuju Generasi Emas 2045. Semua pihak pun didorong untuk turut berkontribusi dalam upaya peningkatan literasi generasi. Hanya dengan cara itu, calon-calon generasi emas itu bisa terselamatkan karena mampu mengembangkan potensi dan pengetahuannya, serta mampu berpartisipasi secara penuh di tengah masyarakat lokal, nasional, dan global.
*) Penulis adalah Ketua Yayasan Pandu Talenta Generasi











