Lukisan Peri di Laut Gelap
Peri itu turun menjejak hampar tengah laut
Menggenggam kencangnya angin menderu deru
Mengibaskan anak-anak rambut gelapnya
Peri itu mencoba tersenyum sekali pun tahu pahit
Dadanya menahan dan memeluk gelombang
Menjaga dari sambaran petir menyala
Saat hujan datang menggila
Memantik bias cahaya sebuah ceritera
Bersama jemari dan sebuah kuas
Senyum itu melukis hitam di kaki langit
Sketsa gambar wajahku dari dunia lain
Ada di sana….
; Peri itu tertawa dalam ketidak-tahuanku
Membawa lagi semua damai yang ada
Dan aku percaya Tuhan membuatnya bahagia
Selat Sunda, November 2022
Benarkah?
Kepalaku berdenyut sangat keras
Pada pikir yang panjang tak berkesudahan
Hujan kecil datang berkisah air kehidupan
Cerita berkah untuk semua makhluk bumi
Namun sekarang menjadi persoalan
Bencanakah yang duduk manis di sana ?
Kepalaku berputar pada arah penjuru angin
Pada pikir yang panjang tak berkesudahan
Bah hadir berseragam sama
Tanah menari bergerak mengguncang jiwa
Tiang bumi berkepul-kepul asap
Terbatuk menggelar pasang di laut
Bencanakah yang datang dengan gembira ?
Kepalaku berpaling ke atas langit
Pada pikir yang sudah pasti
Bumi semakin renta
Ompong tak punya gigi
Dengan penghuni berlagak-lagak mengerti
Tidakkah aku menyadari ini ?
Perbatasan Bumi dan Langit, Nov 2022
Sepak Bola
Hanya sebelas bersebelas
Di tengah padang hijau buatan
Mencari celah menusuk rumah jala
Tersihir….
Disihir….
Dan menyihir….
Separuh lebih penduduk bumi
Aku ada di sana
Yang hanya bisa bermimpi
Negaraku selayak idola
Merah putih di tiang tinggi pertama
Diawang-awang, November 2022












