Palembang, Sumselupdate.com – Banyak gagasan dan ide yang terangkum dalam Diskusi yang digagas Wartawan Milenial Sharing Club (WMSC) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan (Sumsel) dengan tema ‘Politisi Milenial: Apa yang akan Dibawa? di Roca Cafe and Resto, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Kamis (5/9/2019) malam
Pada intinya para nara sumber menyatakan bahwa anggota DPRD milenial harus mampu mengakses perkembangan tehnologi tanpa melupakan untuk menyerap aspirasi masyarakat.
Pada kesempatan awal diskusi anggota DPRD Provisi Sumsel terpilih Muchendi Ishak Mekki mengatakan, selama ini mengikuti berbagai organisasi baik kepemudaan, olahraga untuk mengasah kemampuan diri dan memahami sifat dan watak masyarakat.
“Saya duduk di dewan sudah dua kali, tapi yang penting sebagai politisi muda, dalam arti pemuda di usia 20-40 tahun menurut definisi pemuda, harus memiliki kemampuan mengakses perkembangan tehnologi. Di zaman revolusi 4.0 ini kita sebagai politisi muda harus bisa menjawab tantangan zaman ini,” ungkapnya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palembang Terpilih M Akbar Alfaro mengatakan, urgensi peran anak muda sangat dibutuhkan tidak hanya di dewan saja tapi di berbagai lini.
“Anak muda sangat strategis sekali, mengingat saat tahun 98 para anak muda turun untuk membantu perubahan pada saat massa orde baru,” kata
Ia juga mengatakan, peran anak muda identik dengan semangat bergebu, dan juga memiliki pemikiran yang sangat kritis.
“Bagi saya sebagai milenial banyak tantangan yang akan temui di dunia parlemen dengan politik praktis, hal inilah yang akan dihadapi para anak muda ini apakah kami mampu. Oleh karena itu tidak salahnya kami diberi kepercayaan. Saya meminta kepada media untuk mengawal kegiatan kami kedepannya,” tutur Akbar
Sedangkan Febi Anggi Pratama yang juga anggota DPRD Kota Palembang terpilih juga mengatakan, perlunya sinergitas dengan badan eksekutif terkait masalah rancangan.
“Fungsi DPRD itu bekerja sama dengan eksekutif membahas rancangan pada masyarakat, apa yang dibutuhkan dan aturan apa yg perlu dilakukan untuk menopangnya,” kata Febi
Tidak hanya itu dirinya juga memikirkan kaum milenial untuk menghadapi zaman 4.0 untuk memberikan kepada kaum milenial.
“Pembinaan pelatihan untuk membuat sumber daya yang berkualitas, di era 4.0 ini perlunya kecakapan terutama untuk para milenial. Kita akan melatih para milenial tidak hanya tingkat kota tetapi hingga mengakar, mulai dari kecamatan dan ke bawah. Kami hadir untuk memberikan pendampingan baik moril dan materil,” katanya.
Sementara itu, H Alfa Sujatmiko, anggota h Anggota DPRD Kota Prabumulih yang masih berusia 23 tahun mengungkapkan, secara organisasi dan berpolitik ia dibesarkan di keluarga PDIP. Ayahnya merupakan politisi PDIP di Kota Palembang yaitu HM Ali Sakban.
“Saya memulai beraktivitas di politik saat menjadi bendahara DPC PDIP Kecamatan Kumuning, lalu sebagai kemudian menjabat sebagai ketua Banteng Muda Indonesia kota Palembang,” ucap Alfa memperkenalkan diri saat diskusi.
Menurut dia, apa yang dibawa ke parlemen, sesuai dengan perintah partai yaitu menyerap aspirasi masyarakat, sesuai dengan tupoksi DPRD, yaitu legislasi, bugeting dan mengawasi.
“Saya dengan umur muda ini harus banyak belajar dari politisi senior, kemudian belajar dengan para wartawan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat. Tapi selama ini saya selama ini selalu turun ke masyarakat untuk menyerap aspirasi,” katanya.
Sedangkan pengamat politik, Andika Pranata Jaya, mengatakan, gagasan parlemen modern mengemuka sejak deklarasi Open Parlemen di Roma tahun 2012.
Hal ini menumbuhkan harapan publik bahwa ke depan lembaga yang merupakan salah satu dari pilar demokrasi ini akan mendorong semangat dan praktik keterbukaan.
Maka proyeksi ke depan DPR/DPRD akan menjadi lembaga yang memiliki kultur transparan dan menggunakan teknologi komunikasi untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi, sejalan dengan semangat UU Nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
“Menuju parlemen modern bisa dimulai dengan beberapa langkah, enjalankan prinsip transparansi, dengan membuka akses informasi seluas-luasnya kepada masyarakat melalui sarana laman website. Kedua, menggunakan teknologi informasi,” katanya.
“Artinya kinerja DPRD akan beralih dari manual ke digital. Ketiga, menekankan representasi rakyat, dengan memperkuat daerah pemilihan dan rumah aspirasi yang dapat digunakan untuk menghimpun masukan bagi DPRD Dan ke empat, melakukan penguatan legislasi dengan membangun law center yang merupakan supporting system Badan Legislasi DPRD. Mengoptimalkan penggunaan media sosial. Hal itu penting agar apa yang dilakukan dapat diketahui publik dan pelayanan kepada publik semakin optimal. Karena disukai atau tidak, zaman kini telah berubah dan semua menuntut perubahan untuk mendisrupsi dirinya atau lembaga,” papar Andika Pranata Jaya.
Vindo Faisal Anugrah, anggota DPRD OKU Timur dari Fraksi PKB mengatakan gagasan dari para milenial adalah hal yang sangat dibutuhkan.
“Bila ada penyelewangan proyek kita perlu awasi, juga perlunya pengawasan bersama baik dari LSM serta rekan media dan tidak cukup dengan satu anggota dewan saja tapi perlu didiskusikan dengan yang lain,” tutupnya.
Hal sama dikatakan Azhari Haris dari PAN. Menurut dia, politisi milenial harus mengetahui bahwa anak muda itu yang cendrung lebih idealis, harus lebih ketat dalam mengontrol budget terhadap pembangunan, dan jangan tidak sesuai dengan hasilnya.
“Saya harap hadirnya para politisi milenial akan memperkuat parlemen dalam memperjuangan aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Ditambahkan Sudirman calon terpilih DPRD Kota Palembang yang juga dari Fraksi PAN untuk menaungi para rekan wartawan baiknya ada media canter yang terkodinir hingga bisa memproteksi teman–teman media.
Hal itu dirasa perlu karena media merupakan penyambung lidah dewan untuk menyampaikan program dewan.
“Kita pasti sangat terbantu sekali dengan rekan wartawan, sehingga kita bisa menyampaikan program kita kepada masyarakat dan dapat dicontrol juga,” ungkap Sudirman. (syd)











