Potret Pemilih Jelang Pilkada Palembang 2018

Minggu, 5 November 2017
Fatkurohman, Analis Sosio Politik dan Opini Publik Suara Institute

Hasil Survei yang dilakukan Rumah Citra Indonesia (RCI)  per Juli 2017 menggambarkan 51 persen pemilih sangat cair dan bisa berubah pilihannya terhadap kandidat jelang pilkada yang dikenal dengan pemilih non militan.  Sementara pemilih militan di Kota Palembang hanya sekitar 49 persen yang tersebar diseluruh kandidat jika disimulasikan tiga kandidat yakni Harnojoyo,  Sarimuda dan Mularis Djahri.

Tingginya pemilih non militan ini perlu menjadi catatan bagi seluruh kandidat dan menjadi peluang bagi calon alternatif dengan syarat gerakkannya minimal harus menyamai dengan para pemain lama. Lalu siapa pemilih non militan ini? Ada beberapa gambaran dalam survei RCI yang saya pelajari.

Read More

Pertama,  pemilih religius. Sebagai kota yang dikenal dengan religious, sebetulnya pemilih religius ini menginginkan adanya kandidat yang mereprestasikan kalangan mereka seperti ulama dan tokoh organisasi Islam semisal.

Hal ini terlihat dalam survey jika ada kandidat ini, yang tertarik untuk memilih sekitar 32 persen baik sebagai cawako atau cawawako Palembang, yang mungkin sebelumnya pemilih tersebut telah memilih kandidat lain.  Kemana arah mereka jika tidak ada kandidat dari kalangan pemilih ini? Sementara kandidat yang muncul saat ini lebih banyak representasi kalangan nasionalis.

Kedua,  generasi millenial,  yakni pemilih Palembang dari kalangan anak muda usia 17 – 29 tahun. Generasi milenial ini lebih melek teknologi dan informasi, serta dalam masa pencarian jati diri dan posisi di tengah kehidupan.

Kehadiran Lury Elza Alex beberapa waktu lalu sempat membuat harapan bagi pemilih ini. Praktisi Survey LKPI, Arianto, mengakui dalam survei beberapa bulan terakhir, kehadiran Lury Elza menarik magnet pemilih milenial paling tinggi. Ini melihat berbagai aksi sosialisasi yang memang menarik pemilih pemula dengan memanfaatkan teknologi informasi sosial media.

Selain itu, ada Hernoe Roesprijadji yang juga mampu menarik magnet anak muda dengan relawan anak mudanya yang begitu massif. Termasuk Harnojoyo, juga menjadi magnet dengan programnya terutama dalam hal ini pedestrian.

Pemilih ini cenderung tertarik dengan hal-hal baru yang unik sehingga kemungkinan merubah pilihan tinggi tergantung dari isu yang menarik bagi mereka. Sebagian lagi akan lebih suka ketertarikan akan isu lapangan kerja dan wirausaha muda, terutama bagi lulusan perguruan tinggi.

Ketiga,  pemilih rasional. Pemilih rasional ini akan sangat mudah berubah pilihan jika kandidat tersebut tidak menghadirkan hal-hal yang konkret dan rasional. Mereka mengacu pada program dan gagasan yang ditawarkan kandidat. Mereka berasal dari kalangan menengah ke atas dan pendapatan di atas rata-rata. Jumlahnya berkisar 20 – 30 persen pemilih di Palembang.

Pemilih ini akan cenderung menentukan pilihan pada menit-menit akhir jelang pemungutan suara dan sering menentukan kemenangan kandidat jika kandidat bersaing ketat. Untuk membidiknya kandidat harus mempu merasionalkan programnya kepada pemilih ini.

Keempat,  pemilih oportunis. Pemilih oportunis ini pemilih yang didasarkan pada kepentingan materi atau politik uang (money politik/lokak duit). Jika mengacu pada reverensi riset 2013 bervariasi tapi bisa mencapai 15 persen pemilih oportunis. Pemilih berada dikelompok-kelompok masyarakat miskin dan pinggiran kota.  Ada istilah, “makin besak, makin dipilih kandidat tersebut”.

Artinya,  siapa yang bakal unggul di pilkada Palembang? Tentunya mereka yang mampu menundukan keempat jenis pemilih ini untuk mendulang suaranya. ***

*) Penulis adalah analis sosio politik dan opini publik di Suara Institute

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts