Laporan : Candra Budiman
PALEMBANG, sumselupdate.com — Empat puluh delapan tahun memeluk agama Katolik, Darma Sianipar, mengaku mendapat hidayah sehingga dirinya mengucap dua kalimat syahadat dan memeluk agama islam.
Darma yang merupakan sosok aktivis Sumsel ini menyatakan kesediaannya memeluk agama islam langsung di hadapan ketua MUI Sumsel Prof. Aflatun Muchtar, serta di saksikan oleh ulama Sumsel KH Umar Said dan Habib Mahdi, serta Ketua ICMI Sumsel H Heri Amalindo, di masjid Cheng Ho Palembang, pada Minggu (16/4/2023).
Darma mengaku mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam sudah lama ia rasakan, namun ia masih melakukan perenungan panjang atas jalan yang ia pilih.
“Tentu ini merupakan sebuah pilihan sendiri atas pencarian jati diri akan sebuah kebenaran. Terus terang tiga bulan saya bermimpi kedatangan wujud bersinar terang, putih besar dan menyinari seluruh alam jagat raya. Ada lafaz Allah, dengan bacaan shalawat Nabi Muhammad SAW mengiringi,” ungkap Darma.
Diakuinya, bahwa mimpi itu terus dialaminya berulang kali. “Sejauh ini tiga kali saya sudah bermimpi hal itu, terus terang setelah bermimpi ada ketenangan batin yang terjadi pada diri saya, apalagi ketika mendengar salawat Nabi Muhammad SAW. Sejak itu pula saya tekadkan untuk masuk Islam,” terangnya.
Dalam perjalanannya untuk memeluk agama Islam, Darma juga sudah bermusyawarah dengan istri dan anak-anaknya. “Kendati mereka masih tetap kukuh dengan iman Katolik nya, tetapi mereka tidak mempermasalahkan saya untuk mengimani Islam,” tuturnya.
Sempat bingung bagaimana menjadi muslim dan menjadi pemeluk Islam, Darma pun mendatangi ICMI Sumsel dan bertemu dengan ketuanya H Heri Amalindo.
“Alhamdulillah tidak memakan waktu lama, untuk kebaikan mengapa tidak, kata ketua ICMI Sumsel. Sehingga saya pun daftar ke MUI Sumsel serta saat ini dapat mengucapkan dua kalimat syahadat,” jelasnya lagi.
Sementara itu, Prof Aflatun Muchtar berharap setelah menjadi muslim, Darma harus sering bersedekah, serta harus mampu menahan emosi dan menjadi orang yang pemaaf, dan jangan memelihara dendam, karena dendam itu sangat tidak baik.
“Maafkan jika ada yang berbuat salah dan itu dapat membersihkan hati kita maupun mereka. Tidak mengulangi perbuatan yang salah, apalagi yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama islam. Mudah-mudahan menjadi mukmin yang hakiki, karena menjadi mukmin yang hakiki ada ciri-cirinya,” tutupnya. (**)











