Palembang, Sumselupdate.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengungkapkan, penolakan ekspor kelapa Sumsel ke Thailand pada pertengahan November lalu tidak berpengaruh pada catatan ekspor komoditi kelapa Sumsel.
Hal itu dikatakan Endang usai menggelar rilis Berita Resmi Statistik (BRS) mengenai perkembangan ekspor impor Sumsel di Kantor BPS Sumsel, Senin (16/12/2019).
Dikatakan Endang, ekspor kelapa Sumsel pada November 2019 sebesar 3,23 persen, mengalami kenaikan US$ 0,72 juta dibanding ekspor pada Oktober 2019 yang tercatat sebesar 2,51 persen.
“Kalau dilihat, ekspor kelapa kita ternyata ngak berpengaruh. Karena ekspor masih naik di November ini, kita lihat trennya pun juga naik. Kalau kemarin ke Thailand ada sedikit masalah, tentu menjadi PR bagi OPD terkait untuk memperbaiki. Kalau mempengarui ya pasti akan turun drastis kan dan ini enggak,” jelas Endang.
Selain kelapa, perkembangan ekspor komoditi Sumsel lainnya yang cukup menggembirakan kata Endang adalah ekspor minyak kelapa sawit dan fraksinya. Jika Oktober ekspor minyak kelapa sawit sebesar 3,69 persen di November ekspor mengalami kenaikan menjadi 13,61 persen atau senilai US$ 9,93 juta.
Sementara itu secara keseluruhan nilai ekspor Provinsi Sumsel November 2019 sebesar US$ 326,30 juta yang terdiri dari ekspor migas sebesar US$24,48 juta dan US$301, 82 juta merupakan hasil ekspor komoditi non migas.
“Ya ekspor kita pada November turun sebesar 8,12 persen dibanding Oktober. Penurunan ini pemicu utamanya adalah perekonomian global. Karena beberapa komoditi yang berpotensi seperti bubur kayu/pulp kita turun itu artinya memang karena pengaruh ekonomi global. Kalau karet kan memang dari kemarin-kemarin karet kita dan dunia memang belum stabil,” tambah Endang.
Lebih lanjut Endang mengatakan untuk komoditas karet Sumsel dominasinya masih bagus sehingga ini harus menjadi catatan untuk perbaikan kualitas ke depan. Mengingat penyuplai karet dunia bukan hanya Indonesia tapi juga Thailand dan Malaysia.
Adapun lima komoditas ekspor dari Provinsi Sumsel yang terbesar pada bulan November 2019 adalah bubur kayu/pulp senilai US$ 97,02 juta, karet senilai US$ 83,86 juta, Batubara senilai US$ 74,04 juta, hasil minyak senilai US$ 24,48 juta serta kelapa sawit dan fraksinya senilai US$ 13,61 juta.
Untuk nilai impor Sumsel pada bulan November 2019 jelas Endang mengalami penurunan sebesar US$ 33,53 juta atau turun sebesar 19,88 persen jika dibandingkan Oktober 2019 yang sebesar US$ 41,84 juta. Sebagian besar impor ini berasal dari Tiongkok sebesar US$ 12,82 juta, Malaysia sebesar US$4,59 juta dan Swedia sebesar US$ 2,02 juta.
“Total perdagangan luar negeri Sumsel bulan November ini surplus kita sebesar US$ 292,77 juta. Dan ini sangat menggembirakan sekali. Tugas BPS kan hanya “memotret” tidak bisa memberikan rekomendasi tapi untuk referensi ya harus hilirisasi dan pelabuhan itu yang sangat dibutuhkan,” tegas Endang. (rel)











