Jalan Rusak, Warga Sembatu Jaya Terisolir

Minggu, 17 April 2016
Ruas jalan menuju perbatasan antara Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu Cecar dengan Desa Mangan Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Mura, rusak parah, Minggu (17/4).

Muarabeliti, Sumselupdate.com –Akses jalan menuju perbatasan antara Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu Cecar dengan Desa Mangan Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Mura, rusak parah, bahkan satu-satunya jalan penghubung ini bak kubangan kerbau.

Pantauan Sumselupdate.com di lapangan Minggu (17/4), jalan sepanjang 2km kondisinya sangat parah, bahkan kendaraan roda dua pun susah untuk melintas, apa lagi kendaraan roda empat tidak bisa melintas sama sekali.

Read More

Hal ini diperparah keadaan jalan yang tidak punya drainase membuat air dan lumpur mengenang di tengah jala, alhasil kondisi jalan sangat mirip dengan kubangan kerbau.

Selain itu, jalan yang menghubungkan Desa Sembatu Jaya, dan Desa Mangan Jaya ini merupakan akses satu-satunya yang selalu digunakan warga untuk keluar masuk desa, bahkan untuk saat ini warga Desa Sembatu Jaya mengalami keterisoliran.

“Kalo nak belanjo dari Linggau, teros naek ojek dari Mangan Jaya ke SP 1 (Sembatu Jaya), itu bayar. Sekali bejalan bayar Rp30 ribu. Kalau ke Linggau dari Mangan Jaya hanya Rp25 ribu,” kata Jasmin (28), warga Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu Cecar, Kabupaten Mura.

Menurutnya, tidak ada alternatif akses jalan lain selain melintasi akses jalan yang rusak itu. Kalaupun ada, justru lebih parah lagi yakni dari Desa Sembatu Jaya ke Kecamatan BTS Ulu Cecar. Sebab jalan yang rusak lebih parah, apalagi jika turun hujan jalan becek karena berupa tanah liat berwarna merah.

“Jadi kalo nak balek (Sembatu Jayaa), motor ditarok dirumah Wawak (Uwak). Teris nitip, aku minta jemput. Kalu dak dijemput, naek ojek. Kalo naek sekitar setengah jam kerumah, bahkan sejam kalau hujan turun,” ungkapnya.

Sama halnya diungkapkan Abdulah (23), warga Desa Sembatu Jaya yang kesehariannya berprofesi petani karet sekaligus pembeli karet. Ia harus mengeluarkan biaya tambahan. Soalnya harus dua kali mengeluarkan biaya untuk mengangkut getah karet dari petani.

“Jadi kalo nak dijual, karet dari petani dibawak pakek ojek. Itu bayar. Teros mobil dirumah warga di Desa Mangan Jaya. Nah mobil itu nyewo, bayar lagi. Jadi duo kali bayar,” ungkapnya.

Abdullah menjelaskan, lima bulan yang lalu akses jalan masih bisa dilalui menggunakan mobil double gardan. Tapi kalau sekarang sudah parah, kalaupun dilalui atau dipaksanakan, khawatir mobil terpuruk atau terjebak dalam lumpur jalan.

“Kalo sebelum rusak parah, masih biso lewat. Semenjak hujan, dak biso lewat lagi sejak 4 bulan terakhir,” kata dia.

Untuk itu dirinya berharap, kepada pemerintah agar akses jalan tersebut segera dibangun, karena roda perekonomian mereka lumpuh total sejak jalan tersebut rusak parah.
“Harapannyo cuma satu jalan bangus, supaya jual karet mudah, dan kemano-kemano bisa lebih cepat,” tandasnya.(ain)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts