Martapura, Sumselupdate.com – Produksi Padi yang terus mengalami peningkatan, masih menyisakan pekerjaan rumah bagi pemerintah kabupaten OKU Timur, khususnya Bulog Sub Drive III OKU untuk menyediakan gudang baru. Agar hasil panen petani tidak sampai keluar dari OKU Timur dan mencegah terjadinya penurunan harga jual pada saat panen raya.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Perpadi OKU Timur H Faisal Habibur, saat berdiskusi bersama di Auditorium Radio BKM FM Martapura, Kamis (23/2/2017).
Perbincangan seputar masalah pertanian, perberasan, pergudangan dan pupuk ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian OKU Timur Ir Ruzuan Efendi, Ketua KTNA OKUT Muhtadi dan Perwakilan dari Perum Bulog Sub Drive III OKU Arif Alhadi Haq.
“Kita duduk bersama untuk membahas dan mencari solusi terkait pertanian, termasuk kesiapan kita dalam peningkatan hasil produksi beras dan juga pergudangan,” jelas Faisal selepas acara.
Faisal menambahkan, hasil produksi beras OKUT yang belum terserap maksimal oleh Bulog diharapkan dapat menjadi salah satu fokus perhatian untuk segera dicarikan solusinya.
“Dari 1,8 juta ton beras di tahun 2016, Bulog baru mampu menyerap 28 ribu ton beras, artinya baru 2,8 persen saja, sisanya kemana-mana, dikhawatirkan pada saat panen raya, harga anjlok dan merugikan petani, termasuk pengusaha penggilingan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian selaku instansi terkait menjelaskan, siap mendukung dan memfasilitasi lahan untuk pendirian gudang baru.
“Pemerintah akan menyiapkan lahan seluas 2 hektar bila nanti pihak Bulog memerlukan lahan untuk pembangunan gudang. Selain itu pemerintah juga memaksimalkan gudang disetiap desa yang ada,” terang Ruzuan.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan Bulog Arif menerangkan, saat ini kapasitas gudang Bulog baru bisa menampung beras dengan kapasitas 15 ribu ton dari total 4 gudang yang ada di OKU Timur.
“Untuk stok yang sudah ada saat ini sebanyak 11 ribu ton, yang akan dialokasikan ke raskin.
Kendala kita dalam penyerapan, stok gudang penuh ketika panen, menunggu stok disalurkan ke raskin atau permintaan dari gudang wilayah lain.
Ditambahkan Arif, sebenarnya bisa saja gudang wilayah lain menyerap produksi beras di OKUT, namun belum dilakukan karena terkendala biaya angkut. (Yul)











