Baturaja, Sumselupdate.com – Pembangunan pabrik Baturaja II PT Semen Baturaja (Persero) telah rampung dikerjakan, Direktur Utama PTSB Rahmad Pribadi menyatakan pabrik Baturaja II itu telah dinyatakan komersil pada September 2017 yang lalu dan telah memberikan tambahan kapasitas produksi
“Produksi sebesar 1,85 juta ton sehingga total kapasitas produksi Semen Baturaja yang ada saat ini mencapai 3,85 juta ton semen. Pabrik Baturaja II ini akan menjadi pabrik semen dengan masa pembangunan paling cepat di Indonesia, yaitu dengan kurun waktu pengerjaan selama 26 bulan,” kata Dirut PTSB Rahmad di sela acara hari jadi PTSB ke-43.
Menurut Rahmad Pribadi, kehadiran Pabrik Baturaja II menjadi pembeda SMBR dibanding pemain besar lain, karena dengan keunggulan teknologi pabrik baru, SMBR bisa maintain COGS/ton sehingga laba kotor masih bertahan sebesar Rp.331,6 miliar, relatif sama seperti tahun lalu dan jauh lebih baik dari kinerja laba kotor industri yang mengalami koreksi sebesar 21 persen.
“Harga jual/ton semen masih terjaga, hanya turun 1 persen dibanding industri yang turun 8-10 persen,” sambung Rahmad.
Dikatakannya, hingga kuartal tiga tahun ini, semen Baturaja menjadi perusahaan semen yang membukukan kinerja paling baik di industri semen. SMBR membukukan pendapatan sebesar Rp.999,6 miliar selama 9M17, turun 4,2% dibanding tahun lalu.
“Pendapatan SMBR selama 9M17 memang turun menjadi Rp.999,6 miliar karena selama bulan Juli-Agustus terdapat semen dari Pabrik Baturaja II yang dijual dan tidak bisa diakui sebagai revenue karena masih dalam status trial dan menjadi negative cost Pabrik Baturaja II, namun per 1 September 2017 Pabrik Baturaja II sudah komersil dan penjualannya mulai dibukukan sebagai revenue. Jika diakumulasi, seharusnya pendapatan kami di 9M17 masih naik sekitar 2,75 persen yoy dan masih lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan industri yang hanya 1,5 persen,” kata Rahmad.
Lebih jauh diungkapkanya, PTSB atau SMBR membukukan penjualan semen di bulan September sebesar 180.015 ton atau tumbuh 11 persen sedangkan secara kumulatif, penjualan semen SMBR sampai dengan September sebesar 1.165.116 ton atau tumbuh sebesar 4 persen dbanding tahun lalu. Kenaikan volume penjualan menjaga profitabilitas SMBR yang masih relatif stabil.
Menurut Rahmad, posisi strategis SMBR sebagai satunya produsen semen yang memiliki pabrik di Sumatera Bagian Selatan disebut sebagai keunggulan kompetitif dibanding pemain lain.
“Being Small menjadi keuntungan dan merupakan keunggulan dari SMBR yang fokus pada ceruk pasar di wilayah sumbagsel (Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dan Bengkulu) yang intensitas persaingannya masih lebih rendah dibandingkan di pulau Jawa,” tukas Rahmad. (Wid)











